HAID, NIFAAS DAN ISTIKHADHOH
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi: Tugas
Mata Kuliah: FIQIH
DosenPengampu: Saifudin Zuhri

Disusun Oleh:
Ma’rifatun (133311009)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
Berbicara tentang darah yang ada ditubuh wanita, kita akan banyak membahas
tentang darah, diantaranya darah bersih
dan darah kotor. Darah yang biasa keluar dari vagina perempuan ada 3 macam yaitu:
haidl, nifas, dan istihadloh. Masalah ini sangat penting dimengerti oleh semua wanita,
laki-laki yang sudah beristri, juga para mu’alim, para da’I dan kita semua.Sebab,
masalah ini sangat erat hubungannya dengan ibadah fardlu ‘ain, seperti: sholat dan
puasa, dan semua wanita melakukannya. Seharusnya wanita yang berumur 9 tahun sudah
mengerti tentang hal ini atau suaminya.Sebab umur 9 tahun wanita
mungkin sudah mengalami haidl dan
kenyataannya anak-anak yang baru tamat MI atau SD sudah banyak yang haidl atau istihadloh.
Padahal masih banyak orang yang sudah dewasa (suami, istri) yang sama sekali belum
mengerti masalah ini, bahkan masih banyak yang belum mengerti cara-cara mandi besar
yang benar, sholat, dan puasa yang wajib di qodloi. Ada yang sudah belajar namun
masih banyak yang salah. Hal ini sangat membutuhkan perhatian kita semua!
Lebih-lebih akhir ini banyak sekali wanita yang haidl nya tidak teratur.Oleh karena
itu pemakalah mengangkat tema ini untuk menggugurkan kewajiban dan agar dapat membantu
kebutuhan muslimin dan muslimat yang sangat mendesak ini. Sekalipun pemakalah sendiri
masih sangat kurang.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian
haid dan waktunya?
B.
Apa pengertian
nifas dan waktunya?
C.
Apa larangan bagi wanita haidh dan nifas?
D.
Apa hukum
mempelajari tentang haid, nifas dan
istihadloh?
E.
Apa pengertian
dan bagaimana cara ibadah bagi wanita istihadloh?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian haid dan waktunya
1.
Pengertian darah
haid
Pengertian haid
secara harfiah berasal dari kata حاض – يحيض -
حيضا))
yang artinya mengalir, dan secara istilah haid adalah darah yang keluar dari
Rahim wanita yang sudah mencapai umur 9 tahun hijriyah kurang sedikit, tidak di karenakan
penyakit atau sebab setelah melahirkan .Dan yang di maksud kurang sedikit umur 9 tahun hijriyah kurang
tidak genap 16 hari 16 malam.
Jadi kalau mengeluarkan darah sudah termasuk haidl.[1]Apabila
darah tersebut memenuhi 3 syarat bagi darah haidl, yakni:
a.
Tidak kurang
24 jam/1 hari 1 malam
b.
Tidak lebih
dari 15 hari
c.
Bertempat pada
waktu mungkin/bisa haidl
Contoh:
Pada umur 9 tahun kurang 20 hari
mengeluarkan darah selama sepuluh hari, maka 8 hari lebih sedikit awal itu istihadloh, kemudian 6 hari
kurang sedikit yang akhir
itu darah haid.
Secara klinis haidl
adalah merupakan hasil kerja sama yang sangat komplek antara otak, indung
telur (ovarium) dan Rahim (endoterium). Menstruasi merupakan pelepasan lapisan
endomentrium.[2]
2)
Waktunya Haidl
a.
Masa keluarnya darah haidl
Darah haid itu keluar paling sedikit
satu hari satu malam, yakni 24 jam
falakiyyah (istiwa’) baik 24 jam itu secara
terus menerus ataupun putus-putus. Jadi 24 jam itu boleh tidak keluar mulai awal sampai
24 jam , tetapi kumpulan dari darah yang terputus
putus dalam beberapa hari, asal tidak lebih 15 hari 15 malam. Kalau darah itu
ada 24 jam tetapi melampui 15 hari 15
malam, maka sebagian dari darah itu dihukumi darah istikhadloh. Paling lamanya
adalah 15 hari 15 malam. Sedangkan umumnya adalah 6 atau 7 hari.[3]
Warna darah haid tidak harus merah, dan
darah warna merah juga belum disebut darah haidl. Karena menghukumi darah itu
disebut darah haidl, terdapat syarat-syarat yang harus diperhatikan. Dalam memahami darah haidh harus memahami warna,
sifat dan waktu lamanya mengeluarkan darah haidl.
