Pages

Senin, 07 Juli 2014

makalah haid, nifas dan istikhadhoh




HAID, NIFAAS DAN ISTIKHADHOH
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi: Tugas
Mata Kuliah: FIQIH
DosenPengampu: Saifudin Zuhri

Disusun Oleh:
Ma’rifatun                               (133311009)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2013

       I.            PENDAHULUAN
Berbicara tentang darah yang ada ditubuh wanita, kita  akan  banyak   membahas  tentang darah, diantaranya  darah bersih dan darah kotor. Darah yang biasa keluar dari vagina perempuan ada 3 macam yaitu: haidl, nifas, dan istihadloh. Masalah ini sangat penting dimengerti oleh semua wanita, laki-laki yang sudah beristri, juga para mu’alim, para da’I dan kita semua.Sebab, masalah ini sangat erat hubungannya dengan ibadah fardlu ‘ain, seperti: sholat dan puasa, dan semua wanita melakukannya. Seharusnya wanita yang berumur 9 tahun sudah mengerti tentang hal ini atau suaminya.Sebab umur  9  tahun  wanita  mungkin  sudah mengalami haidl dan kenyataannya anak-anak yang baru tamat MI atau SD sudah banyak yang haidl atau istihadloh. Padahal masih banyak orang yang sudah dewasa (suami, istri) yang sama sekali belum mengerti masalah ini, bahkan masih banyak yang belum mengerti cara-cara mandi besar yang benar, sholat, dan puasa yang wajib di qodloi. Ada yang sudah belajar namun masih banyak yang salah. Hal ini sangat membutuhkan perhatian kita semua! Lebih-lebih akhir ini banyak sekali wanita yang haidl nya tidak teratur.Oleh karena itu pemakalah mengangkat tema ini untuk menggugurkan kewajiban dan agar dapat membantu kebutuhan muslimin dan muslimat yang sangat mendesak ini. Sekalipun pemakalah sendiri masih sangat kurang.          
    II.            RUMUSAN  MASALAH
A.    Apa pengertian haid dan waktunya?
B.     Apa pengertian nifas dan waktunya?
C.      Apa larangan bagi wanita haidh dan nifas?
D.    Apa hukum mempelajari tentang haid, nifas dan istihadloh?
E.     Apa pengertian dan bagaimana cara ibadah bagi wanita istihadloh?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian haid dan waktunya
1.      Pengertian darah haid
Pengertian   haid secara harfiah berasal dari kata حاض – يحيض - حيضا)) yang artinya mengalir, dan secara istilah haid adalah darah yang keluar dari Rahim wanita yang sudah mencapai umur 9 tahun hijriyah kurang sedikit, tidak di karenakan penyakit atau sebab setelah melahirkan .Dan yang di maksud  kurang sedikit umur 9 tahun hijriyah kurang tidak genap 16 hari 16 malam. Jadi kalau mengeluarkan darah sudah termasuk haidl.[1]Apabila darah tersebut memenuhi 3 syarat bagi darah haidl, yakni:
a.       Tidak kurang 24 jam/1 hari 1 malam
b.      Tidak lebih dari 15 hari
c.       Bertempat pada waktu mungkin/bisa haidl
Contoh:
Pada umur 9 tahun kurang 20 hari mengeluarkan darah selama sepuluh hari, maka 8 hari lebih sedikit awal itu istihadloh, kemudian 6 hari kurang sedikit yang akhir itu darah haid.
Secara klinis  haidl  adalah merupakan hasil kerja sama yang sangat komplek antara otak, indung telur (ovarium) dan Rahim (endoterium). Menstruasi merupakan pelepasan lapisan endomentrium.[2]
2)      Waktunya Haidl
a.       Masa keluarnya darah haidl
Darah haid itu keluar paling sedikit satu hari satu malam, yakni 24 jam falakiyyah (istiwa’) baik  24 jam  itu  secara  terus  menerus  ataupun putus-putus. Jadi 24 jam  itu boleh  tidak  keluar  mulai  awal  sampai  24  jam , tetapi kumpulan dari darah yang terputus putus dalam beberapa hari, asal tidak lebih 15 hari 15 malam. Kalau darah itu ada 24 jam tetapi melampui 15  hari 15 malam, maka sebagian dari darah  itu dihukumi darah istikhadloh. Paling lamanya adalah 15 hari 15 malam. Sedangkan umumnya adalah 6 atau 7 hari.[3]
Warna darah haid tidak harus merah, dan darah warna merah juga belum disebut darah haidl. Karena menghukumi darah itu disebut darah haidl, terdapat syarat-syarat yang harus diperhatikan. Dalam  memahami darah haidh harus memahami warna, sifat dan waktu lamanya mengeluarkan darah haidl.
Warna darah haidl ada 5 macam:
1)      Hitam(warna ini paling kuat)
2)      Merah
3)      Abu-abu (antara merah dan kuning)
4)      Kuning
5)      Keruh (antara kuning dan putih)
Maka kalau ada cairan keluar dari farji tetapi warnanya bukan salah satu dari warna yang 5 tersebut, seperti cairan putih yang keluar sebelum dan sesudah haidl, atau ketika sakit keputihan maka jelas ini bukan haidl tetapi sama dengan kencing, oleh karena itu jika keluar terus menerus maka tetap diwajibkan sholat, dengan cara yang telah ditentukan dalam masalah istihadloh.
Sedangkan sifat sifat darah(selain warna)ada 4 macam:
1.      Kental
2.      Berbau
3.      Kental sekaligus berbahu
4.      Tidak kental dan tidak berbahu
Darah yang hitam sekaligus kental adalah lebih kuat dibandingkan darah hitam yang tak kental, Darah hitam yang berbau adalah darah lebih kuat dibanding darah hitam yang tak berbau. Darah kental yang berbau itu lebih kuat dari darah kental yang tak berbau.
Kalau darah yang keluar ada dua macam dan sama kuatnya seperti darah hitam encer dan merah kental,maka darah yang lebih dulu keluar adalah yang lebih kuat.[4]
b.      Masa suci diantara 2 haidl
Masa suci diantara dua haidl itu paling sedikit 15 hari,jika tidak keluar darah dan sudah mencapai 15 hari, lalu keluar  lagi, jelas ini merupakan darah haidl, apabila memenuhi syarat syarat darah haidl tersebut diatas,walaupun belum tiba tanggal kebiasaanya.Umumnya masa suci itu 23 atau 24 hari, batas maksimal (paling lama) tidak terbatas.
Contoh:
Mengeluarkan darah pada tanggal 1 sampai 7,setelah itu suci dan pada tanggal 30 keluar lagi sampai tanggal 7 dan suci, tanggal 22 keluar lagi sampai tanggal 25.
Tanggal                   : 1,...7….15……….30….7………22…..25
Drah keluar             : (Haidl),,,,,,,,,,,,,,,,,(haidl),,,,,,,,,(haidl)

