SEJARAH
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi:Tugas
Mata
Kuliah: Sejarah
Peradaban Islam
DosenPengampu:
Dr. H.Mustofa, M. Ag
DisusunOleh:
Mu’minah
(133311006)
Nila
Kafidotur Rofiah (133311007)
Zaenatul
Umroh (133311008)
Ma’rifatun (133311009)
Soya
Anggisya Iqbi (133311010)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI WALISONGOSEMARANG
2013
- PENDAHULUAN
Bani Umayah berasal dari nama
Umayah Ibnu Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf, salah satu pemimpin dari kabilah
Quraisy. Yang memiliki cukup unsur untuk berkuasa di zaman Jahiliyah yakni
keluarga bangsawan, cukup kekayaan dan mempunyai sepuluh orang putra.Orang yang
memiliki ketiga unsur tersebut di zaman jahiliyah berarti telah mempunyai
jaminan untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan.Umayah senantiasa bersaing
dengan pamannya yaitu Hasim Ibnu Abdi Manaf.Sesudah datang agama Islam
persaingan yang dulunya merebut kehormatan menjadi permusuhan yang lebih
nyata.Bani Umayah dengan tegas menentang Rosululloh, sebaliknya Bani Hasim
menjadi penyokong dan pelindung Rosululloh, baik yang sudah masuk Islam atau
yang belum.Bani Umayyah adalah orang-orang yang terakhir masuk agama Islam pada
masa Rosululloh dan salah satu musuh yang paling keras sebelum mereka masuk
Islam.[1]
- RUMUSAN MASALAH
- Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Umayyah?
- Bagaimana peradaban islam pada masa Dinasti Umayyah?
- Apa saja sebab-sebab kemunduran Dinasti Umayyah?
- PEMBAHASAN
A. Sejarah
berdirinya Dinasti Umayyah
Kerajaan Bani Umayyah didirikan
oleh Mu’awiyah Bin Abu Sufyan padatahun 41 H/661 M di Damaskus dan berlangsung
hingga pada tahun 132H/750M. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah seorang politisi
handal dimana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada masa khalifah
Utsman bin Affan cukup mengantar dirinya mampu mengambil alih kekuasaan dari
genggaman keluarga Ali bin Abi Thalib.
Awal kedaulatan bagi kedaulatan
Bani Umayyah adalah sepeninggal Khalifah Ali ibn Abi Thalib, yang mana gubenur
Syam tampil sebagai pemimpin Islam yang kuat. Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb
yang dulunya gubenur Syam, menggantikan posisi Ali ibn Abi Thalib sebagai
pemimpin Islam dengan cara yang bisa dibilang curang, yang waktu itu berawal
dari negosiasi antara pihak Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang diwakili oleh Abu
Musa Al-Asy’ari dengan pihak Muawiyyah yang diwakilkan oleh Amr bin Ash. Dari
hasil negosiasi keduanya menghasilkan kesepakatan untuk menjatuhkan Khalifah
Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyyah, kemudian setelah itu dipilihlah seorang
khalifah yang baru. Sebagai orang tertua, Abu Musa Al-Asy’ari yang mengawali
dalam mengumumkan hasil negosiasi tersebut.namun berbeda halnya dengan Abu Musa
Al-Asy’ari, Amr bin Ash justru mengumumkan untuk menjatuhkan Khalifah Ali ibn
Abi Thalib tetapi menolak untuk menjatuhkan Muawiyyah, dengan kata lain Amr bin
Ash mendukung pengangkatan Muawiyyah sebagai pemimpin yang menggantikan
Khalifah Ali ibn Abi Thalib.
Kekhalifahan Muawiyah ini diperoleh
melalui kekerasan, diplomasi, dantipu daya, tidak dengan pemilihan. Hal ini
berbeda dengan proses pemilihan kepala Negara pada masa sebelumnya, yang
diniliai cukup demokrasi. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun
dia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan
tersebut.Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang
diangkat oleh Allah.
Keberhasilan Muawiyah mendirikan
Dinasti Umayyah bukan hanya akibatdari kemenangan terbunuhnya Khalifah Ali,
akan tetapi ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan
politiknya dimasa depan.Adapun faktor keberhasilan tersebut adalah:
1.
Dukungan
yang kuat dari rakyat Syria dari keluarga Bani Umayyah.
2.