Warna darah haidl ada 5 macam:
1)
Hitam(warna
ini paling kuat)
2)
Merah
3)
Abu-abu (antara merah dan kuning)
4)
Kuning
5)
Keruh (antara kuning dan putih)
Maka kalau ada cairan keluar dari farji
tetapi warnanya bukan salah satu dari warna yang 5 tersebut, seperti cairan
putih yang keluar sebelum dan sesudah haidl, atau ketika sakit keputihan maka
jelas ini bukan haidl tetapi sama dengan kencing, oleh karena itu jika keluar
terus menerus maka tetap diwajibkan sholat, dengan cara yang telah ditentukan
dalam masalah istihadloh.
Sedangkan sifat sifat darah(selain warna)ada 4 macam:
1.
Kental
2.
Berbau
3.
Kental
sekaligus berbahu
4.
Tidak kental
dan tidak berbahu
Darah yang hitam sekaligus kental
adalah lebih kuat dibandingkan darah hitam yang tak kental, Darah hitam yang
berbau adalah darah lebih kuat dibanding darah hitam yang tak berbau. Darah
kental yang berbau itu lebih kuat dari darah kental yang tak berbau.
Kalau darah yang keluar ada dua macam
dan sama kuatnya seperti darah hitam encer dan merah kental,maka darah yang
lebih dulu keluar adalah yang lebih kuat.[4]
b.
Masa suci
diantara 2 haidl
Masa suci diantara dua haidl itu paling
sedikit 15 hari,jika tidak keluar darah dan sudah mencapai 15 hari, lalu
keluar lagi, jelas ini merupakan darah
haidl, apabila memenuhi syarat syarat darah haidl tersebut diatas,walaupun
belum tiba tanggal kebiasaanya.Umumnya masa suci itu 23 atau 24 hari, batas
maksimal (paling lama) tidak terbatas.
Contoh:
Mengeluarkan darah pada tanggal 1 sampai 7,setelah itu suci
dan pada tanggal 30 keluar lagi sampai tanggal 7 dan suci, tanggal 22 keluar
lagi sampai tanggal 25.
Tanggal :
1,...7….15……….30….7………22…..25
Drah keluar : (Haidl),,,,,,,,,,,,,,,,,(haidl),,,,,,,,,(haidl)
B.
Pengertian
Nifas dan Waktunya
1.
Pengertian
nifas
Nifas adalah darah yang kdeluar dari
Rahim wanita setelah melahirkan, walaupun anak
yang dilahirkan belum berwujud manusia atau masih berupa alaqah (darah kental) atau (segumpal daging).[5]
Darah yang keluar setelah melahirkan
itu disebut darah nifas jika jarak antara
melahirkan dan keluar darah tidak melebihi 15 hari 15 malam.Jika
melebihi15 hari 15 malam,maqka darah yang keluar disebut darah haidl jika memenuhi syarat
syarat haidl.Jika tidak memenuhi darah haidl ,maka disebut darah fasad
atau istihadloh.
Jika setelah melahirkan tidak langsung mengeluarkan darah tetapi
bersih (naqo’) terlebih dahulu, lalu mengeluarkan darah , maka diperinci
sebagai berikut:
Kalau keluarnya darah tadi sebelum melebihi 15 hari maka
tetap termasuk darah nifas, lalu masa diantara melahirkan dan keluarnya darah
tersebut dihitung NIFAS (nifas ada dan laa hukman) artinya: sebanyak- banyak
nifas yang 60 hari itu dihitung mulai melahirkan ,meskipun tidak keluar darah,akan
tetapi sebelum keluarnya darah dihukumi suci.Tetapi kalau keluarnya darah
setelah melebihi 15 hari maka ini darah haidl kalau memenuhi syarat haidl.Jadi
tidak ada sama sekali nifas.[6]
2.