B.     Pengertian Nifas dan Waktunya
1.      Pengertian nifas
Nifas adalah darah yang kdeluar dari Rahim wanita setelah melahirkan, walaupun anak yang dilahirkan belum berwujud manusia atau masih berupa alaqah (darah kental) atau (segumpal daging).[5]
Darah yang keluar setelah melahirkan itu disebut darah nifas jika jarak antara  melahirkan dan keluar darah tidak melebihi 15 hari 15 malam.Jika melebihi15 hari 15 malam,maqka darah yang keluar disebut darah haidl jika memenuhi  syarat  syarat haidl.Jika tidak memenuhi darah haidl ,maka disebut darah fasad atau istihadloh.
Jika setelah  melahirkan tidak langsung mengeluarkan darah tetapi bersih (naqo’) terlebih dahulu, lalu mengeluarkan darah , maka diperinci sebagai berikut:
Kalau keluarnya darah tadi sebelum melebihi 15 hari maka tetap termasuk darah nifas, lalu masa diantara melahirkan dan keluarnya darah tersebut dihitung NIFAS (nifas ada dan laa hukman) artinya: sebanyak- banyak nifas yang 60 hari itu dihitung mulai melahirkan ,meskipun tidak keluar darah,akan tetapi sebelum keluarnya darah dihukumi suci.Tetapi kalau keluarnya darah setelah melebihi 15 hari maka ini darah haidl kalau memenuhi syarat haidl.Jadi tidak ada sama sekali nifas.[6]
2.      Masa keluar darah nifas
Nifas itu paling sedikit setetes darah artinya asal ada darah yang keluar meskipun sedikit sudah dinamakan nifas. Pada umumnya lama nifas 40 hari dan paling lama 60 hari.
Oleh karena itu kalau darah nifas berlangsung melebihi 60 hari, maka termasuk istihadlah di dalam nifasnya. Yakni sebagian nifas, sebagian darah rusak (istihadhoh) dan sebagian haidl. Namun apabila tidak melebihi 60 hari, maka seluruhnya darah nifas meskipun bermacam-macam darah dan tidak sama dengan adatnya.[7]

