MAKALAH
LANGKAH-LANGKAH
PENYUSUNAN
KARYA
TULIS ILMIAH
Dipresentasikan dalam mata kuliah
Karya
Tulis Ilmiah
Yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSi
Disusun Oleh:
Ma’rifatun (133311009)
Soya Anggisya Iqbi (133311010)
Rizqi Amalia (133311011)
Alfina Zulfa (133311012)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
TAHUN 2014
I.
PENDAHULUAN
Menulis
karya ilmiah merupakan bagian dari tugas akademik mahasiswa yang menjalankan
program-program pendidikan. Untuk itu, ada baiknya sebelum menyusun karya
ilmiah seorang mahasiswa memahami terlebih dahulu yang dimaksud karya ilmu itu
sendiri.[1] rata-rata
setiap mahasiswa akan menemukan kesulitan apabila kepadanya ditugaskan untuk
membuat karangan ilmiah (umpamanya paper atau skripsi), dimana mahasiswa itu
sendiri harus menentukan pokok masalah karangan tersebut. Pernyataan pertama
yang biasanya timbul dikalangan mahasiswa ada dua yaitu: “apa yang harus saya
tulis?” Dan “bagaimana seharusnya saya menulis?” Andai katapun pokok karangan
telah ditentukan lebih dahulu oleh dosen, atau andaikata pokok masalah telah
ditentukan mahasiswa yang bersangkutan, yang tetap menjadi persoalan adalah
bagaimana cara mahasiswa itu memecahkan pokok masalah, dan bagainama caranya
membahas dan menulis itu sebaik-baiknya. Setiap orang yang berhadapan dengan
tugas menulis sebuah karangan ilmiah dengan sendirinya akan memajukan
pertanyaan yang sama sebab pertanyaan tersebut memang merupakan pertanyaan
pokok untuk menulis dengan baik.
Tentu saja ada
perbedaan antara orang yang sudah pernah mempelajari cara-cara menulis karangan ilmiah (apalagi yang sudah
berpengalaman) dengan orang yang sama sekali belum mempelajarinya. Setelah mengetahui apa tujuan yang harus
dicapai, maka soal yang mula-mula sekali harus kita pecahkan ialah apa yang harus di tulis. Kemampuan menyusun karya tulis ilmiah sebagai
produk dari penelitian hanya bisa diperoleh melalui latihan dan praktek
penelitian, bukan hanya membaca agar dapat menguasai teori penelitihan. Teori
hanya membantu dalam mengarahkan apa dan bagaimana seharusnya penelitihan itu
dilakukan. Bagaimana mungkin pengetahuan ilmiah dapat di buktikan kebenarannya,
apabila menemukan pengetahuan ilmiah baru dan para ilmuan muda juga para dosen
di perguruan tinggi tidak pernah melakukan penelitian ilmiah kecuali menyusun
skripsi, tesis, dan disertasi pada saat akan mencapai gelar sarjananya.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Bagaimana Cara Mempersiapkan
Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah?
B.
Bagaimana Cara Merumuskan
Masalah?
C.
Bagaimana Cara Mengkaji
Teori?
D.
Bagaimana Cara Menggali
Data Lapangan?
E.
Bagaimana Cara Mengolah
Data?
F.
Bagaimana Cara Menarik
Kesimpulan?
III.
PEMBAHASAN
A.
Mempersiapkan Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah
Dalam tahap
persiapan hal yang dilakukan adalah pemilihan masalah atau topic dan
mempertimbangkannya. Topik/masalah adalah pokok pembicaraan. Topik banyak
tersedia dan melimpah di sekitar kita, misalnya persoalan kemasyarakatan, pertanian, manajemen, akuntansi, sumber
daya manusia, kedokteran, teknik, industry, hukum, pariwisata, perhotelan, lingkungan
hidup, dan sebagainya.
