Pages

Senin, 07 Juli 2014

langkah-langkah menulis karya ilmiah



MAKALAH
LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN
KARYA TULIS ILMIAH

Dipresentasikan dalam mata kuliah
Karya Tulis Ilmiah
Yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSi
Disusun Oleh:
Ma’rifatun                               (133311009)
Soya Anggisya Iqbi                (133311010)
Rizqi Amalia                           (133311011)
Alfina Zulfa                            (133311012)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
TAHUN 2014

       I.            PENDAHULUAN
Menulis karya ilmiah merupakan bagian dari tugas akademik mahasiswa yang menjalankan program-program pendidikan. Untuk itu, ada baiknya sebelum menyusun karya ilmiah seorang mahasiswa memahami terlebih dahulu yang dimaksud karya ilmu itu sendiri.[1] rata-rata setiap mahasiswa akan menemukan kesulitan apabila kepadanya ditugaskan untuk membuat karangan ilmiah (umpamanya paper atau skripsi), dimana mahasiswa itu sendiri harus menentukan pokok masalah karangan tersebut. Pernyataan pertama yang biasanya timbul dikalangan mahasiswa ada dua yaitu: “apa yang harus saya tulis?” Dan “bagaimana seharusnya saya menulis?” Andai katapun pokok karangan telah ditentukan lebih dahulu oleh dosen, atau andaikata pokok masalah telah ditentukan mahasiswa yang bersangkutan, yang tetap menjadi persoalan adalah bagaimana cara mahasiswa itu memecahkan pokok masalah, dan bagainama caranya membahas dan menulis itu sebaik-baiknya. Setiap orang yang berhadapan dengan tugas menulis sebuah karangan ilmiah dengan sendirinya akan memajukan pertanyaan yang sama sebab pertanyaan tersebut memang merupakan pertanyaan pokok untuk menulis dengan baik.
Tentu saja ada perbedaan antara orang yang sudah pernah mempelajari cara-cara menulis  karangan ilmiah (apalagi yang sudah berpengalaman) dengan orang yang sama sekali belum mempelajarinya. Setelah mengetahui apa tujuan yang harus dicapai, maka soal yang mula-mula sekali harus kita pecahkan ialah apa yang harus di tulis. Kemampuan menyusun karya tulis ilmiah sebagai produk dari penelitian hanya bisa diperoleh melalui latihan dan praktek penelitian, bukan hanya membaca agar dapat menguasai teori penelitihan. Teori hanya membantu dalam mengarahkan apa dan bagaimana seharusnya penelitihan itu dilakukan. Bagaimana mungkin pengetahuan ilmiah dapat di buktikan kebenarannya, apabila menemukan pengetahuan ilmiah baru dan para ilmuan muda juga para dosen di perguruan tinggi tidak pernah melakukan penelitian ilmiah kecuali menyusun skripsi, tesis, dan disertasi pada saat akan mencapai gelar sarjananya.