C.     Larangan-larangan Bagi Wanita Haidl dan Nifas
Larangan-larangan bagi wanita yang sedang haidl dan nifas, ada 9 perkara yaitu:
1)      Sholat, baik fardlu maupun sunnah. Demikian juga haram melakukan sujud tilawah/ sujud syukur.
فإ ذا أقبلت حيضتك فدعى الصلاة وإذا أدبرتت فاغسلى عنك الدم ثم صلي
"jika haidl datang maka tinggalkanlah sholat, dan jika berhenti maka bersihkan darahnya, lalu sholat”(HR.Al-Bukhori, An-Nasa’i, dan Abu Dawud)[8]
2)      Berpuasa baik fardlu maupun sunnah. Jika seorang wanita haid, maka ia tidak diwajibkan untuk berpuasa tapi ia wajib menggantikan puasanya pada hari yang lain. Dalam hadist muttafaqun alaih, Aisyah berkata:
كنا نحيض علي عهدي رسول الله ص م فكنا نؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة  }}
“Kami haidl pada masa Rosulullah, maka ketika itu kami diperintahkan untuk mengqodlo puasa kami, tapi kami tidak diperintahkan untuk mengqodlo sholat kami”
3)      Membaca Al-Qur’an
لا يقرا الجنب ولا الحاض شيئا من القران (رواه الترمذي)
Artinya: Tidak diperbolehkan bagi orang yang junub dan wanita yang sedang haidl membaca sesuatu (ayat) dari Al-qur’an (HR, Turmudzi)
4)      Menyentuh dan membawa mushaf (Al-Qur’an)
Firman Allah menyatakan:
انه لقران كريم في كتاب مكنون لايمسه الا المطهرين تنزيل من رب العالمين
Artinya:
“sesungguhnya Al-Qur’an adalah bacaan yang mulia, pada kitab yang terpelihara (lauhul Mahfudz), tidak boleh menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam” (QS. Al-Waqia’ah: 77)
5)      Diam atau lewat dalam  masjid
Hadits Nabi menjelaskan:
اني لااحل المسجد لحائض ولاجنب (رواه ابو داوود)
Artinya: “saya tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haidl dan orang yang sedang junub” (HR. Abu Dawud)
6)      Thawaf
7)      Seorang wanita yang sedang haid haram untuk dijima’.
ويسئلونك عن المحيض، قل هو اذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتي يطهرن، فاذا تطهرن فاتوهن من حيث امركم الله
“mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanlah, haidl itu adalah suatu kotoran, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diridari wanita diwaktu hail. Dan jangan kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila merekatelah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.”(Q.S Al-Baqoroh:222)
8)      Haram bersenang-senang dengan bagian badan yang ada di antara pusar dan lutut perempuan.[9]
اصنعوا كل شيء الا النكاح
“Kalian boleh lakukan apa saja (terhadap istrimu yang sedang haidl) kecuali bersetubuh”
9)      Thalaq. Seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya apabila iasedang haidl. Karena Allah berfirman,
يا ايهاالنبي اذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن واحصوا العدة
“Hai Nab, apabila kamu menceraikan istri-istrimu , maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) Iddahnya yang wajar.”(Q.S. At-Thalaq:1)[10]
D.    Hukum mempelajari tentang haid, nifas dan istihadloh
Bagi wanita muslimah balighah diwajibkan belajar tentang haidl, nifas, dan istihadloh serta ibadah yang menjadi kewajibannya, baik dikala masih remaja dan maupun sudah bersuami. Jika sudah bersuami dan suaminya mampu mengajarinya, maka suami wajib mengajarinya. Jika tidak mampu, maka wanita tersebut wajib keluar rumah untuk belajar tentang haidl, nifas, bersuci, shalat, dan seterusnya. Dan suami haram melarang istrinya keluar rumah untuk belajar tentang haidl, nifas, dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah wajib, jika dia tidak mampu mengajarinya. Karena kewajiban belajar tentang haidl,nifas,thaharoh dan seterusnya hukumnya fardlu ‘ain bagi wanita muslimah dan fardlu kifayah bagi laki-laki.
Dan untuk selain ilmu-ilmu haid dan ilmu ibadah wajib lainnya, wanita dilarang keluar rumah untuk mempelajarinya, kecuali atas seizin suaminya. Karena belajar selain ilmu ibadah wajib hukumnya fardlu kifayah.[11]
Hal ini harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh.Sebab masih banyak sekali wanita yang sudah haidl atau nifas atau istihadloh,tetapi belum mengerti tentang hukum-hukum yang penting ini.Bahkan banyak yang berumah tangga,baik yang laki-laki maupun perempuan sama sekali belum mengerti tentang hal ini.Padahal bab ini sanmgat kuat hubunganya dengan sholat,puasa,mandi,hubungan suami istri dan sebagainya.



