Pages

Selasa, 01 Juli 2014

SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH



SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI UMAYYAH
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi:Tugas
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
DosenPengampu: Dr. H.Mustofa, M. Ag
DisusunOleh:
Mu’minah                                (133311006)
Nila Kafidotur Rofiah                        (133311007)
Zaenatul Umroh                      (133311008)
Ma’rifatun                               (133311009)
Soya Anggisya Iqbi                (133311010)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI WALISONGOSEMARANG
2013
  1. PENDAHULUAN
Bani Umayah berasal dari nama Umayah Ibnu Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf, salah satu pemimpin dari kabilah Quraisy. Yang memiliki cukup unsur untuk berkuasa di zaman Jahiliyah yakni keluarga bangsawan, cukup kekayaan dan mempunyai sepuluh orang putra.Orang yang memiliki ketiga unsur tersebut di zaman jahiliyah berarti telah mempunyai jaminan untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan.Umayah senantiasa bersaing dengan pamannya yaitu Hasim Ibnu Abdi Manaf.Sesudah datang agama Islam persaingan yang dulunya merebut kehormatan menjadi permusuhan yang lebih nyata.Bani Umayah dengan tegas menentang Rosululloh, sebaliknya Bani Hasim menjadi penyokong dan pelindung Rosululloh, baik yang sudah masuk Islam atau yang belum.Bani Umayyah adalah orang-orang yang terakhir masuk agama Islam pada masa Rosululloh dan salah satu musuh yang paling keras sebelum mereka masuk Islam.[1]
  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Umayyah?
  2. Bagaimana peradaban islam pada masa Dinasti Umayyah?
  3. Apa saja sebab-sebab kemunduran Dinasti Umayyah?
  1. PEMBAHASAN
A.    Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah
Kerajaan Bani Umayyah didirikan oleh Mu’awiyah Bin Abu Sufyan padatahun 41 H/661 M di Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132H/750M. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah seorang politisi handal dimana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada masa khalifah Utsman bin Affan cukup mengantar dirinya mampu mengambil alih kekuasaan dari genggaman keluarga Ali bin Abi Thalib.
Awal kedaulatan bagi kedaulatan Bani Umayyah adalah sepeninggal Khalifah Ali ibn Abi Thalib, yang mana gubenur Syam tampil sebagai pemimpin Islam yang kuat. Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb yang dulunya gubenur Syam, menggantikan posisi Ali ibn Abi Thalib sebagai pemimpin Islam dengan cara yang bisa dibilang curang, yang waktu itu berawal dari negosiasi antara pihak Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari dengan pihak Muawiyyah yang diwakilkan oleh Amr bin Ash. Dari hasil negosiasi keduanya menghasilkan kesepakatan untuk menjatuhkan Khalifah Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyyah, kemudian setelah itu dipilihlah seorang khalifah yang baru. Sebagai orang tertua, Abu Musa Al-Asy’ari yang mengawali dalam mengumumkan hasil negosiasi tersebut.namun berbeda halnya dengan Abu Musa Al-Asy’ari, Amr bin Ash justru mengumumkan untuk menjatuhkan Khalifah Ali ibn Abi Thalib tetapi menolak untuk menjatuhkan Muawiyyah, dengan kata lain Amr bin Ash mendukung pengangkatan Muawiyyah sebagai pemimpin yang menggantikan Khalifah Ali ibn Abi Thalib.
Kekhalifahan Muawiyah ini diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dantipu daya, tidak dengan pemilihan. Hal ini berbeda dengan proses pemilihan kepala Negara pada masa sebelumnya, yang diniliai cukup demokrasi. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut.Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.
Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya akibatdari kemenangan terbunuhnya Khalifah Ali, akan tetapi ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan politiknya dimasa depan.Adapun faktor keberhasilan tersebut adalah:
1.      Dukungan yang kuat dari rakyat Syria dari keluarga Bani Umayyah.
2.      Sebagai administrator, Muawiyah mampu berbuat secara bijak dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting.