    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Cara Mempersiapkan Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah?
B.     Bagaimana Cara Merumuskan Masalah?
C.     Bagaimana Cara Mengkaji Teori?
D.    Bagaimana Cara Menggali Data Lapangan?
E.     Bagaimana Cara Mengolah Data?
F.      Bagaimana Cara Menarik Kesimpulan?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Mempersiapkan  Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah
Dalam tahap persiapan hal yang dilakukan adalah pemilihan masalah atau topic dan mempertimbangkannya. Topik/masalah adalah pokok pembicaraan. Topik banyak tersedia dan melimpah di sekitar kita, misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, manajemen, akuntansi, sumber daya manusia, kedokteran, teknik, industry, hukum, pariwisata, perhotelan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Dalam hubungan dengan pemilihan topik yang hendak diangkat ke dalam Karya Ilmiah, Keraf (1980:111) berpendapat bahwa penyusun Karya Ilmiah lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui dari pada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahui sama sekali. Sehubungan dengan isi pernyataan itu, Arifin dan Tasai (2006:8) menyampaikan hal-hal berikut yang patut dipertimbangkan dengan saksama oleh penyusun Karya Ilmiah seperti dibawah ini :
a)      Topik yang dipilih harus berada di sekitar kita, baik di sekitar pengalaman kita maupun di sekitar pengetahuan kita, hindarilah topik yang jauh dari diri kita karena hal itu akan menyulitkan kita ketika menggarapnya.
b)      Topik yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian kita.
c)      Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas. Hindari pokok masalah yang menyeret kita kepada pengumpulan informasi yang beraneka ragam.
d)     Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif. Hindari topik yang bersifat subjektif, seperti kesenangan atau angan-angan kita.
e)      Topik yang dipilih harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, walaupun serba sedikit. Artinya topic yang dipilih itu janganlah terlalu baru bagi kita.
f)       Topik yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah yang hendak ditulis. Sumber kepustakaan dapat berupa buku, majalah, jurnal, surat kabar, brosur, surat keputusan, situs  web, atau undang-undang.[2]
B.     Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah bukanlah langkah yang mudah bagi penulis Karya Tulis Ilmiah pemula. Hakikat masalah adalah adanya ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Artinya, apabila seseorang mengharapkan sesuatu tetapi kenyataan yang dicapai bukan sesuatu yang diharapkan atau kurang dari yang diharapkan, seseorang itu menghadapi masalah. Akan tetapi, apabila sudah merumuskan topik secara khusus, seorang penulis karya tulis ilmiah sangat mudah merumuskan masalah. Berdasarkan beberapa rumusan topik khusus tadi, berarti yang  harus dilakukan memilih salah satu rumusan topik khusus saja untuk dijadikan makalah.
Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk rumusan masalah adalah dengan mengubah rumusan kalimat dalam topik khusus menjadi kalimat tanya, baik dengan menggunakan kata tanya ataupun cukup dengan menggunakan partikel ‘kan’.
Bila dalam rumusan masalah memang hanya mengandung satu pokok persoalan yang harus dipecahkan, maka segera dapat melangkah ke langkah berikutnya yaitu menyusun kerangka karangan. Sebaliknya, apabila di dalam rumusan masalah itu ternyata mengandung lebih dari satu persoalan yang harus segera dipecahkan, sebaiknya anda merumuskan sub-masalah. Hal ini dimaksud agar dalam penelusuran teori maupun dalam pembahasan masalah nanti tidak ada gagasan yang terlupakan atau tumpang tindih.
            memilih masalah yang akan dikemukakan dalam satu karangan ilmiah tidak jarang menjadi kesulitan terutama bagi penulis pemula. Karena itu menginventarisasi beberapa masalah sehingga diperoleh suatu daftar, biasanya akan membantu penulis memilih masalah mana yang sebetulnya dan akhirnya akan diungkapkan.
Melalui daftar masalah, barulah kita teliti kembali masalah tadi satu per satu, dan hal ini dapat dibantu dengan panduan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.      Apakah masalah ini berguna dan cukup penting untuk dipersoalkan? Masalah yang tidak perlu dipersoalkan lagi, sama sekali tak bermanfaat dibicarakan lebih lanjut.
2.      Apakah membahas masalah ini akan menghasilkan sesuatu yang baru? Suatu persoalan, betapapun menariknya untuk dibahas, bila tidak menghasilkan suatu pemecahan masalah yang kongkrit tidak ada gunanya dikemukakan dalam bentuk makalah ilmiah.
3.      Apakah masalah yang akan ditulis itu menarik perhatian dan minat si penulis? Suatu soal yang tidak menarik perhatian dan minat si penulis akan menyulitkan pembahasan secara tuntas. Hendaknya selalu diingat, bila seseorang harus menulis sesuatu yang bagi dirinya sendiri saja sudah tidak menarik, proses penulisannya juga pasti akan tersendat-sendat.
4.      Apakah masalah yang akan dibahas ini cukup terbatas, artinya tidak terlalu lebar, dan tak pula terlalu sempit? Menulis suatu topik yang besar atau lebar akan membuat karangan jadi penjang sekali, untuk mencapai pembahasan yang mendalam. Bila pembahasannya dangkal untuk masalah yang begitu besar, tentu tidak diharapkan datang dari suatu Karya Ilmiah. Pembahasan karangan ilmiah haruslah terarah dan mendalam.
5.      Apakah untuk pembahasan ini cukup tersedia data, sehingga memungkinkan pelaksanaan tindakan pemecahan masalahnya? Pembahasan suatu topik ilmiah perlu dukungan data dan kepustakaan yang cukup memadai. Tanpa ini, pembahasan akan menjadi terbatas dan tidak mustahil jadi dangkal.
6.      Apakah masalah ini dapat dipecahkan dengan fasilitas yang ada dan kemampuan diri penulis? Memecahkan masalah dengan dukungan fasilitas dan kemampuan yang minim tak akan mencapai hasil yang memuaskan. [3]

