MAKALAH
APLIKASI
TEORI-TEORI BELAJAR
DALAM
PEMBELAJARAN
Dipresentasikan Dalam Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan
Yang Diampu Oleh: Dra.Ani Hidayati, M.Pd.

Disusun oleh:
Nila Kafidotur Rofi’ah (133311007)
Zaenatul Umroh (133311008)
Ma’rifatun (133311009)
Soya Anggisya Iqbi (133311010)
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
WALISONGO SEMARANG
TAHUN 2014
I.
PENDAHULUAN
Untuk memperoleh hasil maksimal dalam pembelajaran,
pengetahuan tentang pembelajaran merupakan perihal yang tidak dapat diabaikan
oleh seorang pengajar, seperti halnya seorang petani harus mengetahui
bagaimana tumbuhnya padi, pemupukannya, selain musim tanam dan tumbuhnya dan
teknologi pertanian.
Ada beberapa macam teori tentang pembelajaran
atau bagaimana seseorang belajar, yang secara garis besar dibagi menjadi teori
behaviorisme dan kognitivisme. Meskipun demikian beberapa ahli menambahkan
teori belajar berdasarkan psikologi sosial dan teori belajar dari Gagne serta
konstruktivisme.
Belajar adalah proses seseorang memperoleh
berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran didefinisikan
sebagai upaya untuk membelajarkan siswa (Degeng, 1989; 1990). Dalam definisi
ini terkandung makna bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih,
menetapkan, serta mengembangkan metode ataupun strategi yang optimal untuk
mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, bahkan kegiatan-kegiatan inilah
yang sebenarnya merupakan kegiatan inti pembelajaran.[1]
Keberhasilan
proses belajar pembelajaran sangat ditentukan oleh pemahaman seorang pendidik
terhadap teori belajar. Menurut Gagne dan Berliner (1984) salah satu fungsi
dari teori belajar adalah fungsi rekomendatif (penguat). Artinya teori belajar
sebagai ilmu terapan, tidak hanya memberikan wawasan konseptual tentang
fenomena belajar-pembelajaran, tetapi dapat membantu memberikan rekomendasi
untuk praktik pe;mbelajaran. Meskipun rekomendasi tersebut berupa rambu-rambu
umum dan tidak spesifik tertuju pada permasalahan yang dihadapi pendidik tetapi
saran dan pertimbangan rekomendatif yang diajukan diharapkan tetap dapat
dijadikan pedoman bagi pendidik untuk mengambil keputusan instruksionalnya.
I.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa Saja Teori-teori
Belajar dalam Pembalajaran?
B.
Bagaiamana Peran Guru dalam Mengaplikasikan
Teori-teori Belajar dalam Pembelajaran?
II.
PEMBAHASAN
A. Teori-teori
belajar dalam pembelajaran
1.
Teori Belajar Behavioristik
a)
Teori Konektionisme oleh
Thorndike (1874-1989)
Belajar
adalah hubungan antara stimulus dan respons. Teori ini dikenal juga dengan
istilah “S-R Bond Theory” dan teori “Trila dan Error Learning” karena
menunjukkan pada panjangnya waktu dan banyaknya jumlah kekeliruan dalam
mencapai satu tujuan.
Terdapat 3
hukum belajar yang utama dari percobaan Thorndike tersebut, yaitu:
1)
Hukum efek, bahwa
keadaaan memuaskan akan memperkuat hubungan stimulus dan respon, dan keadaan
menjengkelkan akan memperlemah hubungan antara S-R. Jadi hukuman tidak sama
pengaruhnya dengan ganjaran dalam belajar.
2)
Hukum latihan, bahwa
pengalaman yang diulang-ulang akan memperbesar peluang timbulnya respon
(tanggapan yang benar), tapi pengulangan yang tak disertai keadaan yang
memuaskan tak akan meningkatkan belajar.