3.      Muawiyah memiliki kemampuan yang lebih sebagai negarawan sejati,bahkan mencapai tingkat hilm sifat tertinggi yang dimiliki oleh parapembesar Mekkah zaman dahulu, yang mana seorang manusia hilm sepertiMuawiyah dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan dan intimidasi.

B.   Peradaban islam pada masa Dinasti Umayyah
1.      Khalifah-khalifah pada masa Dinasti Bani Umayyah
Masa kekuasaan Dinasti Umayyah hampir 1 abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 khalifah.Diantara mereka ada pemimpin-pemimpin yans berjasa besar sesuai dengan kehendak zamannya, sebaliknya ada pula khalifah yang tidak patut dan lemah. Adapun raja-raja yang berkuasa pada masa Dinasti Umayyah, antara lain:
1.      Mu’awiyah I bin Abi Sufyan (41-61H/661-680M)
2.      Yazid bin Mu’awiyah (61-64H/680-683M)
3.      Mu’awiyah II bin Yazid (64-65H/683-684M)
4.      Marwan bin Hakam (65-66H/684-685M)
5.      Abdul Malik bin Marwan (66-86H/685-705M)
6.      Al-Walid bin Abdul Malik (86-97H/705-715M)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik (97-99H/715-717M)
8.      Umar bin Abdul Azis (99-102H/717-720M)
9.      Yazid bin Abdul Malik (102-106H/720-724M)
10.  Hisyam bin Abdul Malik (106-126H/724-743M)
11.  Al-Walid II bin Yazid (126-127H/743-744M)
12.  Yazid III bin Walid(127H/744M)
13.  Ibrahim bin Malik (127H/744M)
14.  Marwan II bin Muhammad (127-133H/744-750M)[2]
Para sejarawan umumnya berpendapat bahwa para kholifah terbesar dari daulah Bani Umayyah ialah Muawiyah, Abdul Malik, dan Umar Bin Abdul Malik.
Muawiyah dibaiat oleh umat Islam di Kufah, sedangkan Hasan dan Husein  dikembalikan ke Madinah. Hasan wafat di kota nabi pada tahun 50 H. Diantara jasa-jasa Muawiyah, ialah mengadakan dinas pos kilat dengan menggunakan kuda-kuda yang selalu siap ditiap pos dan mendirikan kantor cap percetakan mata uang. 
Muawiyah wafat pada tahun 60 H di Damaskus karena sakit.  Dan digantikan oleh putranya yang bernama Yazid, yazid tidak sekuat ayahnya dalam memerintah, banyak tantangan yang dihadapinya antara lain ialah membereskan pemberontakan kaum Syiah yang telah membaiat husein sepeninggal muawiyah. Terjadi perang di Karbala yang menyebabkan terbunuhnya Husein, cucu Nabi. Lain halnya dengan penduduk Makkah sebagian dari mereka membaiat Abdullah bin Zubeir menjadi kholifah. Yazid wafat pada tahun 64 h setelah memerintah 4 tahun dan digantikan oleh anaknya yaitu Muawiyah II.Muawiyah II hanya memerintah selama 40 haridan meletakkan jabatan sebagai kholifah 3 bulan sebelum wafatnya. Ketika Muawiyah II wafat dan tidak menunjuk siapa penggantinya maka keluarga besar Umayyah mengangkat Marwana bin Hakam sebagai khalifah, karena ia dianggap orang yang dapat mengendalikan kekuasaan karena pengalamannya. Khalifah yang baru dapat menghadapi segala kesulitan satu demi satu, dia mengalahkan kabilah Ad-Dahak bin Qais, kemudian menduduki mesir dan menetapkan putranya Abdul Aziz sebagai gubernurnya.Marwan menundukan Palestina, Hijaz dan Irak. Ia wafat pada tahun 65 H setelah memerintah 1 tahun, dan menunjuk anaknya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai pengganti sepeninggalnya secara berurutan.