Dalam hubungan
dengan pemilihan topik yang hendak diangkat ke dalam Karya
Ilmiah, Keraf (1980:111) berpendapat bahwa penyusun Karya Ilmiah lebih baik
menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar
diketahui dari pada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak
diketahui sama sekali. Sehubungan
dengan isi pernyataan itu, Arifin dan Tasai (2006:8) menyampaikan hal-hal
berikut yang patut dipertimbangkan dengan saksama oleh penyusun Karya Ilmiah seperti
dibawah ini :
a)
Topik yang dipilih harus
berada di sekitar kita, baik di sekitar
pengalaman kita maupun di sekitar pengetahuan kita, hindarilah topik yang jauh
dari diri kita karena hal itu akan menyulitkan kita ketika menggarapnya.
b)
Topik yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian kita.
c)
Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan
terbatas. Hindari pokok masalah yang menyeret kita kepada pengumpulan informasi
yang beraneka ragam.
d)
Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif. Hindari
topik yang bersifat subjektif, seperti kesenangan atau angan-angan kita.
e)
Topik yang dipilih harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, walaupun
serba sedikit. Artinya topic yang dipilih itu janganlah terlalu baru bagi kita.
f)
Topik yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan
kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah yang hendak
ditulis. Sumber kepustakaan dapat berupa buku, majalah, jurnal, surat
kabar, brosur, surat
keputusan, situs web, atau undang-undang.[2]
B.
Merumuskan Masalah
Merumuskan
masalah bukanlah langkah yang mudah bagi penulis Karya Tulis Ilmiah pemula. Hakikat masalah adalah adanya ketidaksesuaian antara harapan
dengan kenyataan. Artinya, apabila seseorang mengharapkan sesuatu tetapi
kenyataan yang dicapai bukan sesuatu yang diharapkan atau kurang dari yang
diharapkan, seseorang itu menghadapi masalah. Akan tetapi, apabila sudah
merumuskan topik secara khusus, seorang penulis karya tulis ilmiah sangat mudah merumuskan masalah. Berdasarkan beberapa rumusan
topik khusus tadi, berarti yang harus dilakukan memilih
salah satu rumusan topik khusus saja untuk dijadikan makalah.
Cara sederhana
yang dapat dilakukan untuk rumusan masalah adalah dengan mengubah rumusan
kalimat dalam topik khusus menjadi kalimat tanya, baik dengan
menggunakan kata tanya ataupun cukup dengan menggunakan partikel ‘kan’.
Bila dalam
rumusan masalah memang hanya mengandung satu pokok persoalan yang harus
dipecahkan, maka segera dapat melangkah ke langkah berikutnya yaitu menyusun
kerangka karangan. Sebaliknya, apabila
di dalam rumusan masalah itu ternyata mengandung lebih dari satu persoalan yang
harus segera dipecahkan, sebaiknya anda
merumuskan sub-masalah. Hal ini dimaksud agar dalam penelusuran teori maupun
dalam pembahasan masalah nanti tidak ada gagasan yang terlupakan atau tumpang
tindih.
memilih
masalah yang akan dikemukakan dalam satu karangan ilmiah tidak jarang menjadi
kesulitan terutama bagi penulis pemula. Karena itu menginventarisasi beberapa
masalah sehingga diperoleh suatu daftar, biasanya akan membantu penulis memilih
masalah mana yang sebetulnya dan akhirnya akan diungkapkan.
Melalui daftar
masalah, barulah kita teliti kembali masalah tadi satu per satu, dan hal ini
dapat dibantu dengan panduan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah masalah ini berguna dan cukup penting
untuk dipersoalkan? Masalah yang tidak perlu dipersoalkan lagi, sama sekali tak
bermanfaat dibicarakan lebih lanjut.
2. Apakah membahas masalah ini akan menghasilkan
sesuatu yang baru? Suatu persoalan, betapapun menariknya untuk dibahas, bila
tidak menghasilkan suatu pemecahan masalah yang kongkrit tidak ada gunanya
dikemukakan dalam bentuk makalah ilmiah.
3. Apakah masalah yang akan ditulis itu menarik
perhatian dan minat si penulis? Suatu soal yang tidak menarik perhatian dan
minat si penulis akan menyulitkan pembahasan secara tuntas. Hendaknya selalu diingat,
bila seseorang harus menulis sesuatu yang bagi dirinya sendiri saja sudah tidak
menarik, proses penulisannya juga pasti akan tersendat-sendat.
4. Apakah masalah yang akan dibahas ini cukup
terbatas, artinya tidak terlalu lebar, dan tak pula terlalu sempit? Menulis
suatu topik yang besar atau lebar akan membuat karangan jadi penjang sekali,
untuk mencapai pembahasan yang mendalam. Bila pembahasannya dangkal untuk
masalah yang begitu besar, tentu tidak diharapkan datang dari suatu Karya
Ilmiah. Pembahasan karangan ilmiah haruslah terarah dan mendalam.