Masa keluar
darah nifas
Nifas itu paling sedikit setetes darah
artinya asal ada darah yang keluar meskipun sedikit sudah dinamakan nifas. Pada
umumnya lama nifas 40 hari dan paling lama 60 hari.
Oleh karena itu kalau darah nifas
berlangsung melebihi 60 hari, maka termasuk istihadlah di dalam nifasnya. Yakni
sebagian nifas, sebagian darah rusak (istihadhoh) dan sebagian haidl. Namun
apabila tidak melebihi 60 hari, maka seluruhnya darah nifas meskipun
bermacam-macam darah dan tidak sama dengan adatnya.[7]
C.
Larangan-larangan
Bagi Wanita Haidl dan Nifas
Larangan-larangan bagi wanita yang
sedang haidl dan nifas, ada 9 perkara yaitu:
1)
Sholat, baik
fardlu maupun sunnah. Demikian juga haram melakukan sujud tilawah/ sujud
syukur.
فإ ذا أقبلت
حيضتك فدعى الصلاة وإذا أدبرتت فاغسلى عنك الدم ثم صلي
"jika haidl
datang maka tinggalkanlah sholat, dan jika berhenti maka bersihkan darahnya,
lalu sholat”(HR.Al-Bukhori, An-Nasa’i, dan Abu Dawud)[8]
2)
Berpuasa baik
fardlu maupun sunnah. Jika seorang
wanita haid, maka ia tidak diwajibkan untuk berpuasa tapi ia wajib menggantikan
puasanya pada hari yang lain. Dalam hadist muttafaqun alaih, Aisyah berkata:
كنا
نحيض علي عهدي رسول الله ص م فكنا نؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة }}
“Kami haidl pada masa Rosulullah,
maka ketika itu kami diperintahkan untuk mengqodlo puasa kami, tapi kami tidak
diperintahkan untuk mengqodlo sholat kami”
3)
Membaca
Al-Qur’an
لا
يقرا الجنب ولا الحاض شيئا من القران (رواه الترمذي)
Artinya: Tidak diperbolehkan bagi orang yang junub dan wanita yang sedang
haidl membaca sesuatu (ayat) dari Al-qur’an (HR, Turmudzi)
4)
Menyentuh dan membawa mushaf (Al-Qur’an)
Firman Allah menyatakan:
انه
لقران كريم في كتاب مكنون لايمسه الا المطهرين تنزيل من رب العالمين
Artinya:
“sesungguhnya Al-Qur’an adalah bacaan yang mulia, pada kitab yang
terpelihara (lauhul Mahfudz), tidak boleh menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang
disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam” (QS. Al-Waqia’ah: 77)
5)
Diam atau
lewat dalam masjid
Hadits Nabi menjelaskan:
اني
لااحل المسجد لحائض ولاجنب (رواه ابو داوود)
Artinya: “saya tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haidl dan
orang yang sedang junub” (HR. Abu Dawud)
6)
Thawaf
7)
Seorang wanita
yang sedang haid haram untuk dijima’.
ويسئلونك عن المحيض، قل هو
اذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتي يطهرن، فاذا تطهرن فاتوهن من حيث
امركم الله
“mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanlah, haidl
itu adalah suatu kotoran, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diridari
wanita diwaktu hail. Dan jangan kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.
Apabila merekatelah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang
diperintahkan Allah kepadamu.”(Q.S Al-Baqoroh:222)
8)
Haram
bersenang-senang dengan bagian badan yang ada di antara pusar dan lutut
perempuan.[9]
اصنعوا كل شيء
الا النكاح
“Kalian
boleh lakukan apa saja (terhadap istrimu yang sedang haidl) kecuali bersetubuh”
9)
Thalaq.
Seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya apabila iasedang haidl. Karena
Allah berfirman,
يا ايهاالنبي اذا طلقتم
النساء فطلقوهن لعدتهن واحصوا العدة
“Hai
Nab, apabila kamu menceraikan istri-istrimu , maka hendaklah kamu ceraikan
mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) Iddahnya yang wajar.”(Q.S.
At-Thalaq:1)[10]
D.