3)
Hukum kesiapan di sini
melukiskan syarat-syarat yang menentukan keadaan yang memuaskan atau yang
menjengkelkan itu.[2]
b) Ivan Petrovitch Pavlov
Pavlov adalah seorang psikolog dari Rusia. Pavlov
merupakan tokoh yang mengemukakan teori Classical Conditioning, yang
didasarkan pada tiga proses, yaitu: pertama, penyamarataan (generalization)
sebab respon dikondisikan dengan kehadiran stimulus yang sama melalui keluarnya
air liur; kedua, perbedaan (discrimination) untuk merespon
apabila ada perangsang makanan ke mulutnya; ketiga, pemadaman (extinction)
terjadi ketika stimulus disajikan berulang-ulang tanpa adanya stimulus berupa
makanan.[3]
c) Burrhus Frederic Skinner
Teori Operant Conditioning oleh B. F. Skinner tahun 1930,
melalui eksperimen
seekor tikus yang diletakkan dalam kotak, yang terkenal dengan “Skinner
Box”. Teori ini memilki kemiripan dengan teori trila and error learning
oleh Thorndike selalu melibatkan kepuasan. sedang menurut Skinner, fenomena
tersebut melibatkan penguatan. kedua teori ini secara langsung atau tidak
mengakui arti penting law of effect.
2. Teori Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan teori
belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu
sendiri. Dari penganut aliran ini, belajar tidak hanya sekedar melibatkan
hubungan antara stimulus dan respon, namun lebih melibatkan proses berpikir
yang sangat kompleks. Menurut teori, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri
seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan
lingkungan.
a)
Teori menurut Ilmu Jiwa
Gestalt
Menurut Gestalt, belajar harus dimulai dari
keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian. Belajar Gestalt menekankan
pemahaman atau insight. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang
mempunyai hubungan yang bermakna satu sama lain. Contohnya
seseorang mengamati manusia dari jauh lalu makin
dekat. Belajar yang terpenting bukan hanya memasukkan sejumlah pesan atau
mengulangi hal-hal yang dipelajari, melainkan dengan cara insight (memperoleh
pengertian) mengenai sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur
yang mengandung satu problem.
Belajar
dengan insight adalah sebagai berikut;
a.
Insight tergantung dari
kemampuan dasar.
b.
Insight tergantung dari
pengalaman masa lampau yang relevan dengan yang dipelajari.
c.
Insight hanya timbul
bila situasi belajar efektif dan efisien.
d.
Insight adalah hal yang
harus dicari (tak jatuh dari langit).
e.
Belajar insight dapat
diulangi.
b)
Piaget
Menurut Jean
Piaget (1974) salah satu penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa proses
belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni pertama, asimilasi yaitu
proses penyesuaian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam
benak siswa. kedua, akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam
situasi yang baru. ketiga, equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan
antara asimilasi dan akomodasi.
3.
Teori belajar Humanstik
Menurut teori humanistik, tujuan
belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses balajar dianggap berhasil
jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam
proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi
diri dengan sebaik- baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku
belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Peran guru dalam teori ini adalah sebagai fasilitator bagi para siswa sedangkan
guru memberikan motivasi, kesadaran
mengenai makna kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada
siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa
berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya
sendiri. Para tokoh yang mengembangkan teori ini adalah Blom, Krathwohl, Kolb,
Honey, Mumford, serta Hubermas.[4]
4.
Teori belajar Konstruktivistik
Menurut teori ini permasalahan dimunculkan dari
pancingan internal, permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yang
direkonstruksi sendiri oleh siswa. Teori ini sangat dipercaya bahwa siswa mampu
mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan
berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep
mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.
s
B.
Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
1.
Aplikasi Teori
Behavioristik
Aliran
psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori,
praktek pendidikan, dan pembelajaran hingga kini adalah aliran Behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar. Teori Behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya,
mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respone atau
perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisikan dengan cara tertentu
dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila
dikenai hukuman.
Teori
tersebut hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal
ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling
dini, seperti kelompok belajar, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, bahkan hingga
perguruan tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai
dengan hukuman sering dilakukan.
Karena teori
behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah
terstruktur rapi dan teratur maka siswa atau orang yang belajar harus
dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara
ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar sehingga
pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau
ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan
yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan
sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Siswa atau peserta didik
adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan sehingga kontrol
belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.
Tujuan
pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas "mimetic", yang
menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari
dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran
menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti
urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum
secara ketat sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks
atau buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi
buku teks atau buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada
hasil belajar.
Evaluasi
belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan
biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan
evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.