C.     Mengkaji Teori
Teori dan hipotesa adalah dua pengertian yang terlebih dahulu harus dipahami sebaik-baiknya di dalam mempelajari dasar-dasar penelitian suatu karya ilmiah. Teori dibutuhkan sebagai pegangan-pegangan pokok secara umum, sedangkan hipotesa dibutuhkan sebagai penjelasan problematika yang dicarikan pemecahan. 
Seorang ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta, tetapi menemukan prinsip-prinsip yang terletak dibalik fakta prinsip utama yang dicari ialah dalil, yakni generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan dalil ini ahli tersebut melanjutkan penyelidikannya untuk meramalkan rangkaian peristiwa berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk dipakai sebagai pertimbangan penyimpulan sebuah dalil. Akan tetapi sekumpulan data saja belum memberi jalan yang lapang pada penyelidik, karena data baru mempunyai arti dan guna bila tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut teori.
Teori sebagai titik permulaan di dalam arti bahwa dari situlah bersumbernya hipotesa yang akan dibuktikan. Misalnya saja seorang penyelidik membangun teori yang berbunyi bahwa manusia yang dibesarkan di dalam suasana yang bebas pada umumnya lebih berkesempatan untuk berhasil maju dengan usaha sendiri dari pada yang dididik di dalam suasana penuh tekanan dan larangan. Suatu hipotesa yang mungkin dihasilkan ialah bahwa anak yang berasal dari keluarga di mana orang tua tidak meluaskannya keluar rumah untuk mengunjungi berbagai peristiwa, tidak dapat melakukan tugas luar yang diberikan oleh guru. Dengan mengkhususkan persoalan ini pada batas-batas yang dapat diukur (nilai tugas luar yang diberikan pada anak itu dibandingkan dengan tugas luar murid-murid lainnya dari kategori “tertekan” dan dari kategori “bebas”), hipotesa itu dapat diuji benar dan salahnya. Dengan penyelidikan dalam berbagai situasi, dapat diperoleh data yang meyakinkan akan kebenaran teori tersebut. Sehingga hasilnya dapat dirumuskan dalam bentuk dalil, misalnya bahwa motivasi kemajuan manusia yang terdidik dengan kebebasan adalah lebih baik daripada motivasi manusia yang terdidik dalam tekanan.
Dengan dalil itu, penyelidik dapat meramalkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam bidang tersebut, untuk memungkinkan sampai pada dalil berikutnya. Dalil-dalil berikutnya itu dapat memperkuat dalil pertama, dapat pula merubah atau menggantinya. Karena itu teori tersebut tidak diberi sifat final.[4]
D.    Menggali Data Lapangan
Kegiatan mengumpulkan data dalam suatu penelitian sangat membutuhkan ketelitian, kecermatan serta penyusunan program yang terinci. Hal ini mempunyai maksud agar diperoleh data yang benar-benar relevan dengan tujuan penelitian itu sendiri.
Data dipakai sebagai bahan baku dalam penelitian. Pengambilan data dari sumbernya mempunyai metode dan cara-cara tertentu. Tiap metode yang berbeda, perangkat pengumpul data pun dapat berbeda. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penilitian diantaranya:
1)      Kuesioner
Kuesioner/ angket merupakan alat pengumpulan data yang berupa daftar pertanyaan yang disusun sedemikian rupa untuk dijawab responden. Kuesioner dapat disebut juga sebagai interview tertulis dimana responden dihubungi melalui daftar pertanyaan. Menurut cara penyampaiannya  kuesioner dapat dibedakan menjadi: angket langsung dan angket tidak langsung. Dinamakan angket langsung jika daftar pertanyaan itu dikirim langsung kepada responden yang dimintai pendapat tentang dirinya sendiri. Sedangkan disebut angket tidak langsung jika daftar pertanyaan itu tidak dikirim kepada seseorang yang dimintai keterangan untuk mengutarakan keadaan orang lain. Jenis pertanyaan yang diajukan boleh jadi bersifat tertutup maupun terbuka. Pertanyaan dikatakan tertutup jika jawabannya sudah ditentukan  lebih dahulu sehingga responden tidak diberi kesempatan untuk memberikan alternatif jawaban, dikatakan bersifat terbuka jika jawabannya tidak ditentukan sebelumnya, responden diberikan kebebasan menguraikan jawabanya.
2)      Tes
Tes merupakan metode pengumpulan data yang sifatnya mengevaluasi hasil proses, instrumennya dapat berupa soal-soal  ujian atau tes.
3)      Kepustakaan
Teknik ini digunakan dalam keseluruhan proses penelitian sejak awal hingga sampai akhir penelitian dengan cara memanfaatkan berbagai macam pustaka yang relevan dengan fenomena sosial yang tengah dicermati.
4)      Observasi
Observasi ialah metode mengumpulkan data secara sistematis melalui pengamatan dan pencatatan fenomena yang diteliti. Dalam artian luas observasi berarti pengamatan yang dilaksanakan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Dalam arti sempit observasi berarti pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang diselidiki  baik dalam kondisi normal maupun dalam kondisi buatan. Metode ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadapa objek penelitiannya.
5)      Interview
Interview atau wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan narasumber atau responden. Teknik wawancara mempunyai kelebihan, penanya dapat mernerangkan secara detail pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pewawancara dalam mewawancarai resonden hendaknya memenuhi syarat-syarat:
a.       Pewawancara mampu membina hubungan yang baik dengan responden dan mampu menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yag dilakukan.
b.      Pewawancara harus bisa dapat menghindarkan diri dari pertanyaan yang bersifat mengarahkan atau menyarankan suatu jawaban.
c.       Pewawancara menguasai persoalan-persoalan yang diteliti.
Wawancara dapat dilakukan langsung berhadapan dengan yang diwawancarai dan dapat pula dilakukan secara tidak langsung seperti memberikan daftar pertanyaan untuk dijawab pada kesempatan lain.[5]