Sebagai
administrator, Muawiyah mampu berbuat secara bijak dalam menempatkan para
pembantunya pada jabatan-jabatan penting.
3.
Muawiyah
memiliki kemampuan yang lebih sebagai negarawan sejati,bahkan mencapai tingkat
hilm sifat tertinggi yang dimiliki oleh parapembesar Mekkah zaman dahulu, yang
mana seorang manusia hilm sepertiMuawiyah dapat menguasai diri secara mutlak
dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan dan
intimidasi.
B.
Peradaban
islam pada masa Dinasti Umayyah
1.
Khalifah-khalifah pada masa Dinasti Bani Umayyah
Masa kekuasaan Dinasti Umayyah hampir
1 abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 khalifah.Diantara mereka ada
pemimpin-pemimpin yans berjasa besar sesuai dengan kehendak zamannya,
sebaliknya ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun raja-raja yang
berkuasa pada masa Dinasti Umayyah, antara lain:
1.
Mu’awiyah
I bin Abi Sufyan (41-61H/661-680M)
2.
Yazid
bin Mu’awiyah (61-64H/680-683M)
3.
Mu’awiyah
II bin Yazid (64-65H/683-684M)
4.
Marwan
bin Hakam (65-66H/684-685M)
5.
Abdul
Malik bin Marwan (66-86H/685-705M)
6.
Al-Walid
bin Abdul Malik (86-97H/705-715M)
7.
Sulaiman
bin Abdul Malik (97-99H/715-717M)
8.
Umar
bin Abdul Azis (99-102H/717-720M)
9.
Yazid
bin Abdul Malik (102-106H/720-724M)
10. Hisyam bin Abdul Malik
(106-126H/724-743M)
11. Al-Walid II bin Yazid
(126-127H/743-744M)
12. Yazid III bin Walid(127H/744M)
13. Ibrahim bin Malik (127H/744M)
14. Marwan II bin Muhammad
(127-133H/744-750M)[2]
Para sejarawan umumnya berpendapat bahwa para
kholifah terbesar dari daulah Bani Umayyah ialah Muawiyah, Abdul Malik, dan
Umar Bin Abdul Malik.
Muawiyah
dibaiat oleh umat Islam di Kufah, sedangkan Hasan dan Husein dikembalikan ke Madinah. Hasan wafat di kota
nabi pada tahun 50 H. Diantara jasa-jasa Muawiyah, ialah mengadakan dinas pos
kilat dengan menggunakan kuda-kuda yang selalu siap ditiap pos dan mendirikan
kantor cap percetakan mata uang.
Muawiyah wafat pada tahun 60 H di Damaskus karena
sakit. Dan digantikan oleh putranya yang
bernama Yazid, yazid tidak sekuat ayahnya dalam memerintah, banyak tantangan
yang dihadapinya antara lain ialah membereskan pemberontakan kaum Syiah yang
telah membaiat husein sepeninggal muawiyah. Terjadi perang di Karbala yang
menyebabkan terbunuhnya Husein, cucu Nabi. Lain halnya dengan penduduk Makkah
sebagian dari mereka membaiat Abdullah bin Zubeir menjadi kholifah. Yazid wafat
pada tahun 64 h setelah memerintah 4 tahun dan digantikan oleh anaknya yaitu
Muawiyah II.Muawiyah II hanya memerintah selama 40 haridan meletakkan jabatan
sebagai kholifah 3 bulan sebelum wafatnya. Ketika Muawiyah II wafat dan tidak
menunjuk siapa penggantinya maka keluarga besar Umayyah mengangkat Marwana bin
Hakam sebagai khalifah, karena ia dianggap orang yang dapat mengendalikan
kekuasaan karena pengalamannya. Khalifah yang baru dapat menghadapi segala
kesulitan satu demi satu, dia mengalahkan kabilah Ad-Dahak bin Qais, kemudian
menduduki mesir dan menetapkan putranya Abdul Aziz sebagai gubernurnya.Marwan
menundukan Palestina, Hijaz dan Irak. Ia wafat pada tahun 65 H setelah
memerintah 1 tahun, dan menunjuk anaknya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai
pengganti sepeninggalnya secara berurutan.