Hukum
mempelajari tentang haid, nifas dan istihadloh
Bagi wanita muslimah balighah
diwajibkan belajar tentang haidl, nifas, dan istihadloh serta ibadah yang
menjadi kewajibannya, baik dikala masih remaja dan maupun sudah bersuami. Jika
sudah bersuami dan suaminya mampu mengajarinya, maka suami wajib mengajarinya.
Jika tidak mampu, maka wanita tersebut wajib keluar rumah untuk belajar tentang
haidl, nifas, bersuci, shalat, dan seterusnya. Dan suami haram melarang
istrinya keluar rumah untuk belajar tentang haidl, nifas, dan hal-hal yang
berkaitan dengan ibadah wajib, jika dia tidak mampu mengajarinya. Karena
kewajiban belajar tentang haidl,nifas,thaharoh dan seterusnya hukumnya fardlu ‘ain bagi wanita muslimah dan fardlu kifayah bagi laki-laki.
Dan untuk selain ilmu-ilmu haid dan
ilmu ibadah wajib lainnya, wanita dilarang keluar rumah untuk mempelajarinya,
kecuali atas seizin suaminya. Karena belajar selain ilmu ibadah wajib hukumnya
fardlu kifayah.[11]
Hal ini harus kita perhatikan dengan
sungguh-sungguh.Sebab masih banyak sekali wanita yang sudah haidl atau nifas
atau istihadloh,tetapi belum mengerti tentang hukum-hukum yang penting
ini.Bahkan banyak yang berumah tangga,baik yang laki-laki maupun perempuan sama
sekali belum mengerti tentang hal ini.Padahal bab ini sanmgat kuat hubunganya
dengan sholat,puasa,mandi,hubungan suami istri dan sebagainya.
E.
Pengertian dan
cara ibadah bagi wanita istihadloh
1.
Pengertian
istihadloh
Istihadloh secara bahasa mempunyai arti mengalir, dan
secara istilah syar’i adalah darah penyakit yang keluar dari farji wanita yang
tidak sesuai dengan ketentuan haid dan nifas.
و الإستحــاضة : الدم الخارج فـي غير أيام الحيض و النفـــاس لا على سبيل
الصحة من عرق في أدنـى الرحم
إعـانة المبــتدين ببعض فروع الدين
إعـانة المبــتدين ببعض فروع الدين
Istihadloh ialah darah yang keluar di luar hari2 haid dan
nifas, tidak di jalan sehat (suatu penyakit). Yang keluar dari otot
dibawah Rahim.
(Lihat: I'anah al-Mubtadin bi Ba'dli Furu'i ad-Din hal
50)
Setelah kita mengetahui apa itu istihadloh, alangkah baiknya kita mengetahui warna2 darah yg keluar dari farji seorang wanita.
Setelah kita mengetahui apa itu istihadloh, alangkah baiknya kita mengetahui warna2 darah yg keluar dari farji seorang wanita.
دماء الإستحاضة خمسة أسود و أحمر و أشقر و أصفر و أكدر. فالأســــود قوي و الأحمر ضعيف بالنسبة لأسود قوي بالنسبة للأشقر و الأشقر أقوى من الأصفر و الأصفر أقوى من الأكدر.
(التقريرات السديدة ص 167)
Darah Istihadloh ada 5.
1. Merah kehitaman (Coklat Tua)
2.Merah
3. Merah kekuningan
4. Kuning
5. Kuning keputih2an (Keruh)
1. Merah kehitaman (Coklat Tua)
2.Merah
3. Merah kekuningan
4. Kuning
5. Kuning keputih2an (Keruh)
Darah Merah kehitaman (Coklat Tua)
adalah darah kuat. Darah Merah itu lemah bila di bandingkan pada darah Merah kehitaman (Coklat Tua), dan kuat bila dibandingkan darah Merah kekuningan. Darah Merah kekuningan lebih kuat dari darah Kuning. Darah Kuning lebih kuat dari darah Kuning keputih2an
(Keruh).
(Lihat: Taqriroh as-Sadidah hal 167)
(Lihat: Taqriroh as-Sadidah hal 167)
- Penggolongan Wanita Yang Istihadloh
a)
Mubtadiah
Mumayyizah
-Mubtadiah = wanita yang baru pertama kali istihadloh.