5. Apakah untuk pembahasan ini cukup tersedia
data, sehingga memungkinkan pelaksanaan tindakan pemecahan masalahnya? Pembahasan suatu topik
ilmiah perlu dukungan data dan kepustakaan yang cukup memadai. Tanpa ini,
pembahasan akan menjadi terbatas dan tidak mustahil
jadi dangkal.
6. Apakah masalah ini dapat dipecahkan dengan
fasilitas yang ada dan kemampuan diri penulis? Memecahkan masalah dengan
dukungan fasilitas dan kemampuan yang minim tak akan mencapai hasil yang
memuaskan. [3]
C. Mengkaji Teori
Teori dan hipotesa adalah dua pengertian yang
terlebih dahulu harus dipahami sebaik-baiknya di dalam mempelajari dasar-dasar
penelitian suatu karya ilmiah. Teori dibutuhkan sebagai pegangan-pegangan pokok
secara umum, sedangkan hipotesa dibutuhkan sebagai penjelasan problematika yang
dicarikan pemecahan.
Seorang ahli ilmu pengetahuan
tidak hanya bertujuan menemukan fakta, tetapi menemukan prinsip-prinsip yang
terletak dibalik fakta prinsip utama yang dicari ialah dalil, yakni
generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan dalil ini ahli tersebut melanjutkan penyelidikannya untuk meramalkan
rangkaian peristiwa berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk
dipakai sebagai pertimbangan penyimpulan sebuah dalil. Akan tetapi sekumpulan
data saja belum memberi jalan yang lapang pada penyelidik, karena data baru
mempunyai arti dan guna bila tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut
teori.
Teori sebagai titik
permulaan di dalam arti bahwa dari situlah bersumbernya hipotesa yang akan
dibuktikan. Misalnya saja seorang penyelidik membangun teori yang berbunyi
bahwa manusia yang dibesarkan di dalam suasana yang bebas pada umumnya lebih
berkesempatan untuk berhasil maju dengan usaha sendiri dari pada yang dididik di
dalam suasana penuh tekanan dan larangan. Suatu hipotesa yang mungkin
dihasilkan ialah bahwa anak yang berasal dari keluarga di mana orang tua tidak
meluaskannya keluar rumah untuk mengunjungi berbagai peristiwa, tidak dapat
melakukan tugas luar yang diberikan oleh guru. Dengan mengkhususkan persoalan
ini pada batas-batas yang dapat diukur (nilai tugas luar yang diberikan pada
anak itu dibandingkan dengan tugas luar murid-murid lainnya dari kategori
“tertekan” dan dari kategori “bebas”), hipotesa itu dapat diuji benar dan
salahnya. Dengan penyelidikan dalam berbagai situasi, dapat diperoleh data yang
meyakinkan akan kebenaran teori tersebut. Sehingga hasilnya dapat dirumuskan
dalam bentuk dalil, misalnya bahwa motivasi kemajuan manusia yang terdidik
dengan kebebasan adalah lebih baik daripada motivasi manusia yang terdidik
dalam tekanan.
Dengan dalil itu,
penyelidik dapat meramalkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di
dalam bidang tersebut, untuk memungkinkan sampai pada dalil berikutnya.
Dalil-dalil berikutnya itu dapat memperkuat dalil pertama, dapat pula merubah
atau menggantinya. Karena itu teori tersebut tidak diberi sifat final.[4]
D.
Menggali Data Lapangan
Kegiatan mengumpulkan data dalam suatu penelitian sangat membutuhkan
ketelitian, kecermatan serta penyusunan program yang terinci. Hal ini mempunyai
maksud agar diperoleh data yang benar-benar relevan dengan tujuan penelitian
itu sendiri.
Data dipakai sebagai bahan baku dalam penelitian. Pengambilan data dari
sumbernya mempunyai metode dan cara-cara tertentu. Tiap metode yang berbeda,
perangkat pengumpul data pun dapat berbeda. Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penilitian diantaranya:
1) Kuesioner
Kuesioner/ angket merupakan alat pengumpulan
data yang berupa daftar pertanyaan yang disusun sedemikian rupa untuk dijawab
responden. Kuesioner dapat disebut juga sebagai interview tertulis dimana
responden dihubungi melalui daftar pertanyaan. Menurut cara penyampaiannya kuesioner dapat dibedakan menjadi: angket
langsung dan angket tidak langsung. Dinamakan angket langsung jika daftar
pertanyaan itu dikirim langsung kepada responden yang dimintai pendapat tentang
dirinya sendiri. Sedangkan disebut angket tidak langsung jika daftar pertanyaan
itu tidak dikirim kepada seseorang yang dimintai keterangan untuk mengutarakan
keadaan orang lain. Jenis pertanyaan yang diajukan boleh jadi bersifat tertutup
maupun terbuka. Pertanyaan dikatakan tertutup jika jawabannya sudah
ditentukan lebih dahulu sehingga
responden tidak diberi kesempatan untuk memberikan alternatif jawaban,
dikatakan bersifat terbuka jika jawabannya tidak ditentukan sebelumnya,
responden diberikan kebebasan menguraikan jawabanya.