Secara umum,
langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang
dikemukakan oleh Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam
merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi:
a)
Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
b)
Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini
termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.
c)
Menentukan materi pelajaran.
d)
Memecah materi pelajaran menjadi bagian
kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik, dan sebagainya.
e)
Menyajikan materi pelajaran.
f)
Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik
lisan maupun tertulis, tes atau kuis, latihan, atau tugas-tugas.
g)
Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan
siswa.
h)
Memberikan penguatan (reinforcement)
(mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman.
i)
Memberikan stimulus baru.
j)
Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan
siswa.
k)
Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman.
l)
Evaluasi hasil belajar
2. Aplikasi Teori Kognitivisme
Ada dua kajian mengenai teori kognitif yang penting dalam
perancangan pembelajaran, yaitu:
a)
Teori
tentang struktur representasi kognitif
Struktur
kognisi didefinisikan sebagai struktur organisasional yang ada dalam ingatan
seseorang ketika mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah
ke dalam suatu unit konseptual.
b)
proses ingatan (memory).
Proses ingatan
merupakan pengelolaan informasi di dalam ingatan (memory) dimulai dengan proses
penyandian informasi (coding), diikuti penyimpanan
informasi (strorage),
dan kemudian mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah di simpan
dalam ingatan (retrieval).
Dengan
adanya konsep tersebut, maka sebagai kata kunci dalam teori psikologi kognitif
adalah “Information
Processing Model” yang mendeskripsikan: proses penyandian
informasi, proses penyimpanan informasi, dan proses pengungkapan kembali
suatu informasi atau pengetahuan dari konsepsi pikiran. Model tersebut
akhir-akhir ini semakin mendominasi sebagian besar riset atau pembahasan
mengenai psikologi pendidikan atau pembelajaran. Jadi, dalam model ini
peristiwa-peristiwa mental diuraikan sebagai transformasi-transformasi
informasi dimulai dari input (masukan) berupa stimulus
hingga menjadi output (keluaran) berupa respon
(Slavin, 1994).
Dengan
demikian, fokus pada masalah belajar adalah: suatu kegiatan berproses, dan selanjutnya
suatu perubahan bertahap. Dalam tahap pengelolaan informasi yang berasal dari
stimulus eksternal, Bruner menyampaikan tahap tersebut menjadi tiga fase
dalam proses belajar, yaitu: (1) fase informasi, (2) fase transformasi, dan (3)
fase evaluasi (Barlow, 1985). Dan menurut Witting (1981) setiap proses belajar
akan selalu berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu: (1) Acquisition
(tahap perolehan atau penerimaan informasi), (2) Storage (tahap penyimpangan
informasi), dan (3) Retrieval (tahap menyampaikan
kembali informasi).
Dan
untuk mengaplikasikannya dalam proses belajar dan pembelajaran meliputi: (a)
pembelajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran
tersebut disusun dalam pola dan logika tertentu, (b) penyusunan materi
pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit, (c) belajar dengan memahami
lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian penyajian, dan (d)
adanya perbedaan individual pada pembelajar harus diperhatikan.
3. Aplikasi
Teori Konstruktivisme
Dari perspektif epistemologi yang disarankan dalam
konstruktivisme fungsi guru akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik
pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penyelidikan dan cara melaksanakan
kurikulum. Sebagai contoh, perspektif ini akan mengubah kaedah pengajaran dan
pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid meniru dengan tepat apa saja
yang disampaikan oleh guru kepada kaedah pengajaran dan pembelajaran yang
menumpu kepada kejayaan murid membina skema pengkonsepan berdasarkan kepada
pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penyelidikan daripada pembinaan
model daripada kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep daripada kaca
mata murid.Implikasi daripada teori Konstruktivisme ini, sesuatu proses
pengajaran dan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lancar kerana beberapa
sebab yaitu guru berperanan sebagai penolong, pemudah cara, perancang, dan
pereka bentuk sedangkan pelajar memainkan peranan utama dalam aktiviti
pembelajaran bukan pengajaran yang diterima secara pasif.
Selain itu, model pengajaran-pembelajaran yang sesuai
sekali digunakan ialah pembelajaran secara koperatif dan kolaberatif. Kaedah
dan teknik mengajar tradisi seperti syarahan, menghafal dan mengingat
tidak sesuai digunakan dalam pembentukan ilmu. Penilaian tradisi tidak sesuai
lagi digunakan. Bentuk dan alat penilaian dibentuk bersama oleh guru dan murid.