-Mumayyizah = wanita yang bisa membedakan kuat dan lemahnya
darah istihadloh.
-Hukumnya = darah yang kuat adalah haid dan yang lemah istihadloh.
-Hukumnya = darah yang kuat adalah haid dan yang lemah istihadloh.
Penghukuman ini dengan syarat :
1.
Darah qowi
tidak kurang dari minimalnya masa haid.
2.
Darah qowi
tidak lebih dari maksimalnya masa haid.
3.
Darah dlo'if
tidak kurang dari minimalnya masa suci.
4.
Darah dlo'if
keluarnya harus berturut-turut tidak boleh diselingi darah qowi.
Jika salah satu syarat tersebut tidak
terpenuhi maka wanita itu cacat syarat dari syarat-syaratnya tamyiz.
b)
Mubtadiah
Ghoiru Mumayyizah
Yaitu wanita yang melihat darah hanya
dengan satu sifat saja ( hanya melihat warna merah saja misalnya ) . Begitu
juga mubtadiah mumayyizah yang tidak memenuhi syarat , hukum haidnya adalah
sehari semalam dan sucinya 29 hari jika ingat waktu pertama keluar darah. Jika
tidak ingat maka hukumnya seperti MUTAHAYYIRAH yang insya Allah akan
diterangkan nanti.
c)
Mu'tadah Mumayyizah
-Mu'tadah adalah wanita yang sudah pernah mengalami haid dan suci.
-Mumayyizah adalah yang bisa membedakan qowi dan dlo'if nya darah.
-Hukumnya adalah sesuai dengan kemampuannya membedakan sifatnya darah walaupun tidak sesuai dengan kebiasaannya tiap bulan.
-Mumayyizah adalah yang bisa membedakan qowi dan dlo'if nya darah.
-Hukumnya adalah sesuai dengan kemampuannya membedakan sifatnya darah walaupun tidak sesuai dengan kebiasaannya tiap bulan.
d) Mu'tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiratun Li 'Adatiha Qadran Wa Waqtan
-Mu'tadah = yang sudah pernah haid dan suci.
-Ghairu Mumayyizah = yang tidak bisa membedakan warnanya darah.
-Dzakiratu li 'adatiha qadran wa waktan = yang ingat akan kebiasaanya
meliputi kadar dan waktunya.
Hukumnya : Haidnya dikembalikan kepada adat kebiasaanya tiap
bulan baik kadar maupun waktunya.
e)
Mu'tadah Ghoiru Mumayyizah Nasiyatun Li 'Adatiha Qadran Wa Waktan (
Mutahayyirah )
Maksudnya adalah
wanita yang pernah haid dan suci tetapi tidak ingat akan adat kebiasaan haidnya
baik kadar dan waktunya.
contohnya ada seorang wanita keluar
darah selama 20 hari dengan satu sifat, sedangkan dia lupa kadar haidnya, dan
apakah haidnya itu diawal bulan, atau pertengahan bulan, atau diakhir bulan ?!
Mutahayyirah ini
tidak wajib mandi kecuali setelah 15 hari, kemudian wajib mandi setiap masuk
waktu shalat karena kemungkinan sudah suci.
Wanita
ini dalam hukumnya seperti wanita yang haid di dalam keharaman bersetubuh,
masuk area masjid jika khawatir mengotorinya, memegang dan membaca Al-Qur'an
diluar shalat untuk berhati-hati, karena setiap hari yang dilaluinya
kemungkinan waktu haid. Dan wanita ini juga
hukumnya seperti wanita yang suci didalam masalah shalat, puasa, thawaf dan
thalaq untuk hati-hati karena kemungkinan sudah suci. Dan diwajibkan mandi
setiap waktu shalat jika hendak melakukan shalat.
f)
Mu'tadah
Ghairu Mumayyizah Dzakiratun Li 'Adatiha Qadran La Waktan
Wanita yang ingat
kadar adat haidnya akan tetapi tidak ingat waktunya. Contoh : seorang wanita
mengatakan " haidku 5 hari pada sepuluh hari pertama , dan aku ingat pada
hari pertama aku suci "
Hukumnya : hari ke
enam dipastikan haid, hari pertama dipastikan suci sebagaimana 20 hari yang
akhir. Hari ke dua sampai akhir hari ke 15
dimungkinkan haid dan suci bukannya naqo' / berhenti keluar darah. Hari ke
tujuh sampai akhir hari ke sepuluh kemungkinan haid, suci dan juga naqo'. Maka
yang dipastikan haid dihukumi haid dan yang dipastikan suci dihukumi suci.