2) Tes
Tes merupakan metode pengumpulan data yang
sifatnya mengevaluasi hasil proses, instrumennya dapat berupa soal-soal ujian atau tes.
3) Kepustakaan
Teknik ini digunakan dalam keseluruhan proses
penelitian sejak awal hingga sampai akhir penelitian dengan cara memanfaatkan
berbagai macam pustaka yang relevan dengan fenomena sosial yang tengah
dicermati.
4) Observasi
Observasi ialah metode mengumpulkan data
secara sistematis melalui pengamatan dan pencatatan fenomena yang diteliti.
Dalam artian luas observasi berarti pengamatan yang dilaksanakan secara tidak
langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan
sebelumnya. Dalam arti sempit observasi berarti pengamatan secara langsung
terhadap fenomena yang diselidiki baik
dalam kondisi normal maupun dalam kondisi buatan. Metode ini menuntut adanya
pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadapa
objek penelitiannya.
5) Interview
Interview atau wawancara dipergunakan sebagai
cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan narasumber
atau responden. Teknik wawancara mempunyai kelebihan, penanya dapat mernerangkan secara detail
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pewawancara dalam mewawancarai resonden
hendaknya memenuhi syarat-syarat:
a. Pewawancara mampu membina hubungan yang baik
dengan responden dan mampu menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yag
dilakukan.
b. Pewawancara harus bisa dapat menghindarkan
diri dari pertanyaan yang bersifat mengarahkan atau menyarankan suatu jawaban.
c. Pewawancara menguasai persoalan-persoalan yang
diteliti.
Wawancara dapat dilakukan langsung berhadapan dengan yang diwawancarai dan dapat
pula dilakukan secara tidak langsung seperti memberikan daftar pertanyaan untuk
dijawab pada kesempatan lain.[5]
E. Mengolah Data
Data yang
terkumpul lalu diolah. Pertama-tama data itu diseleksi atas dasar reliabilitas
dan validitas. Data yang rendah reliabilitas dan validitasnya, data yang kurang
lengkap digugurkan atau dilengkapi dengan substitusi. Selanjutnya data yang
telah lulus dalam seleksi itu lalu diatur dalam tabel, matriks, dan lai-lain
agar memudahkan pengolahan selanjutnya. Kalau mungkin pada penyusunan tabel
yang pertama itu dibuat tabel induk ( master table). Jika tabel induk itu dapat
dibuat, maka langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah dikerjakan,
karena perhitungan dan analisis dapat dilakukan berdasarkan tabel induk itu.
Menganalisis
data merupakan suatu langah yang sangat kritis dalam penelitian. Penelitian
harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakannya, apakah analisis
statistik, ataukah analisis nonstatistik. Pemilihan ini tergantung pada jenis
data yang dikumpulkan. Analisis statistik sesuai dengan data kuantitatif atau
data yang dikuantifikasikan, yaitu data dalam bentuk bilangan, sedang analisis
nonstatistik sesuai untuk data deskriptif atau data textular. Data deskriptif
sering hanya dianalisikan menurut isinya, dan karena itu analisis semacam ini
juga disebut analisis isi (content analisis).
Untuk analisis
statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rencana
penelitiannya. Dan hal ini seperti telah disebutkan, ditentukan oleh hipotesis
yang akan diuji dan tujuan penelitian. Jenis-jenis data yang dianalisis juga
ikut menentukan model analisis yang tepat untuk digunakan. Untuk mendapatkan
gambaran garis besar mengenai berbagai jenis data dan model analisis yang
sesuai data-data tersebut, dapat diperiksa ikhtisar yang disajikan.