E.     Pengertian dan cara ibadah bagi wanita istihadloh
1.      Pengertian istihadloh
Istihadloh  secara bahasa mempunyai arti mengalir, dan secara istilah syar’i adalah darah penyakit yang keluar dari farji wanita yang tidak sesuai dengan ketentuan haid dan nifas.
و الإستحــاضة : الدم الخارج فـي غير أيام الحيض و النفـــاس لا على سبيل الصحة من عرق في أدنـى الرحم
إعـانة المبــتدين ببعض فروع الدين
Istihadloh  ialah darah  yang  keluar di luar hari2 haid dan nifas, tidak di jalan sehat (suatu penyakit). Yang  keluar dari  otot  dibawah  Rahim.
(Lihat: I'anah al-Mubtadin bi Ba'dli Furu'i ad-Din hal 50)
Setelah kita mengetahui apa itu istihadloh, alangkah baiknya kita mengetahui warna2 darah yg keluar dari farji seorang wanita.


دماء الإستحاضة خمسة أسود و أحمر و أشقر و أصفر و أكدر. فالأســــود قوي و الأحمر ضعيف بالنسبة لأسود قوي بالنسبة للأشقر و الأشقر أقوى من الأصفر و الأصفر أقوى من الأكدر.
(التقريرات السديدة ص 167)
Darah Istihadloh ada 5.
1. Merah  kehitaman  (Coklat Tua)
2.Merah
3. Merah  kekuningan
4. Kuning
5. Kuning  keputih2an (Keruh)
Darah Merah  kehitaman (Coklat Tua) adalah darah kuat. Darah  Merah  itu lemah bila di bandingkan  pada darah Merah kehitaman (Coklat Tua), dan  kuat bila dibandingkan darah  Merah kekuningan. Darah  Merah kekuningan  lebih  kuat dari darah  Kuning. Darah  Kuning  lebih  kuat dari darah  Kuning  keputih2an (Keruh).
(Lihat: Taqriroh as-Sadidah hal 167)