Di samping itu, pengalaman dan kesediaan belajar adalahfaktor penting yang
mempengaruhi proses pembentukan ilmu.di mana pengajaran dan pembelajaranakan
berpusatkan kepada murid. Oleh itu, guru akan mengenal pasti pengetahuan
sedia ada murid danmerancang kaedah pengajarannya dengan sifat asas pengetahuan
tersebut.Justeru itu, melalui teori Konstruktivisme ini
terdapat ciri-ciri pembelajaran yang perludiketahui. Pertama,
menggalakkan soalan atau idea yang dimulakan oleh murid dan menggunakannya[5]
4. Aplikasi
Teori Humanistik
Psikologi Humanistik member perhatian bahwa guru adalah sebagai
fasilitator. guru harus berupaya dengan berbagai cara untuk memberi kemudahan
belajar. berikut ini cara seorang guru mengaplikasikan teori humanistic dalam
pembelajaran:
a)
Memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok,
atau pengalaman kelas
b)
Membantu untuk memperoleh untuk memperoleh dan memperjelas
tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan kelompok yang bersifat
umum
c)
Mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi sendirinya, sebagai kekuatan
pendorong yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi
d)
Mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling
luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka
e)
Menempatkan dirinya sebagai sumberyang fleksibel untuk dapat
dimanfaatkan oleh kelompok
f)
Menanggapi ungkapan di dalam kelompok kelas dan menerima, baik isi yang bersifat
intelektual maupun sikap-sikap perasaaan dan mencoba untuk mencoba untuk
menanggapi dengan cara yang sesuai
g)
Ketika suasana penerimaan kelas telah mantap, guru dapat berperan
sebagai siswa yang turut memberikan pandangannya sebagai seorang individu,
seperi siswa yang lain
h)
mengambil prakarsa untk ikut serta dalam kelompok perasaanya dan
juga pikirannya deangna tidakmenuntt atau memaksakan, melainka sebagai pribadi
yang dapat diterima ataupun ditolak.[6]
III.
KESIMPULAN
Teori belajar secara garis besar terbagi menjadi 4: pertama
teori behavior dengan pendekatan tingkah laku, yang di sini belajar merupakan
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan
respon. kedua, teori belajar kognitif yakni teori belajar yang lebih
menekankan pada proses belajar daipada hasil belajar itu sendiri. ketiga,
teori humanistic yakni berusaha untuk memahami perilaku sesorang dari sudut si
pelaaaku bukan si pengamat. keempat, teori kontruktivitas Menurut teori
ini permasalahan dimunculkan dari pancingan internal, permasalahan muncul
dibangun dari pengetahuan yang direkonstruksi sendiri oleh siswa.
Aplikasi teori belajar masing-masing sesuai dengan prinsip teori
tersebut, yang diterapkan dalam proses pembelajaran.
IV.
PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan. Kami sadar bahwa karya
tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang
disampaikan. Oleh karena itu kami sangat berharap akan kritik dan saran dari
pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin. Pendidikan
dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta; Ar-Ruzz Media, 2009.
Rohmah. Noer. Psikologi
pendidikan. (Yogyakarta: Teras, 2012)
Uno. Hamzah B..
Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara,
2008).
http://efhiee.wordpress.com/2012/05/26/aplikasi-teori-gestalt-dalam-proses-belajar/ 14 april 2014, 15:30
http://bettykurniatytp.wordpress.com/2013/04/08/aplikasi-teori-belajar-behavioristik-dalam-pembelajaran/ 03april 2014, 16:00
[3]
Baharuddin. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. (Yogyakarta; Ar-Ruzz
Media, 2009). hlm 168-169.
[4] Hamzah B. Uno. Orientasi Baru dalam
Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008). hlm 13.
[5] http://efhiee.wordpress.com/2012/05/26/aplikasi-teori-gestalt-dalam-proses-belajar/ 14
april 2014, 15:30
[6] Baharuddin. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. (Yogyakarta;
Ar-Ruzz Media, 2009). hlm 175-176.
0 komentar:
Posting Komentar