E.     Mengolah Data
Data yang terkumpul lalu diolah. Pertama-tama data itu diseleksi atas dasar reliabilitas dan validitas. Data yang rendah reliabilitas dan validitasnya, data yang kurang lengkap digugurkan atau dilengkapi dengan substitusi. Selanjutnya data yang telah lulus dalam seleksi itu lalu diatur dalam tabel, matriks, dan lai-lain agar memudahkan pengolahan selanjutnya. Kalau mungkin pada penyusunan tabel yang pertama itu dibuat tabel induk ( master table). Jika tabel induk itu dapat dibuat, maka langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dikerjakan, karena perhitungan dan analisis dapat dilakukan berdasarkan tabel induk itu.
Menganalisis data merupakan suatu langah yang sangat kritis dalam penelitian. Penelitian harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakannya, apakah analisis statistik, ataukah analisis nonstatistik. Pemilihan ini tergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Analisis statistik sesuai dengan data kuantitatif atau data yang dikuantifikasikan, yaitu data dalam bentuk bilangan, sedang analisis nonstatistik sesuai untuk data deskriptif atau data textular. Data deskriptif sering hanya dianalisikan menurut isinya, dan karena itu analisis semacam ini juga disebut analisis isi (content analisis).
Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rencana penelitiannya. Dan hal ini seperti telah disebutkan, ditentukan oleh hipotesis yang akan diuji dan tujuan penelitian. Jenis-jenis data yang dianalisis juga ikut menentukan model analisis yang tepat untuk digunakan. Untuk mendapatkan gambaran garis besar mengenai berbagai jenis data dan model analisis yang sesuai data-data tersebut, dapat diperiksa ikhtisar yang disajikan.
Mengenai analisis statistik itu lebih lanjut perlu dikemukakan, bahwa masng-masing model atau metode mendasarkan diri pada asumsi tertentu. Agar model atau metode itu berlaku maka perlulah asumsi-asumsi yang mendasarinya dipenuhi. Hasil analisis statistic akan berwujud angka-angka. Demikian pula hasil uji statistik. Berdasarkan atas angka-angka itulah perlu dibuat keputusan yang digunakan dapat konvensional, yaitu menyatakan hasil uji hipotesis itu signifikan atau tidak signifikan dalam taraf signifikasi 1 persen, atau 5 persen, dapat pula tidak konvensional, yaitu menggunakan batas taraf signifikan yang mengembang, tidak terikat kepada konvensi 1 persen dan 5 persen itu.
Dari uji statistik yang telah dilakukan akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, seperti disebutkan di bawah ini :
1)      Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau pebedaan antara sampel-sampel yang diteliti sangat signifikan (1%) atau signifikan (5%) atau signifikan pada taraf signifikasi sekian persen.
2)      Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti tidak signifikan.
Dalam kemungkinan hasil yang pertama, besar kemungkinannya bahwa hipotesis alternatifnya diterima, dan hipotesis nol ditolak. Menerima hipotesis alternative berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang besar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya, dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, karena itu hipotesis nolnya yang diterima.
Dengan telah diambilnya keputusan mengenai penerimaan hipotesis itu analisis statistik telah selesai, tetapi pekerjaan penelitian masih belum berakhir, karena hasil keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi.[6]
F.      Menarik Kesimpulan
Simpulan atau konklusi merupakan rangkuman dari ide-ide yang telah disajikan dalam semua tulisan. Simpulan atau konklusi ini merupakan pemikiran prespektif akhir penulis kepada pembaca. Oleh karena itu harus tampak jelas hubungan antara problematik, hipotesis, dan kesimpulan. .[7]