  1. Penggolongan Wanita Yang Istihadloh
a)      Mubtadiah Mumayyizah
-Mubtadiah = wanita yang baru pertama kali istihadloh.
-Mumayyizah = wanita yang bisa membedakan kuat dan lemahnya darah istihadloh.
-Hukumnya = darah yang kuat adalah haid dan yang lemah istihadloh.
Penghukuman ini dengan syarat :
1.      Darah qowi tidak kurang dari minimalnya masa haid.
2.      Darah qowi tidak lebih dari maksimalnya masa haid.
3.      Darah dlo'if tidak kurang dari minimalnya masa suci.
4.      Darah dlo'if keluarnya harus berturut-turut tidak boleh diselingi darah qowi.
Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka wanita itu cacat syarat dari syarat-syaratnya tamyiz.
b)     Mubtadiah Ghoiru Mumayyizah
Yaitu wanita yang melihat darah hanya dengan satu sifat saja ( hanya melihat warna merah saja misalnya ) . Begitu juga mubtadiah mumayyizah yang tidak memenuhi syarat , hukum haidnya adalah sehari semalam dan sucinya 29 hari jika ingat waktu pertama keluar darah. Jika tidak ingat maka hukumnya seperti MUTAHAYYIRAH yang insya Allah akan diterangkan nanti.
c)      Mu'tadah Mumayyizah
-Mu'tadah adalah wanita yang sudah pernah mengalami haid dan suci.
-Mumayyizah adalah yang bisa membedakan qowi dan dlo'if nya darah.
-Hukumnya adalah sesuai dengan kemampuannya membedakan sifatnya darah walaupun tidak sesuai dengan kebiasaannya tiap bulan.
d) Mu'tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiratun Li 'Adatiha Qadran Wa Waqtan
-Mu'tadah = yang sudah pernah haid dan suci.
-Ghairu Mumayyizah = yang tidak bisa membedakan warnanya darah.
-Dzakiratu li 'adatiha qadran wa waktan = yang ingat akan kebiasaanya meliputi kadar dan waktunya.
Hukumnya : Haidnya dikembalikan kepada adat kebiasaanya tiap bulan baik kadar maupun waktunya.
e)      Mu'tadah Ghoiru Mumayyizah Nasiyatun Li 'Adatiha Qadran Wa Waktan ( Mutahayyirah )
Maksudnya adalah wanita yang pernah haid dan suci tetapi tidak ingat akan adat kebiasaan haidnya baik kadar dan waktunya.
contohnya ada seorang wanita keluar darah selama 20 hari dengan satu sifat, sedangkan dia lupa kadar haidnya, dan apakah haidnya itu diawal bulan, atau pertengahan bulan, atau diakhir bulan ?!
Mutahayyirah ini tidak wajib mandi kecuali setelah 15 hari, kemudian wajib mandi setiap masuk waktu shalat karena kemungkinan sudah suci.
      Wanita ini dalam hukumnya seperti wanita yang haid di dalam keharaman bersetubuh, masuk area masjid jika khawatir mengotorinya, memegang dan membaca Al-Qur'an diluar shalat untuk berhati-hati, karena setiap hari yang dilaluinya kemungkinan waktu haid. Dan wanita ini juga hukumnya seperti wanita yang suci didalam masalah shalat, puasa, thawaf dan thalaq untuk hati-hati karena kemungkinan sudah suci. Dan diwajibkan mandi setiap waktu shalat jika hendak melakukan shalat.
f)       Mu'tadah Ghairu Mumayyizah Dzakiratun Li 'Adatiha Qadran La Waktan
Wanita yang ingat kadar adat haidnya akan tetapi tidak ingat waktunya. Contoh : seorang wanita mengatakan " haidku 5 hari pada sepuluh hari pertama , dan aku ingat pada hari pertama aku suci "
Hukumnya : hari ke enam dipastikan haid, hari pertama dipastikan suci sebagaimana 20 hari yang akhir. Hari ke dua sampai akhir hari ke 15 dimungkinkan haid dan suci bukannya naqo' / berhenti keluar darah. Hari ke tujuh sampai akhir hari ke sepuluh kemungkinan haid, suci dan juga naqo'. Maka yang dipastikan haid dihukumi haid dan yang dipastikan suci dihukumi suci.
3.      Cara ibadah bagi mustahadloh