3.
Cara ibadah
bagi mustahadloh
Istihadloh itu tidak menghalangi pada
perkara yang dilarang atau haram sebab haidl. orang yang istihadloh itu
hukumnya seperti orang yang suci, artinya ia tetap melakukan
kewajiban-kewajiban syar’i, seperti puasa, sholat, membaca al-qur’an dan
ibadah-ibadah yang menjadi kewajibanya, tetapi ia harus lebih hati-hati
mengenai dan menjaga darah yang keluar, darah jangan sampek mengenai atau
mengotori bagian selain jalan keluarnya.
Kemudian karena hadats dan najisnya terus menerus maka jika akan
melakukan sholat fardhu harus melakukan
4 perkara terlebih dahulu,yaitu:
1.
Membasuh farji
dari najis yang keluar
2.
Menyumbat
farji dengan kapas atau yang serupa, supaya darah tidak menetes keluar. Oleh
karena itu sumbatanya harus masuk pada bagian yang tidak wajib dibasuh pada
waktu istinja’.Yaitu bagian farji yang tidak kelihatan ketika wanita
berjongkok. Oleh karena itu jika sumbatanya keluar bagian yang wajib dibasuh
atau istinja’ maka sholatnya tidak syah. Sebab membawa perkara kena najis.
Wajib menyumbat tadi kalau memang butuh disumbat dan tidak sakit serta tidak
sedang puasa. Kalau tidak butuh disumbat atau terasa sakit atau sedang puasa
maka tidak wajib menyumbatnya, bahkan kalau puasa wajib tidak menyumbat diwaktu
siang.
3.
Membalut farji
dengan celana dalam atau sejenisnya. Wajib membalut ini jika membutuhkan
dibalut dan tidak terasa sakit. Namun kalau tidak ingin dibalut atau terasa
sakit maka tidak wajib dibalut
4.
Bersuci dengan
wudlu atau tayamum.
Semua perkara diatas wajib dijalankan setiap akan sholat fardlu
dan sudah masuk waktu shalat dilakukan dengan tertib dan segera dan setelah
selesai bersuci supaya cepat-cepat sholat.
Kalau tidak segera sholat maka batal
dan wajib mengulangi empat perkara tadi seluruhnya, kecuali jika tidak segera
sholat tadi disebabkan kemaslakhatan sholat, misalnya: menjawab adzan, ijtihad
arah kiblat, menutup aurat, makatidak batal.
Kalau sudah menjalankan empat perkara
tersebut tetapi belum sholat, tiba-tiba mengalami hadats, maka wajib mengulangi
seluruhnya.[12]
VI.KESIMPULAN
Darah yang keluar dari farji wanita
itu ada 3 macam, yaitu: 1.haidl, 2. Nifas 3. Istihadloh.Haidl adalah darah yang
keluar dari farji seorang perempuan setelah umur 9 tahun, dengan keadaan sehat (tidak
karena sakit) tetapi memang watak atau kodrat wanita, dan tidak setelah
melahirkan anak. Adapun darah yang keluar karena sakit maka dinamakan darah
istihdloh (seperti ketentuan dalam bab istihadloh). Dan darah yang keluar
setelah melahirkan dinamakan nifas.
Faidah haidl adalah salah satu dari tanda-tanda baligh. Lengkapnya
alamat baligh itu ada tiga:
Untuk
laki-laki dua: Mengeluarkan mani pada umur 9 tahun
dan umur 15 tahun apabila setelah umur 9 tahun tidak mengeluarkan mani, maka
awal balighnya pada umur 15 tahun.