Suatu kesimpulan dalam penelitian bukanlah merupakan suatu karangan atau diambil dari pembicaraan-pembicaraan lain, akan tetapi hasil suatu proses tertentu yaitu “menarik”, dalam arti “memindahkan” sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Menarik kesimpulan di sini harus mendasar atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data, bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti.
            Bagian pokok yang merupakan pengarah kegiatan penelitian adalah perumusan problematika atau rumusan masalah. Di dalam problematika ini peneliti mengajukan pertanyaan terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabnya  melalui kegiatan penelitian. Sehubungan dengan pertanyaan inilah maka peneliti mencoba mencari jawaban sementara yang disebut hipotesis. Sedangkan kesimpulan yang ditarik berdasarkan data yang telah dikumpulkan, adalah merupakan jawaban, benar-benar jawaban yang dicari, walaupun tidak selalu menyenangkan hatinya.
Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya problematik. Sebagai illustrasi dapat dikemukan contoh berikut:
Problematik atau rumusan masalah
1. Apakah seorang murid yang mendapat motivasi dari orang tua mempunyai prestasi belajar yang sama dengan murid yang tidak mendapat motivasi dari orang tua?
2. Apakah motivasi termasuk salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap prestasi anak?
Hipotesis
1. Seorang murid yang mendapat motivasi dari orang tuanya mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada murid yang tidak mendapatkan motivasi dari oarng tuanya
2. Motivasi sangat berpengaruh terhadap prestasi anak
Kesimpulan penelitian (salah satu kemungkinan)
1.      Beberapa anak yang tidak mendapat motivasi dari orang tua memiliki prestasi belajar yang baik.
2.      Motivasi sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar ketika didukung oleh faktor internal.
Kesimpulan di sini juga bisa memuat implikasi dari penelitian tersebut dan ada kalanya disarankan pula penelitian lanjutan. Sifatnya berbeda dengan ikhtisar yang funngsinya agar pembaca dapat mengetahui dengan cepat hasil penelitian itu sebagai keseluruhan.[8]
 IV.            Kesimpulan
Sebelum membuat Karya Tulis Ilmiah, yang pertama dilakukan adalah mempersiapkan ide dengan mengumpulkan semua ide atau topik dari segala sumber yang kemudian setelah itu dipilih dan dipertimbangkan. Setelah topik sudah terpilih maka langkah kedua adalah membuat rumusan masalah, menganalisa setiap kemungkinan dengan cara membuat suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Ketiga, mengkaji teori dengan membuat sebuah hipotesis yang kemudian dibuktikan dengan teori yang dijadikan sebagai dalil dari sebuah penelitian. Apakah teori tersebut dapat dibuktikan atau tidak. Keempat mengumpulkan data, dalam mengumpulkan data memliki banyak metode diantaranya metode kuesioner (membuat daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden), tes (mengumpulkan data dari hasil evaluasi), kepustakaan (mengumpulkan data dengan memanfaatkan berbagai macam pustaka),  observasi (mengumpulkan data dengan melakukan penelitian), interview (melakukan wawancara dengan narasumber). Kelima mengolah data, proses yang paling menentukan dalam pembuatan Karya Ilmiah, semua data yang terkumpul diolah sedemikian rupa sehingga data siap untuk disajikan. Keenam menarik kesimpulan, dengan mengambil dari pokok-pokok materi yang telah disajikan dalam semua tulisan. Simpulan juga dapat disebut sebagai pemikiran perspektif akhir penulis kepada pembaca.