Khalifah Abdul Malik adalah orang kedua yang
terbesar dalam deretan para kholifah bani Umayyah, yang disebut-sebut sebagai
pendiri kedua bagi kedaulatan Umayyah.Ia dikenal sebagai seorang yang dalam
ilmu agamanya terutama dalam bidang fiqih. Ia telah berhasil mengembalikan
integritas wilayah dan wibawa kekuasaaan keluarga Umayyah dari segala pengacau
negara yang merajalelapada masa-masa sebelumnya.
Khalifah Abdul Malik memerintah paling lama yaitu 21
tahun ditopang oleh para pembantunya yang juga termasuk orang kuat menjadi
kepercayaannya, seperti Al-Hajjaj bin Yusuf yang gagah berani di medan perang,
dan Abdul Aziz, saudaranya yang dipercaya memegang sebagai gubernur Mesir. Di
samping berjaya di medan perang, Al-Hajjaj juga berhasil memperbaiki saluran-saluran
sungai Eufrat dan Tigris,memajukan perdagangan,dan memperbaiki sistem ukuran
timbang,takaran dan keuangan,disamping menyempurnakan tulisan mushaf AlQur’an
dengan titik pada huruf-huruf tertentu.Khalifah Abdul Malik wafat tahun 86 H.
Dan diganti oleh putranya yang bernama Al-Walid.
Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memerintah 10
Tahun lamanya, pada masa pemerintahannya kekayaan dan kemakmuran melimpah ruah,
karena kekayaannya melimpah ruah maka ia sempurnakan pembangunan gedung-gedung,
pabrik-pabrik, dan jalan-jalan yang dilegkapi dengan sumur-sumur untuk para
kholifah yang berlalu lalang. Ia membangun masjid Al-Amawi di Damaskus.
Kholifah Al-Walid bin Abdul Malik wafat pada tahun 96 H, dan digantikan oleh
adiknya yang bernama Sulaiman sebagaimana wasiat ayahnya.
Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik tidak sebijak
kakaknya dalam memerintah, orang-orang yang berjasa dimasa para pendahuluny
yang banyak yang disiksa, seperti
keluarga Al-Hajjaj bin Yusuf dan Muhammad bin Qosim yang menundukan India. Ia
menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya sebelum meninggal pada tahun
99 H.
Adapun kholifah ketiga terbesar adalah Umar bin
Abdul Aziz. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun Umar bin
Abdul Aziz merupakan “lembaran putih” Bani Umayyah dan sebuah periode yang berdiri sendiri, karena
tidak terpengaruh kebijaksanaan daulah bani Umayyah yang banyak disesali.
Khalifah yang adil itu berusaha memperbaiki segala tatanan yang ada di masa kekhalifahannya, seperti menaikkan gaji para
gubernurnya, meratakan kemakmuran dengan memberi santunan kepada fakir miskin,
memperbaharui dinas pos. Ia juga menyamakan kedudukan orang-orang non Arab
sebagai warga negara kelas dua. Ia mengurangi beban pajak dan menghentikan
pembayaran jizyah bagi orang Islam baru. Khalifah Umar meninggal pada tahun 101
H, dan diganti oleh Yazid II bin Abdul Malik (101-105 H). Yang kemudian lagi
oleh Hisyam bin Abdul Malik.
Kekhalifahan
Umayyah mulai mundur sepeninggal khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Hisyam
bin Abdul Malik perlu dicatat juga sebagai khalifah yang sukses, meskipun tidak
secemerlang ketiga khalifah yang masyhur sebagaimana disebutkan diatas. Ia
memerintah dalam waktu yang panjang yakni 20 tahun. Ia dapat pula dikategorikan
sebagai khalifah Umayyah yang terbaik karena
kebersihan pribadinya, pemurah, gemar pada keindahan, berakhlaq mulia dan
tergolong teliti terutama dibidang keuangan, disamping bertaqwa dan berbuat
adil. Pada masa pemerintahannya terjadi gejolak yang dipelopori oleh kaum Syiah
yang bersekutu dengan kaum abbasiyyah. Mereka menjadi kuat karena kebijaksanaan
yang diterapkan oleh kholifah Umar bin Abdul aziz, yang bertindak lemah lembut
kepada semua kelompok. Masih ada 42kholifah
lagi setelah Hisyam yang memerintah hanya dalam waktu 7 tahun, yakni Al-walid
II binYazid II, Yazid III bin Al-Walid, Ibrohim bin Al-Walid, dan Marwan bin
Muhammad.
2.