Mengenai analisis statistik itu lebih lanjut perlu dikemukakan, bahwa
masng-masing model atau metode mendasarkan diri pada asumsi tertentu. Agar
model atau metode itu berlaku maka perlulah asumsi-asumsi yang mendasarinya
dipenuhi. Hasil analisis
statistic akan berwujud angka-angka. Demikian pula hasil uji statistik.
Berdasarkan atas angka-angka itulah perlu dibuat keputusan yang digunakan dapat
konvensional, yaitu menyatakan hasil uji hipotesis itu signifikan atau tidak
signifikan dalam taraf signifikasi 1 persen, atau 5 persen, dapat pula tidak
konvensional, yaitu menggunakan batas taraf signifikan yang mengembang, tidak
terikat kepada konvensi 1 persen dan 5 persen itu.
Dari uji
statistik yang telah dilakukan akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, seperti
disebutkan di bawah ini :
1)
Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau pebedaan antara
sampel-sampel yang diteliti sangat signifikan (1%) atau signifikan (5%) atau
signifikan pada taraf signifikasi sekian persen.
2)
Hubungan antara variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara
sampel-sampel yang diteliti tidak signifikan.
Dalam
kemungkinan hasil yang pertama, besar kemungkinannya bahwa hipotesis
alternatifnya diterima, dan hipotesis nol ditolak. Menerima hipotesis
alternative berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau
adanya perbedaan diterima sebagai hal yang besar, karena telah terbukti
demikian. Sebaliknya, dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis
alternatif tidak terbukti kebenarannya, karena itu hipotesis nolnya yang
diterima.
Dengan telah
diambilnya keputusan mengenai penerimaan hipotesis itu analisis statistik telah
selesai, tetapi pekerjaan penelitian masih belum berakhir, karena hasil
keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi.[6]
F. Menarik Kesimpulan
Simpulan atau konklusi
merupakan rangkuman dari ide-ide yang telah disajikan dalam semua tulisan.
Simpulan atau konklusi ini merupakan pemikiran prespektif akhir penulis kepada
pembaca. Oleh karena itu harus tampak jelas hubungan antara problematik,
hipotesis, dan kesimpulan. .[7]
Suatu
kesimpulan dalam penelitian bukanlah merupakan suatu karangan atau diambil dari
pembicaraan-pembicaraan lain, akan tetapi hasil suatu proses tertentu yaitu
“menarik”, dalam arti “memindahkan” sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang
lain. Menarik kesimpulan di
sini harus mendasar atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian.
Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data, bukan atas
angan-angan atau keinginan peneliti.
Bagian pokok yang
merupakan pengarah kegiatan penelitian adalah perumusan problematika atau
rumusan masalah. Di dalam problematika ini peneliti mengajukan pertanyaan
terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabnya melalui kegiatan penelitian. Sehubungan
dengan pertanyaan inilah maka peneliti mencoba mencari jawaban sementara yang
disebut hipotesis. Sedangkan kesimpulan yang ditarik berdasarkan data yang telah
dikumpulkan, adalah merupakan jawaban, benar-benar jawaban yang dicari,
walaupun tidak selalu menyenangkan hatinya.
Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari
problematik yang dikemukakan, maka isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat
juga harus sama dengan isi dan banyaknya problematik. Sebagai illustrasi dapat
dikemukan contoh berikut:
Problematik atau rumusan masalah
1. Apakah seorang murid yang mendapat
motivasi dari orang tua mempunyai prestasi belajar yang sama dengan murid yang tidak mendapat motivasi dari
orang tua?
2. Apakah motivasi termasuk salah satu
faktor yang sangat berpengaruh terhadap prestasi anak?
Hipotesis
1. Seorang
murid yang mendapat motivasi dari orang tuanya mempunyai prestasi belajar yang
lebih baik dari pada murid yang tidak mendapatkan motivasi dari oarng tuanya
2. Motivasi
sangat berpengaruh terhadap prestasi anak
Kesimpulan penelitian (salah satu kemungkinan)
1.
Beberapa anak yang tidak mendapat
motivasi dari orang tua memiliki prestasi belajar yang baik.
2.
Motivasi
sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar ketika didukung oleh faktor
internal.
Kesimpulan di sini juga
bisa memuat implikasi dari penelitian tersebut dan ada kalanya disarankan pula
penelitian lanjutan. Sifatnya berbeda dengan ikhtisar yang funngsinya agar
pembaca dapat mengetahui dengan cepat hasil penelitian itu sebagai keseluruhan.[8]
IV.