DAFTAR PUSTAKA
Bisri.Mustofa.Mintisnawati. Teknik Menulis Karya Ilmiah Dalam Menghadapi Sertifikasi. Semarang: CV. Ghyyas putra,2009.
Dalman. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012
Danim.Sudarwan. Karya Tulis Inovatif. Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2010
Haryanto A.G. dkk.Metode Penulisan Dan Penyajian Karya Ilmiah.jakarta: egc,2000
Singarimbum.Misri.dkk. Metode Penelitian Survai. Jakarta: lp3es, 2011
Suyabrata.Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo, 1997













LAMPIRAN CONTOH

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN

    BAB I
    PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.
Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak diredam dari sekarang.
1.2     Rumusan Masalah
a.       Apa dampak dari globalisasi untuk  dunia pendidikan?
b.      Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi?
c.       Cara penyesuan pendidikan di Indonesia pada era globalisasi?
BAB II
 PEMBAHASAN
2.1  Pengaruh  Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan
Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan
    Dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-poin berikut:
1.    Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Pengajaran Interaktif Multimedia
Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer. Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada computer. Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi suatu proses komunikasi.
Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia, para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat. Levie dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dengan konsep.
Perubahan Corak Pendidikan
Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya. Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan, teknologi hasil dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa terutama dengan mereka yang berjuauhan tempat tinggalnya.
Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu, kurikulum terutama didasarkan pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum didasarkan pada tingkat kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun 2004 merupakan langkah awal pemerintah dalam mengikutsertakan secara aktif siswa terhadap pelajaran di kelas yang kemudian disusul dengan KTSP yang didasarkan pada tingkat satuan pendidikan. Di dalam kelas, siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang memegang otoritas kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendngarkan dan mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui presentasi. Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu menemukan konsep-konsep, dan fakta sendiri.
2.    Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya ialah semangat menguji murid ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind dalam karya Dickens. Perusahaan-perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka memberikan hasil, bukan hanya bagi murid, tapi juga pemegang saham.(John Micklethwait, 2007:166). .

Bahaya Dunia Maya
Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet. Contohnya, 6 Oktober 2009 lalu diberitakan salah seorang siswi SMA di Jawa Timur pergi meninggalkan sekolah demi menemui seorang lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan “facebook”. Hal ini sangat berbahaya pada proses belajar mengajar.

Ketergantungan
Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat tersebut.


2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia
2.2.1        Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek.
Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.
2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempar tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas.
Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.
Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan.

2.2.2        Kualitas SDM yang Rendah
Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan India, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi, pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1. berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar 218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan keguruan.
Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal.
2.3  Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era Globalisasi
Dari beberapa takaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi. Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus global tersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional. Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.

    BAB III
      PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Pengajaran Interaktif Multimedia
Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer.
Perubahan Corak Pendidikan, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan.
Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia.
Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan.
Bahaya Dunia Maya
Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak ditawarkan melalui internet.
Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi di indonesia adalah Mahalnya Biaya Pendidikan, Kualitas SDM yang Rendah dan fasilitas pendidikan ang kurang, itu yang mengakibatkan pendidikan tidak berjalan dengan lanca.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan), repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu













DAFTAR PUSTAKA
Asri B. 2008.  Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Faizah, F. 2009.  Dampak Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan, (Online), (http://www.blogger.com/profile/14458280955885383127), diakses 18 Oktober 2011.
Munir.  2010.  Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI.
Surya,  M. 2002.  Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan Universitas Terbuka. Suryabrata, S. 2010. Psikologi Kepribadian.  Jakarta: Rajawali Pers.
Januar, I. 2006. Globalisasi pendidikan dI indonesia, (Online),                     (www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=mygroup&gid=340151), diakses 18 Oktober  2011.
Wardoyo, C. 2007. Urgensi Pendidikan Moral (Online), (http://www.nu.or.i) diakses 18 oktober 2011.