Prestasi-prestasi pada masa Dinasti Umayyah
Kemajuan dalam bidang
perluasan wilayah
Pada masa pemerintahan Muawiyyah terkenal sebagai
era yang agresif karena perhatian terpusat kepada perluasan wilayah, dan
kemajuan besarpun hadir dengan berhasilnya perluasan wilayah. Kemajuan Dinasti
Umayyah terdapat di masa Muawiyyah bin abi Sofyan sampai pemerintahannya Hiyam
bin Abdul Malik 661 M/ 41 H – 743 sedangkan pemerintahan setelahnya hanya
menuju kepada kehancuran Muawiyyah.
Dimasa Muawiyyah, terdapat peristiwa paling mencolok
yakni penyerangan kota konstan tinopel melalui suatu ekspedisi yang dipusatksn
di kota pelabuhan Dardanela, setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau di
Laut Tengah seperti Rodhes, Kreta, Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang
bernama Award, tidak jauh dari Ibu Kota Romawi Timur. Dibelahan Timur,
Muawiyyah berhasil menaklukan Khurrasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan.
Ekspansi ke timur yang dirintis oleh Muawiyyah, lalu disempurnakan oleh
Khalifah Abdul Malik.Dibawah komando gubenur Irak Hajjaj ibn Yusuf, tentara
kaum muslimin menyebrangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara,
Khawarizm, Ferghana dan Samarkhand.Dimasa kekuasaan al-Walid I dikenal dengan
“masa kemenangan yang luas”. Dimasa ini, pengepungan atas kota konstantinopel
dihidupkan kembali guna menklukan ibu kota Romawi,meski belum berhasil tetapi
memberi hasil yang cukup memuaskan yakni dengan menggeser tapal batas
pertahanan Islam lebih maju kedepan, dengan menguasai basis-basis militer
Kerajaan Romawi di Mar’asy dan Amuriyah. Kemudian dilanjutkan dengan
keberhasilan di front Afrika. Disamping itu, kejayaan Bani Umayyah juga
tercermin dari pembangunan di berbagai bidang seperti bidang politik ataupun
sosial kebudayaan. Didalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tatanan
pemerintahan yang sama sekali baru, yakni memenuhi tuntutan perkembangan
wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks.
Dalam jangka 90 tahun, banyak bangsa di empat
penjuru mata angin berramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam, yang meliputi
wilayah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utara, Jazirah Arab, suriah, Palestina,
setengah bagian dari daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan
negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan
yang termasuk sovyet Rusia.
Kemajuan
bidang Peradaban
Dalam bidang peradaban Dinasti Umayyah telah
menemukan jalan yang yang lebih luas kearah pengembangan dan perluasan berbagai
bidang.
1)
Kemajuan di bidang Ilmu pengetahuan
Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) beberapa
kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
a) Pengembangan
Bahasa Arab
Para penguasa
Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam daulah (Negara), kemudian dikuatkannya
dan dikembangkanlah Bahasa Arab dalam wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut
dilakukan dengan cara menjadikan Bahasa Arab sebagai bahas resmi dalam dalam
tata usaha Negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat menyurat hrus
menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan Bahasa Romawi atau bahasa
Persia di daerah-daerah bekas jajahan mereka dan di Persia sendiri.
b) Marbad kota
pusat kegiatan ilmu
Dinasti
Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan Ilmu pengetahuan
dan kebudayaan yang diberi nama kota Marbad. kota satelit dari Damaskus. Di
Kota Marbad inilah berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, dan cendekiawan.
c)
Ilmu Qira’at
Ilmuqira’atialahilmu yang
mempelajaritentangbacaan al-quran.
Dalam dunia islam, dikenal ada tujuh macam bacaan al-quran yang disebut
qira’atus sab’ah .Pelopor ilmu qira’atussab’ah adalah Abdullah bin katsir
(wafat 120 H ) dan Asim bin Abi nujud (
wafat 118 H di kuffah )
Selainilmuqira’at, berkembang pula
ilmutatabahasa (nahwudanshorof) danilmubalaghoh.
Makalahirlahparapenyairterkenalantaralain ;
a.
Nu’man
bin basyir al-anshari ( wafat 65 H )
b.
Ibnmafrag
al-hamiri ( wafat 69 H)
c.
Miskin
ad-Daramy (wafat 90 )
d.
Al-
ahkal ( wafat 90 H)
e.