Istihadloh itu tidak menghalangi pada perkara yang dilarang atau haram sebab haidl. orang yang istihadloh itu hukumnya seperti orang yang suci, artinya ia tetap melakukan kewajiban-kewajiban syar’i, seperti puasa, sholat, membaca al-qur’an dan ibadah-ibadah yang menjadi kewajibanya, tetapi ia harus lebih hati-hati mengenai dan menjaga darah yang keluar, darah jangan sampek mengenai atau mengotori bagian selain jalan keluarnya.
Kemudian karena hadats  dan najisnya terus menerus maka jika akan melakukan sholat fardhu harus  melakukan 4 perkara terlebih dahulu,yaitu:
1.      Membasuh farji dari najis yang keluar
2.      Menyumbat farji dengan kapas atau yang serupa, supaya darah tidak menetes keluar. Oleh karena itu sumbatanya harus masuk pada bagian yang tidak wajib dibasuh pada waktu istinja’.Yaitu bagian farji yang tidak kelihatan ketika wanita berjongkok. Oleh karena itu jika sumbatanya keluar bagian yang wajib dibasuh atau istinja’ maka sholatnya tidak syah. Sebab membawa perkara kena najis. Wajib menyumbat tadi kalau memang butuh disumbat dan tidak sakit serta tidak sedang puasa. Kalau tidak butuh disumbat atau terasa sakit atau sedang puasa maka tidak wajib menyumbatnya, bahkan kalau puasa wajib tidak menyumbat diwaktu siang.
3.      Membalut farji dengan celana dalam atau sejenisnya. Wajib membalut ini jika membutuhkan dibalut dan tidak terasa sakit. Namun kalau tidak ingin dibalut atau terasa sakit maka tidak wajib dibalut
4.      Bersuci dengan wudlu atau tayamum.
Semua perkara diatas wajib dijalankan setiap akan sholat fardlu dan sudah masuk waktu shalat dilakukan dengan tertib dan segera dan setelah selesai bersuci supaya cepat-cepat sholat.
Kalau tidak segera sholat maka batal dan wajib mengulangi empat perkara tadi seluruhnya, kecuali jika tidak segera sholat tadi disebabkan kemaslakhatan sholat, misalnya: menjawab adzan, ijtihad arah kiblat, menutup aurat, makatidak batal.
Kalau sudah menjalankan empat perkara tersebut tetapi belum sholat, tiba-tiba mengalami hadats, maka wajib mengulangi seluruhnya.[12]
VI.KESIMPULAN
            Darah yang keluar dari farji wanita itu ada 3 macam, yaitu: 1.haidl, 2. Nifas 3. Istihadloh.Haidl adalah darah yang keluar dari farji seorang perempuan setelah umur 9 tahun, dengan keadaan sehat (tidak karena sakit) tetapi memang watak atau kodrat wanita, dan tidak setelah melahirkan anak. Adapun darah yang keluar karena sakit maka dinamakan darah istihdloh (seperti ketentuan dalam bab istihadloh). Dan darah yang keluar setelah melahirkan  dinamakan nifas.
Faidah haidl adalah salah satu dari tanda-tanda baligh. Lengkapnya alamat baligh itu ada tiga:
Untuk laki-laki dua: Mengeluarkan mani pada umur 9 tahun dan umur 15 tahun apabila setelah umur 9 tahun tidak mengeluarkan mani, maka awal balighnya pada umur 15 tahun.       
Untuk perempuan ada tiga: Yaitu keluar darah haidl setelah umur 9 tahun  atau kurang sedikit (tidak sampai 16 hari) , keluar mani setelah umur 9 tahun atau kurang sedikit, umur 15 tahun yakni jika setelah umur 9 tahun tidak haidl juga tidak keluar mani, maka awal balighnya umur 15 tahun, jadi meskipun umur 9 tahun tapi belum keluar haidl dan mani maka belum belum baligh.
            Bila anak laki-laki atau pun perempuan telah melakukan salah satu alamat-alamat tersebut, maka sudah wajib sholat, puasa romadhon dan kewajiban-kewajiban syar’i. Maka  hukum mempelajari tentang haidl, nifas, dan istihadloh itu fadhu ‘ain bagi perempuan, fardhu kifayah bagi laki-laki.
V.PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan. Kami sadar bahwa karya tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan. Oleh karena itu kami sangat berharap akan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin.
