BIODATA KELOMPOK
1.      Nama                                       : ALFINA ZULFA
Nim                                         : 133311012
Jurusan                                    : Kependidikan Islam
TTL                                         : Pekalongan, 15 April 1995
Riwayat Pendidikan               :-SDN Paweden-Buaran-Pekalongan
                                                 -MTs. MANAHIJUL HUDA Ngagel Dukuhseti Pati
 -MAS. SIMBANGKULON Buaran Pekalongan
Alamat                                                : Paweden Rt: 09/Rw: 03 Buaran Pekalongan
NO. HP                                   :085642696645
Email                                       : fina_alfina@ymail.com
                                                  alfina925@gmail.com
Facebook                                 : Alfina Zulfa
Twitter                                                : @finafizu
Blog                                        : alfinazulfa77.blogspot.com

2.      Nama                                       : MA’RIFATUN
Nim                                         : 133311009
Jurusan                                    : Kependidikan Islam
Ttl                                            : Tegal, 7 Juli 1995
Riwayat Pendidikan               : -MI Salafiyah 02 suradadiTegal
                                                 -MTs Al-Fatah Suradadi Tegal
                                                 -MAN Babakan Lebaksiu Tegal
Alamat                                                : Jl. Jangkar Rt/Rw 02/03 Suradadi Tegal
No. Hp                                                : 089650321102
Email                                       : marifahqolbie@yahoo.com
Facebook                                 : Ma’rifah Qurrotal Qolbie
Twitter                                                : @ma’rifah_alma
Blog                                        : marifahs-blog-create.blogspot.com

3.      Nama                                       : RIZQI AMALIA
NIM                                        : 133311011
Jurusan                                    : Kependidikan Islam
Ttl                                            : Jepara, 3 September 1995
Riwayat pendidikan                : -MI Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara
                                                -MTs Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara
                                                -MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara
Alamat                                                : Troso Rt 5 /Rw 2 Peacangaan Jepara
No. Hp                                                : 08985519738
Email                                       : amaliarizqi096@gmail.com
Facebook                                 :  Rizqi Amalia
Twitter                                                : @Rizqi Amalia
Blog                                        : Amalia Rizqi.blogspot.com

4.      Nama                                       : SOYA ANGGISYA IQBI
NIM                                        : 133311010
Jurusan                                    : Kependidikan Islam
Ttl                                            : Jepara, 23 januari 1995
Riwayat pendidikan                :- SD 04 Troso Pecangaan Jepara
                                                -MTs Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara
                                                -MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara
Alamat                                                : Troso Rt 7/Rw 7 Pecangaan Jepara
No. Hp                                                : 089367422352
Email                                       : soyaiqbi@yahoo.co.id
Facebook                                 : Anggisya Soby
Twitter                                                : @anggisyasoby
Blog                                        :





[1] Dalman, Menulis Karya Ilmiah, Jakarta: PT Raja dGrafindo Persada, 2012, Hlm. 45
[2] Dalman, Menulis Karya Ilmiah.....,hlm 55-56
[3] Haryanto A.G. dkk.Metode Penulisan  dan Penyajian Karya Ilmiah. Jakarta: EGC.2000,.hlm: 10-12
[4] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito, 1990, Hlm. 63-64
[5] Bisri, Mustofa, Tintisnawati. Teknik Menulis Karya Ilmiah dalam Menghadapi sertifikasi. Semarang: CV. Ghyyas Putra.2009. hlm 34-39
[6] Sumadi Suyabrata. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo, 1997. Hlm 85-87
[7] Prof.Dr.H. Sudarwan.Danim. Karya Tulis Inovatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2010, hlm 38

[8] Misri Singarimbum. Dkk. Metode Penelitian Survai.Jakarta: LP3ES. 2011. Hlm. 241

0 komentar:

Posting Komentar