Jarir
(wafat 111 H )
f.
Abdul
aswad ad-Dua’ly (wafat 69 H )
g.
Al-
farazdaq ( wafatwafat 90 H)
h.
Ar-rai
(wafat 90 H)
i.
Abu
najamar-rajih (wafat 130 H )
j.
Al-a’syarabi’ah
(wafat 85 H)
d)
Ilmu Hadits
Khalifahdinastiumayyah
yang berjasamembukukanhadistialahumar bin abdulaziz .Padatahun 99 H. Ketikaumar
bin abdul azizdinobatkansebagaikhalifah,
tergeraklahhatinyauntukmembukukanhadits pad tahun 100 H, khalifah umar
bin abdul aziz memerintahkankepadagubernurmadinahdangubernur
yang lain untukikutsertadalampengumpulanhadits-haditsnabi, selainitu,
iajugasecarakhususmenulissuratkepadaAbuBakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah
bin Syihabaz-Zuhry,olehsebabitu, Ibnu Syihabaz-Zuhrykemudiandisebutulama yang
pertama kali membukukanhadits.
e)
Ilmu Tafsir
Ilmutafsirberkembangdarilisankelisansampaiakhirnyatertulis,
ahlitafsir yang pertamapadamasaituialahIbnuAbbas. Meskipun di pandang sebagai pelopor ahli tafsir. Akan tetapi, banyak kitab
tafsir yang di riwayatkan darinya, misalnya kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas Min Tafsir Libni Abbas yang di tulis oleh abi
tahir Muhammad bin Ya’qab Asy-Syarazy Asy Syafi’i.
f)
Ilmu Fiqih
Perkembangan
ilmu fiqih pada masa dinasti Umayyah berawal dari banyaknya para sahabat Nabi SAW yang berpencar
keberbagai daerah sistem masyarakat yang berbeda. Diantara ahli fiqih yang
terkenal pada masa dinasti Umayyah, antara lain; Ata’ bin Rabbah di Makkah,
Ibrahim An-Nakha’i di Kuffah, Hasan Al-Basri di Kuffah , Tawus di Yaman, dan
Amir bin Asy-Sya’bi.
g)
Ilmu Jughrafi dan Tarikh
Ilmujughrafidantarikhpadamasadinastiumayyahtelahberkembangmenjadiilmutersendiri. Demikian pula ilmu tarikh (ilmu sejarah ) , baik sejarah
umum maupun sejarahislam pada khususnya. Adanya pengembangan dakwah islam
kedaerah-daerah baru yang luas dan jauh menimbulkan gairah pengarang ilmu
jughrafi (ilmu bumi atau geografi), demikian pula ilmu tarikh. Ilmu jughrafi
dan ilmu tarikh lahir pada masa dinasti umayyah, barulah berkembang menjadi
suatu ilmu betul-betul berdiri sendiri pada masa ini.
h)
Usaha
Penerjemahan
Untuk kepentingan pembinaan dakwah islamiyah, pada masa
dinasti umayyah di mulai pula penerjemah buku-buku ilmu pengetahuan dari
bahasa-bahasa lain dan bahasa arab. Adapun yang
mula-mulamelakukanusahapenerjemah hanyaitu
Khalid bin yazid,seorangpangeran yang sangatcerdasdanambisius. Ketika gagal memperoleh kursi kekhalifahan,ia
menumpahkannya dalam ilmu pengetahuan, antara lain mengusahakan penerjemahan
buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa lain ke bahasa arab. DidatangkannyalahkeDamaskusparaahliilmupengetahun
yang melakukanpenerjemahandariberbagaibahasa. Maka di
terjemahkanbuku-bukutentangilmukimia, ilmuastronomi, ilmufalak, ilmufisika,
kedokteran, dan lain-lain.Khalid sendiriadalahahlidalamilmuastronomi.
2)
Kemajuan di bidangpemeintahan
Kemajuan di
bidangpemerintahanyangtelah
di capaiDinastiumayyahantar lain:
a)
Organsasipolitik
( an- Nizamu- as- Siyasi )
Organisasipolitikdanadministrasipemerintahanpadamasadinastiumayyah meliputijabatankhalifah(kepala
Negara ), wizarah ( kementrian ), kitabah ( sekretariatan), danhijabah
(pegawaianpribadi) yang masing-masingmemilikitugas yang berbeda-beda
b)
Organisasi
Tata Uaha Negara (an- Nizam al-
idary)
Organisasi Tata
usaha Negara padamasadinastiumayyah , di bagimenjadiempatdepartemen, yaitu ;
a.