Khalifah Abdul Malik adalah orang kedua yang terbesar dalam deretan para kholifah bani Umayyah, yang disebut-sebut sebagai pendiri kedua bagi kedaulatan Umayyah.Ia dikenal sebagai seorang yang dalam ilmu agamanya terutama dalam bidang fiqih. Ia telah berhasil mengembalikan integritas wilayah dan wibawa kekuasaaan keluarga Umayyah dari segala pengacau negara yang merajalelapada masa-masa sebelumnya.
Khalifah Abdul Malik memerintah paling lama yaitu 21 tahun ditopang oleh para pembantunya yang juga termasuk orang kuat menjadi kepercayaannya, seperti Al-Hajjaj bin Yusuf yang gagah berani di medan perang, dan Abdul Aziz, saudaranya yang dipercaya memegang sebagai gubernur Mesir. Di samping berjaya di medan perang, Al-Hajjaj juga berhasil memperbaiki saluran-saluran sungai Eufrat dan Tigris,memajukan perdagangan,dan memperbaiki sistem ukuran timbang,takaran dan keuangan,disamping menyempurnakan tulisan mushaf AlQur’an dengan titik pada huruf-huruf tertentu.Khalifah Abdul Malik wafat tahun 86 H. Dan diganti oleh putranya yang bernama Al-Walid.
Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memerintah 10 Tahun lamanya, pada masa pemerintahannya kekayaan dan kemakmuran melimpah ruah, karena kekayaannya melimpah ruah maka ia sempurnakan pembangunan gedung-gedung, pabrik-pabrik, dan jalan-jalan yang dilegkapi dengan sumur-sumur untuk para kholifah yang berlalu lalang. Ia membangun masjid Al-Amawi di Damaskus. Kholifah Al-Walid bin Abdul Malik wafat pada tahun 96 H, dan digantikan oleh adiknya yang bernama Sulaiman sebagaimana wasiat ayahnya.
Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik tidak sebijak kakaknya dalam memerintah, orang-orang yang berjasa dimasa para pendahuluny yang  banyak yang disiksa, seperti keluarga Al-Hajjaj bin Yusuf dan Muhammad bin Qosim yang menundukan India. Ia menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya sebelum meninggal pada tahun 99 H.
Kekhalifahan Umayyah mulai mundur sepeninggal khalifah Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Hisyam bin Abdul Malik perlu dicatat juga sebagai khalifah yang sukses, meskipun tidak secemerlang ketiga khalifah yang masyhur sebagaimana disebutkan diatas. Ia memerintah dalam waktu yang panjang yakni 20 tahun. Ia dapat pula dikategorikan sebagai khalifah Umayyah yang terbaik karena kebersihan pribadinya, pemurah, gemar pada keindahan, berakhlaq mulia dan tergolong teliti terutama dibidang keuangan, disamping bertaqwa dan berbuat adil. Pada masa pemerintahannya terjadi gejolak yang dipelopori oleh kaum Syiah yang bersekutu dengan kaum abbasiyyah. Mereka menjadi kuat karena kebijaksanaan yang diterapkan oleh kholifah Umar bin Abdul aziz, yang bertindak lemah lembut kepada semua kelompok. Masih ada 42kholifah lagi setelah Hisyam yang memerintah hanya dalam waktu 7 tahun, yakni Al-walid II binYazid II, Yazid III bin Al-Walid, Ibrohim bin Al-Walid, dan Marwan bin Muhammad.
2.        Prestasi-prestasi pada masa Dinasti Umayyah
Kemajuan dalam bidang perluasan wilayah
Pada masa pemerintahan Muawiyyah terkenal sebagai era yang agresif karena perhatian terpusat kepada perluasan wilayah, dan kemajuan besarpun hadir dengan berhasilnya perluasan wilayah. Kemajuan Dinasti Umayyah terdapat di masa Muawiyyah bin abi Sofyan sampai pemerintahannya Hiyam bin Abdul Malik 661 M/ 41 H – 743 sedangkan pemerintahan setelahnya hanya menuju kepada kehancuran Muawiyyah.