DAFTAR PUSTAKA
Ardani Bin Ahmad, Muhammad. 1998 , Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,
Ibrahim,Su’ad,2011. Fiqih Ibadah Wanita,Jakarta:Amzah
Muhammad Ibnu Qasim, Fathul Qorib
Zuhri, Saifudin. 2010  Buku Pintar Haidl, Mojokerto: AL Maba


[1] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm.13
[2] Saifudin Zuhri, Buku Pintar Haidl,Mojokerto:Al Maba,hlm.26
[3] Saifudin Zuhri,    Buku Pintar Haidl,Mojokerto:Al Maba,hlm.32

[4]  Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm.22
[5] Saifudin Zuhri,  Buku Pintar Haidl,Mojokerto:Al Maba,hlm. 51
[6] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm. 84
[7] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm. 85
[8] Su’ad Ibrahim,Fiqih Ibadah Wanita,(Jakarta:Amzah,2011),cet 1,hlm 245
[9] Imron Abu Amar,Terjemah Fathul Qorib,Kudus:Menara Kudus.hlm.62-70
[10] Saleh Al-Fauzan,Fiqih Sehari-hari,Jakarta:Gema Insani, hlm.50-51
[11]Saifudin Zuhri, Buku Pintar Haidl,Mojokerto:AL Maba,hlm. 31
[12] Muhammad Ardani Bin Ahmad, Risalatul Mahaidl, Surabaya: Al Miftah,hlm.82

2 komentar:

Tya mengatakan...

BERKORBANLAH DEMI MELEPASKAN DIRI DARI KEJAHILAN!
Suatu hal yang menjadi problem bagi para muslimah dan memang permasalahan yang begitu kompleks bahkan ada seorang ulama' yang ditanya sahabatnya "Wahai Syaikh, mengapa dalam kitab karanganmu tidak ada bab Haid, Nifas dan Istihadhah? Beliau pun menjawab, Bagaimana aku akan menulis bab itu, kita (lelaki) tak mengalaminya, dan wanita tak ada yang bertanya padaku.
Antara topik menarik yang dibahaskan dalam kitab TUHFATUL AIZZA adalah pengenalan haid. Bab ini menyentuh tentang sejarah kewujudan haid, keduudkan wanita haid, kadar haid, serta faedah haid bagi kaum wanita.
Kitab ini juga menyentuh perbahasan tentang darah dan sifatnya yang mana perkara ini sering kali menjadi masalah bagi kaum Muslimah. Pembahagian darah yang dijelaskan dalam kitab ini sedikit sebanyak akan membantu para Muslimah untuk lebih kenal dengan dirinya.
Bab yang paling panjang perbincangannya dalam kitab ini ialah bab istihadhah. Dalam bab ini, pengarang menjelaskan tentang definisi istihadhah dan permasalahan yang timbul dalam bab isitihadhah. Pengarang juga menekankan pembahagian mustahadhah iaitu wanita yang mengalami darah istihadhah. Kitab ini juga menerangkan tentang amalan yang dilarang semasa haid dan nifas serta penerangannya.
Bab nifas yang dibincangkan termasuklah definisi, tempohnya serta hikmah darah nifas bagi wanita. Kitab ini juga menjelaskan tentang mandi wajib dan kaifiatnya. Terdapat 76 rajah yang akan memudahkan pembaca untuk memahami contoh yang diberi. hubungi saya 0145395740

https://www.facebook.com/darahwanitakitab/

Shella widi mengatakan...

izin copy ya kak ^^

Posting Komentar