Untuk
perempuan ada tiga: Yaitu keluar darah haidl
setelah umur 9 tahun atau kurang sedikit
(tidak sampai 16 hari) , keluar mani setelah umur 9 tahun atau kurang sedikit, umur
15 tahun yakni jika setelah umur 9 tahun tidak haidl juga tidak keluar mani,
maka awal balighnya umur 15 tahun, jadi meskipun umur 9 tahun tapi belum keluar
haidl dan mani maka belum belum baligh.
Bila anak laki-laki atau pun
perempuan telah melakukan salah satu alamat-alamat tersebut, maka sudah wajib
sholat, puasa romadhon dan kewajiban-kewajiban syar’i. Maka hukum mempelajari tentang haidl, nifas, dan
istihadloh itu fadhu ‘ain bagi perempuan, fardhu kifayah bagi laki-laki.
V.PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan. Kami sadar bahwa karya
tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang
disampaikan. Oleh karena itu kami sangat berharap akan kritik dan saran dari
pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani Bin
Ahmad, Muhammad. 1998 , Risalatul
Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,
Ibrahim,Su’ad,2011.
Fiqih Ibadah Wanita,Jakarta:Amzah
Muhammad Ibnu
Qasim, Fathul Qorib
Zuhri,
Saifudin. 2010 Buku Pintar Haidl, Mojokerto: AL Maba
http://fiqh9.blogspot.com/2012/12/seputar-haid-dan-istihashoh.html
11 NOVEMBER 2013 10.55
[1] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul
Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm.13
[2] Saifudin Zuhri, Buku Pintar
Haidl,Mojokerto:Al Maba,hlm.26
[3] Saifudin Zuhri, Buku Pintar Haidl,Mojokerto:Al
Maba,hlm.32
[4] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al
Miftah,hlm.22
[5] Saifudin Zuhri, Buku Pintar Haidl,Mojokerto:Al Maba,hlm.
51
[6] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul
Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm. 84
[7] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul
Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm. 85
[9] Imron Abu Amar,Terjemah Fathul Qorib,Kudus:Menara
Kudus.hlm.62-70
[10] Saleh Al-Fauzan,Fiqih Sehari-hari,Jakarta:Gema Insani,
hlm.50-51
[11]Saifudin Zuhri, Buku Pintar
Haidl,Mojokerto:AL Maba,hlm. 31
[12] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul
Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm.82
2 komentar:
BERKORBANLAH DEMI MELEPASKAN DIRI DARI KEJAHILAN!
Suatu hal yang menjadi problem bagi para muslimah dan memang permasalahan yang begitu kompleks bahkan ada seorang ulama' yang ditanya sahabatnya "Wahai Syaikh, mengapa dalam kitab karanganmu tidak ada bab Haid, Nifas dan Istihadhah? Beliau pun menjawab, Bagaimana aku akan menulis bab itu, kita (lelaki) tak mengalaminya, dan wanita tak ada yang bertanya padaku.
Antara topik menarik yang dibahaskan dalam kitab TUHFATUL AIZZA adalah pengenalan haid. Bab ini menyentuh tentang sejarah kewujudan haid, keduudkan wanita haid, kadar haid, serta faedah haid bagi kaum wanita.
Kitab ini juga menyentuh perbahasan tentang darah dan sifatnya yang mana perkara ini sering kali menjadi masalah bagi kaum Muslimah. Pembahagian darah yang dijelaskan dalam kitab ini sedikit sebanyak akan membantu para Muslimah untuk lebih kenal dengan dirinya.
Bab yang paling panjang perbincangannya dalam kitab ini ialah bab istihadhah. Dalam bab ini, pengarang menjelaskan tentang definisi istihadhah dan permasalahan yang timbul dalam bab isitihadhah. Pengarang juga menekankan pembahagian mustahadhah iaitu wanita yang mengalami darah istihadhah. Kitab ini juga menerangkan tentang amalan yang dilarang semasa haid dan nifas serta penerangannya.
Bab nifas yang dibincangkan termasuklah definisi, tempohnya serta hikmah darah nifas bagi wanita. Kitab ini juga menjelaskan tentang mandi wajib dan kaifiatnya. Terdapat 76 rajah yang akan memudahkan pembaca untuk memahami contoh yang diberi. hubungi saya 0145395740
https://www.facebook.com/darahwanitakitab/
izin copy ya kak ^^
Posting Komentar