Dimasa Muawiyyah, terdapat peristiwa paling mencolok yakni penyerangan kota konstan tinopel melalui suatu ekspedisi yang dipusatksn di kota pelabuhan Dardanela, setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau di Laut Tengah seperti Rodhes, Kreta, Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang bernama Award, tidak jauh dari Ibu Kota Romawi Timur. Dibelahan Timur, Muawiyyah berhasil menaklukan Khurrasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan. Ekspansi ke timur yang dirintis oleh Muawiyyah, lalu disempurnakan oleh Khalifah Abdul Malik.Dibawah komando gubenur Irak Hajjaj ibn Yusuf, tentara kaum muslimin menyebrangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkhand.Dimasa kekuasaan al-Walid I dikenal dengan “masa kemenangan yang luas”. Dimasa ini, pengepungan atas kota konstantinopel dihidupkan kembali guna menklukan ibu kota Romawi,meski belum berhasil tetapi memberi hasil yang cukup memuaskan yakni dengan menggeser tapal batas pertahanan Islam lebih maju kedepan, dengan menguasai basis-basis militer Kerajaan Romawi di Mar’asy dan Amuriyah. Kemudian dilanjutkan dengan keberhasilan di front Afrika. Disamping itu, kejayaan Bani Umayyah juga tercermin dari pembangunan di berbagai bidang seperti bidang politik ataupun sosial kebudayaan. Didalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tatanan pemerintahan yang sama sekali baru, yakni memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks.
Dalam jangka 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin berramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam, yang meliputi wilayah Spanyol, seluruh wilayah Afrika utara, Jazirah Arab, suriah, Palestina, setengah bagian dari daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgiztan yang termasuk sovyet Rusia.
Kemajuan bidang Peradaban
Dalam bidang peradaban Dinasti Umayyah telah menemukan jalan yang yang lebih luas kearah pengembangan dan perluasan berbagai bidang.
1)      Kemajuan di bidang Ilmu pengetahuan
Menurut Jurji Zaidan (George Zaidan) beberapa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
a)    Pengembangan Bahasa Arab
     Para penguasa Dinasti Umayyah telah menjadikan Islam daulah (Negara), kemudian dikuatkannya dan dikembangkanlah Bahasa Arab dalam wilayah kerajaan Islam. Upaya tersebut dilakukan dengan cara menjadikan Bahasa Arab sebagai bahas resmi dalam dalam tata usaha Negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat menyurat hrus menggunakan bahasa Arab, yang sebelumnya menggunakan Bahasa Romawi atau bahasa Persia di daerah-daerah bekas jajahan mereka dan di Persia sendiri.
b)   Marbad kota pusat kegiatan ilmu
    Dinasti Umayyah juga mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat kegiatan Ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang diberi nama kota Marbad. kota satelit dari Damaskus. Di Kota Marbad inilah berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, dan cendekiawan.
c)      Ilmu Qira’at
      Ilmuqiraatialahilmu yang mempelajaritentangbacaan al-quran. Dalam dunia islam, dikenal ada tujuh macam bacaan al-quran yang disebut qira’atus sab’ah .Pelopor ilmu qira’atussab’ah adalah Abdullah bin katsir (wafat 120 H ) dan Asim bin Abi nujud  ( wafat  118 H di kuffah )
Selainilmuqira’at, berkembang pula ilmutatabahasa (nahwudanshorof) danilmubalaghoh. Makalahirlahparapenyairterkenalantaralain ;
a.       Nu’man bin basyir al-anshari ( wafat 65 H )
b.      Ibnmafrag al-hamiri (  wafat 69 H)
c.       Miskin ad-Daramy (wafat 90 )
d.      Al- ahkal ( wafat 90 H)
e.       Jarir (wafat  111 H )
f.       Abdul aswad ad-Dua’ly (wafat 69 H )
g.      Al- farazdaq ( wafatwafat 90 H)
h.      Ar-rai (wafat  90 H)
i.        Abu najamar-rajih (wafat 130 H )
j.        Al-a’syarabi’ah (wafat 85 H)       
d)     Ilmu Hadits
Khalifahdinastiumayyah yang berjasamembukukanhadistialahumar bin abdulaziz .Padatahun 99 H. Ketikaumar bin abdul azizdinobatkansebagaikhalifah, tergeraklahhatinyauntukmembukukanhadits pad tahun 100 H,  khalifah umar bin abdul aziz memerintahkankepadagubernurmadinahdangubernur yang lain untukikutsertadalampengumpulanhadits-haditsnabi, selainitu, iajugasecarakhususmenulissuratkepadaAbuBakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihabaz-Zuhry,olehsebabitu, Ibnu Syihabaz-Zuhrykemudiandisebutulama yang pertama kali membukukanhadits.