Diwan
al kharraj ( departemenpajak)
b.
Diwanar-Rasa’il
( departemenpos )
c.
Diwan
al-Musygillat (departemen yang bertugasmenanganiberbagai kepentinganumum)
d.
Diwan
al-Khatim(departemen yang menyimpanberkas-berkas / dokumen-dokumenpenting
Negara.
c)
Organisasi keuangan ( an- nizam al-maali
)
Dinasti
umayyah tetap mempertahankan dan memakai lembaga keuangan sebagaimana pada masa
khulafaurrasyidin.Sumber-sumber keuangan pada masa pemerintahan dinasti umayyah
berasal dari pajak tanah (kharraj) dari daerah-daerah takluknya. Pada masa
hisyam bin abdul malik kharraj di kenakan kepada semua penduduk yang berada di bawah kekuasaan dinasti
umayyah, tujuannya untuk mengatasi krisis kenangan Negara yang banyak berkurang
pada masa pemerintahan khalifah umar bin abdul aziz .
d)
Organisasi ketentaraan ( an- Nizam
al- Harby)
Organisasi
ketentaraan pada masa dinasti umayyahmerupakankelanjutandariupaya
yang telah di buatolehkhulafaurrasyidin.
e)
OrganisasiKehakiman
(an- Nizam al-qodi )
PadamasaDinastiumayyah, kekuasaanpolitiktelah di
pisahkandengankekuasaankehakimanpadamasaitu di bagimenjaditigabadanyaitu :
1)
Al- Qada
Al-qadha
adalah badan yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara
yang umum yang
berhubungandengan
Negara.Seperti;
·
Memberi penerangandanpembinaanhukum
·
Memutuskansengketadenganadil
·
Menyelesaikan sengketa perselisihan
dan masalah wakaf
Al-qadha di pimpin
oleh seorang qadhi. Tugas seorang qadhi adalah membuat fatwa-fatwa hukum dan
peraturan yang di gali langsung dari al-quran, sunah, dan ijma’. Badan ini semacam peradilan agama
dan umum di indonesia.
2)
Al- Hisbah
Al-hisbah
adalah badan yang bertugas menyelesaikan
perkara-perkara umum dan soal-soal pidana yang memerlukan tindakan cepat.
Seperti;
·
Menegakkan kebaikan
·
Mencegah kedzaliman
Al-hisbah di pimpin oleh seorang muhtasib yang bertugas:
·
Menangani kriminal
·
Mengawasi hukum
·
Menghukum orang yang mempermainkan hukum syari’at
3)
al-
Nadarfil- madali
Mengurusi penyelesaian perkara perselisihan yang
terjadi antara rakyat dan negara.
Contohnya mengurusi tentang penganiyaan yang di lakukan oleh pejabat
tinggi, bangsawan, hartawan, keluarga sultan terhadap rakyat biasa. Badan ini
tidak boleh di putuskan oleh qadha dan hisbah, dan badan ini di pegang oleh
khalifah. Contoh badan ini di indonesia adalah pengadilan tinggi atau mahkamah
agung.
3.
MASA KEHANCURAN DINASTI UMAYYAH
Meskipunkejayaantelahdiraiholehbaniumayyahternyatatidakbertahanlebih
lama, dikarenakankelemahan-kelemahan internal
dansemakinkuatnyatekanandaripihakluar.
Menurut Dr. BadriYatim, adabeberapafaktor yang
menyebabkandinastiumayyahlemahdanmembawanyakepadakehancuran,
yaitusebagaiberikut;
1.
Sistempergantiankhalifahmelaluigarisketurunanadalahsesuatuyangbarubagitradisiarab,
ketidak jelasansistempergantiankhalifahinimenyebabkanterjadinyapersaingan
yang tidaksehat di kalangananggotakeluargaistana.
2.
Figur
khalifah yang lemah, kecenderungan munculnya figur kholifah yang lemah,tidak
memiliki potensi kepemimpinandan bergaya glamor serta mengabaikan
persoalan-persoalan agama merupakan konsekuensi logis sistem konsekuensi logis
sistem warisan kekhalifahan yang ditegakkan oleh oleh dinasti bani umayyah.