e)      Ilmu Tafsir
Ilmutafsirberkembangdarilisankelisansampaiakhirnyatertulis, ahlitafsir yang pertamapadamasaituialahIbnuAbbas. Meskipun di pandang sebagai pelopor ahli tafsir. Akan tetapi, banyak kitab tafsir yang di riwayatkan darinya, misalnya kitab Tafsir Tanwir Al-Miqbas  Min Tafsir Libni Abbas yang di tulis oleh abi tahir Muhammad bin Ya’qab Asy-Syarazy Asy Syafi’i.
f)       Ilmu Fiqih
Perkembangan ilmu fiqih pada masa dinasti Umayyah berawal dari banyaknya para sahabat Nabi SAW yang berpencar keberbagai daerah sistem masyarakat yang berbeda. Diantara ahli fiqih yang terkenal pada masa dinasti Umayyah, antara lain; Ata’ bin Rabbah di Makkah, Ibrahim An-Nakha’i di Kuffah, Hasan Al-Basri di Kuffah , Tawus di Yaman, dan Amir bin Asy-Sya’bi.
g)      Ilmu Jughrafi dan Tarikh
Ilmujughrafidantarikhpadamasadinastiumayyahtelahberkembangmenjadiilmutersendiri. Demikian pula ilmu tarikh (ilmu sejarah ) , baik sejarah umum maupun sejarahislam pada khususnya. Adanya pengembangan dakwah islam kedaerah-daerah baru yang luas dan jauh menimbulkan gairah pengarang ilmu jughrafi (ilmu bumi atau geografi), demikian pula ilmu tarikh. Ilmu jughrafi dan ilmu tarikh lahir pada masa dinasti umayyah, barulah berkembang menjadi suatu ilmu betul-betul berdiri sendiri pada masa ini.
h)      Usaha Penerjemahan
Untuk kepentingan pembinaan dakwah islamiyah, pada masa dinasti umayyah di mulai pula penerjemah buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa lain dan bahasa arab. Adapun yang mula-mulamelakukanusahapenerjemah hanyaitu Khalid bin yazid,seorangpangeran yang sangatcerdasdanambisius. Ketika gagal memperoleh kursi kekhalifahan,ia menumpahkannya dalam ilmu pengetahuan, antara lain mengusahakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa lain ke bahasa arab. DidatangkannyalahkeDamaskusparaahliilmupengetahun yang melakukanpenerjemahandariberbagaibahasa. Maka di terjemahkanbuku-bukutentangilmukimia, ilmuastronomi, ilmufalak, ilmufisika, kedokteran, dan lain-lain.Khalid sendiriadalahahlidalamilmuastronomi.
2)      Kemajuan di bidangpemeintahan
Kemajuan di bidangpemerintahanyangtelah di capaiDinastiumayyahantar lain:
a)      Organsasipolitik ( an- Nizamu- as- Siyasi )
Organisasipolitikdanadministrasipemerintahanpadamasadinastiumayyah meliputijabatankhalifah(kepala Negara ), wizarah ( kementrian ), kitabah ( sekretariatan), danhijabah (pegawaianpribadi) yang masing-masingmemilikitugas yang berbeda-beda
b)     Organisasi Tata Uaha  Negara (an- Nizam al- idary)  
Organisasi Tata usaha Negara padamasadinastiumayyah , di bagimenjadiempatdepartemen,  yaitu ;
a.       Diwan al kharraj ( departemenpajak)
b.      Diwanar-Rasa’il ( departemenpos )
c.       Diwan al-Musygillat (departemen yang bertugasmenanganiberbagai  kepentinganumum)
d.      Diwan al-Khatim(departemen yang menyimpanberkas-berkas / dokumen-dokumenpenting Negara.  
c)      Organisasi keuangan ( an- nizam al-maali )                 
Dinasti umayyah tetap mempertahankan dan memakai lembaga keuangan sebagaimana pada masa khulafaurrasyidin.Sumber-sumber keuangan pada masa pemerintahan dinasti umayyah berasal dari pajak tanah (kharraj) dari daerah-daerah takluknya. Pada masa hisyam bin abdul malik kharraj di kenakan kepada semua penduduk  yang berada di bawah kekuasaan dinasti umayyah, tujuannya untuk mengatasi krisis kenangan Negara yang banyak berkurang pada masa pemerintahan khalifah umar bin abdul aziz .
d)     Organisasi ketentaraan ( an- Nizam al- Harby)  
Organisasi ketentaraan pada  masa dinasti  umayyahmerupakankelanjutandariupaya yang telah di buatolehkhulafaurrasyidin.
e)      OrganisasiKehakiman (an- Nizam al-qodi )
PadamasaDinastiumayyah, kekuasaanpolitiktelah di pisahkandengankekuasaankehakimanpadamasaitu di bagimenjaditigabadanyaitu :
1)      Al- Qada
Al-qadha adalah badan yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara  
yang umum yang berhubungandengan Negara.Seperti; 
·         Memberi  penerangandanpembinaanhukum
·         Memutuskansengketadenganadil
·          Menyelesaikan sengketa perselisihan dan masalah wakaf
Al-qadha di pimpin oleh seorang qadhi. Tugas seorang qadhi adalah membuat fatwa-fatwa hukum dan peraturan yang di gali langsung dari al-quran, sunah,  dan ijma’. Badan ini semacam peradilan agama dan umum di indonesia.


2)      Al- Hisbah
Al-hisbah adalah badan yang bertugas  menyelesaikan perkara-perkara umum dan soal-soal pidana yang memerlukan tindakan cepat. Seperti;
·         Menegakkan kebaikan
·         Mencegah kedzaliman
Al-hisbah di pimpin oleh seorang muhtasib yang bertugas:
·         Menangani kriminal
·         Mengawasi  hukum
·         Menghukum orang yang mempermainkan hukum syari’at
3)      al- Nadarfil- madali
Mengurusi  penyelesaian perkara perselisihan yang terjadi antara rakyat dan negara.  Contohnya mengurusi tentang penganiyaan yang di lakukan oleh pejabat tinggi, bangsawan, hartawan, keluarga sultan terhadap rakyat biasa. Badan ini tidak boleh di putuskan oleh qadha dan hisbah, dan badan ini di pegang oleh khalifah. Contoh badan ini di indonesia adalah pengadilan tinggi atau mahkamah agung.
3.      MASA KEHANCURAN DINASTI UMAYYAH
Meskipunkejayaantelahdiraiholehbaniumayyahternyatatidakbertahanlebih lama, dikarenakankelemahan-kelemahan internal dansemakinkuatnyatekanandaripihakluar.
Menurut Dr. BadriYatim, adabeberapafaktor yang menyebabkandinastiumayyahlemahdanmembawanyakepadakehancuran, yaitusebagaiberikut;
1.      Sistempergantiankhalifahmelaluigarisketurunanadalahsesuatuyangbarubagitradisiarab, ketidak jelasansistempergantiankhalifahinimenyebabkanterjadinyapersaingan yang tidaksehat di kalangananggotakeluargaistana.  
2.      Figur khalifah yang lemah, kecenderungan munculnya figur kholifah yang lemah,tidak memiliki potensi kepemimpinandan bergaya glamor serta mengabaikan persoalan-persoalan agama merupakan konsekuensi logis sistem konsekuensi logis sistem warisan kekhalifahan yang ditegakkan oleh oleh dinasti bani umayyah.