3.
Konflikpolitik
yang terjadi di masaAli.Sisa-sisaSyi’ah (parapengikutali ) dankhawarij,
baiksecaraterbukamaupunsecaratersembunyi.
penumpasanterhadapgerakan-gerakanbanyakmenyedotkekuasaanpemerintah.
4.
PertentanganetnisantarasukuArabia
utara (BaniQais) danarabselatan (BaniKalb)
yang sudahadasejakzamansebelumislamsemakinruncing.
Perselisihaninimengakibatkanparapenguasabaniumayyahmendapatkesulitanuntukmenggalangpersatuankesatuan.Disampingitu,
sebagianbesargolongantimuradalahlainnyamerasatidakpuas, di
tambahkeangkuhanbangsaarab yang di perhatikanpadamasabaniumayyah.
5.
LemahnyapemerintahandaulahbaniUmayyahjugadisebabkanhidupmewah di
lingkunganistanasehinggaanak-anakkhalifahsanggupmemikulbebanberatkenegaraantatkalamerekamewarisi kekuasaan. Di
sampingitu, sebagianbesargolonganawamkecewakarenaperhatianpengusahaterhadapperkembangan
agama sangatkurang.
6.
Munculnyakekuatanbaru
yang di peloporiolehketurunan Al-Abbas bin abbas Al- Muthalib.
GerakaninimendapatdukunganpenuhdariBaniHasyimdangolongansyi’ah. Dan kaummawali
yang merasa di kelasduakanolehpemerintahbaniumayyah.
7.
Beberapapenyebabtersebutmunculdanmenumpukmenjadisatu,
sehinggaakhirnyamengakibatkankeruntuhanDinastiumayyah,
disusuldenganberdirinyakekuasaan orang-orang BaniAbbasiyah.
Demikianlah,
Dinastiumayyahpascawafatnya Umar bin Abdul Aziz yang berangsur-angsurmelemah.Kekhalifahansesudahnya
di pengaruhiolehpengaruh-pengaruh yang melemahkandanakhirnyahancur. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkan oleh dinasti
BaniAbbasiyah pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II ) pada tahun
127 H/74 M.
- KESIMPULAN
Daulah Bani Umayyah didirikan oleh
Muawiyyah yang menang diplomasi di Siffin dan juga sebagai akibat terbunuhnya
Khalifah Ali ibn Abi Thalib. Namun tidak hanya itu, ada dasar lain yang
menjadikan daulah Bani Umaayyah itu lahir. Yakni dukungan yang kuat dari rakyat
suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri.Mereka dengan kelompok bangsawan
kaya makkah dari keturunan Bani Umayyah berada sepenuhnya di belakang Muawiyyah
untuk mendukungnya.Dengan sumber kekuatan yang tiada habisnya baik itu kekuatan
tenaga manusia ataupun kekayaan, dan juga negeri suriah yang terkenal makmur
yang menyimpan sumber alam yang berlimpah tentunya sangat membantu Muawiyyah.
Salah satu kemajuan yang paling
menonjol pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah kemajuan dalam
system militer. Selama peperangan melawan kakuatan musuh, pasukan arab banyak
mengambil pelajaran dari cara-cara teknik bertempur kemudian mereka
memadukannya dengan system dan teknik pertahanan yang selama itu mereka miliki,
dengan perpaduan system pertahanan ini akhirnya kekuatan pertahanan dan militer
Dinasti Bani Umayyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat baik
dengan kemajuan-kemajuan dalam system ini akhirnya para penguasa dinasti Bani
Umayyah mampu melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke Eropa.
- PENUTUP
Demikianlah
makalah ini kami sampaikan.Kami sadar bahwa karya tulis ini belum sempurna baik
dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan. Oleh karena itu kami sangat
berharap akan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah
berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Fu’adi,Imam.Sejarah
Peradaban Islam I.Yogyakarta:Teras,2011.
Amin,
Samsul Munir.Sejarah Perdaban Islam.Jakarta:Amzah,2009.
Yatim,Badri.Sejarah
Peradaban Islam. Jakarta :Raja GrafindoPersada,2000
http://Anshar-mtk.blogspot.com/2013/04/sejarah_peradaban_islam_dimasa_bani_umayyah.html
(20september
2013/11:00)
0 komentar:
Posting Komentar