3.      Konflikpolitik yang terjadi di masaAli.Sisa-sisaSyi’ah (parapengikutali ) dankhawarij, baiksecaraterbukamaupunsecaratersembunyi. penumpasanterhadapgerakan-gerakanbanyakmenyedotkekuasaanpemerintah.  
4.      PertentanganetnisantarasukuArabia utara (BaniQais) danarabselatan (BaniKalb) yang sudahadasejakzamansebelumislamsemakinruncing. Perselisihaninimengakibatkanparapenguasabaniumayyahmendapatkesulitanuntukmenggalangpersatuankesatuan.Disampingitu, sebagianbesargolongantimuradalahlainnyamerasatidakpuas, di tambahkeangkuhanbangsaarab yang di perhatikanpadamasabaniumayyah.
5.      LemahnyapemerintahandaulahbaniUmayyahjugadisebabkanhidupmewah di lingkunganistanasehinggaanak-anakkhalifahsanggupmemikulbebanberatkenegaraantatkalamerekamewarisi kekuasaan. Di sampingitu, sebagianbesargolonganawamkecewakarenaperhatianpengusahaterhadapperkembangan agama sangatkurang.
6.      Munculnyakekuatanbaru yang di peloporiolehketurunan Al-Abbas bin abbas Al- Muthalib. GerakaninimendapatdukunganpenuhdariBaniHasyimdangolongansyi’ah. Dan kaummawali yang merasa di kelasduakanolehpemerintahbaniumayyah.  
7.       
Beberapapenyebabtersebutmunculdanmenumpukmenjadisatu, sehinggaakhirnyamengakibatkankeruntuhanDinastiumayyah, disusuldenganberdirinyakekuasaan orang-orang BaniAbbasiyah.
Demikianlah, Dinastiumayyahpascawafatnya Umar bin Abdul Aziz yang berangsur-angsurmelemah.Kekhalifahansesudahnya di pengaruhiolehpengaruh-pengaruh yang melemahkandanakhirnyahancur. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkan oleh dinasti BaniAbbasiyah pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II ) pada tahun 127 H/74 M. 
  1. KESIMPULAN
Daulah Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyyah yang menang diplomasi di Siffin dan juga sebagai akibat terbunuhnya Khalifah Ali ibn Abi Thalib. Namun tidak hanya itu, ada dasar lain yang menjadikan daulah Bani Umaayyah itu lahir. Yakni dukungan yang kuat dari rakyat suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri.Mereka dengan kelompok bangsawan kaya makkah dari keturunan Bani Umayyah berada sepenuhnya di belakang Muawiyyah untuk mendukungnya.Dengan sumber kekuatan yang tiada habisnya baik itu kekuatan tenaga manusia ataupun kekayaan, dan juga negeri suriah yang terkenal makmur yang menyimpan sumber alam yang berlimpah tentunya sangat membantu Muawiyyah.
Salah satu kemajuan yang paling menonjol pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah kemajuan dalam system militer. Selama peperangan melawan kakuatan musuh, pasukan arab banyak mengambil pelajaran dari cara-cara teknik bertempur kemudian mereka memadukannya dengan system dan teknik pertahanan yang selama itu mereka miliki, dengan perpaduan system pertahanan ini akhirnya kekuatan pertahanan dan militer Dinasti Bani Umayyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat baik dengan kemajuan-kemajuan dalam system ini akhirnya para penguasa dinasti Bani Umayyah mampu melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke Eropa.
  1. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan.Kami sadar bahwa karya tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan. Oleh karena itu kami sangat berharap akan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.Amin.








DAFTAR PUSTAKA
Fu’adi,Imam.Sejarah Peradaban Islam I.Yogyakarta:Teras,2011.
Amin, Samsul Munir.Sejarah Perdaban Islam.Jakarta:Amzah,2009.
Yatim,Badri.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta :Raja GrafindoPersada,2000             



[1]http://Anshar.mtk.blogspot.com/2013/04/sejarah_peradaban_islam_dimasa_bani_umayyah.html


[2]Samsul Munir Amin,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:Amzah,2009),cet.2,hlm.118-122

0 komentar:

Posting Komentar