Kesimpulan
Sebelum membuat Karya Tulis Ilmiah, yang pertama dilakukan adalah
mempersiapkan ide dengan mengumpulkan semua ide atau topik dari segala sumber
yang kemudian setelah itu dipilih dan dipertimbangkan. Setelah topik sudah
terpilih maka langkah kedua adalah membuat rumusan masalah, menganalisa
setiap kemungkinan dengan cara membuat suatu
pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Ketiga,
mengkaji teori dengan membuat sebuah hipotesis yang
kemudian dibuktikan dengan teori yang dijadikan sebagai dalil dari sebuah
penelitian. Apakah teori tersebut dapat dibuktikan atau tidak. Keempat
mengumpulkan data, dalam mengumpulkan data memliki banyak metode diantaranya
metode kuesioner (membuat daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden), tes
(mengumpulkan data dari hasil evaluasi), kepustakaan (mengumpulkan data dengan
memanfaatkan berbagai macam pustaka),
observasi (mengumpulkan data dengan melakukan penelitian), interview (melakukan wawancara
dengan narasumber). Kelima mengolah data, proses yang paling menentukan dalam pembuatan Karya
Ilmiah, semua data yang terkumpul diolah sedemikian rupa sehingga data siap
untuk disajikan. Keenam menarik kesimpulan, dengan mengambil dari pokok-pokok materi yang telah disajikan dalam semua tulisan.
Simpulan
juga dapat disebut sebagai pemikiran perspektif akhir penulis kepada pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Bisri.Mustofa.Mintisnawati. Teknik Menulis Karya Ilmiah Dalam Menghadapi
Sertifikasi. Semarang: CV. Ghyyas putra,2009.
Dalman. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2012
Danim.Sudarwan. Karya Tulis Inovatif. Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2010
Haryanto A.G. dkk.Metode Penulisan Dan
Penyajian Karya Ilmiah.jakarta: egc,2000
Singarimbum.Misri.dkk. Metode Penelitian
Survai. Jakarta: lp3es,
2011
Suyabrata.Sumadi. Metodologi Penelitian.
Jakarta: Raja Grafindo, 1997
LAMPIRAN CONTOH
DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Globalisasi
adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas
wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang
dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya
sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi
bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Proses globalisasi
berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu. Globalisasi berlangsung
di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, dan
terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dan komunikasi adalah
faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, teknologi informasi dan
komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat
tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat
dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus
globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan. Banyak
sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan
globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada
sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya
bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib
sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah menengah
hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas
internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar
akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan
diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan
akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara
ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan
yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri.
Persaingan
untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat
masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan
kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya
cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang
dipadukan dengan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya
peningkatan kualitas pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat
Indonesia saat ini. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat
Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat
menikmati pendidikan dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya
yang cukup besar. Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi
pendidikan belum dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk
dapat menikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di
tanah air diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat
dinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin
maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam
dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam
jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah –
sekolah mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah
bahkan untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan
ini dapat memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial.
Peningkatan kualitas pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak
sosial dalam masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan
tidak diredam dari sekarang.
1.2
Rumusan
Masalah
a.
Apa dampak
dari globalisasi untuk dunia pendidikan?
b.
Penyebab
buruknya pendidikan di era globalisasi?
c.
Cara
penyesuan pendidikan di Indonesia pada era globalisasi?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengaruh Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan
Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari
pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi
berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia
pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga
pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global
maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan,
baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar
lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi
masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral
yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi,
menimbulkan
Dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-poin berikut:
Dampak positif dan negatif dari dari pengaruh globalisasi dalam pendidikan dijelaskan dalam poin-poin berikut:
1. Dampak Positif
Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Pengajaran Interaktif
Multimedia
Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola
pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah
menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer.
Apabila dulu, guru menulis dengan sebatang kapur, sesekali membuat gambar
sederhana atau menggunakan suara-suara dan sarana sederhana lainnya untuk
mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi. Sekarang sudah ada computer.
Sehingga tulisan, film, suara, music, gambar hidup, dapat digabungkan menjadi
suatu proses komunikasi.
Dalam fenomena balon atau pegas, dapat terlihat bahwa daya itu dapat
mengubah bentuk sebuah objek. Dulu, ketika seorang guru berbicara tentang
bagaimana daya dapat mengubah bentuk sebuah objek tanpa bantuan multimedia,
para siswa mungkin tidak langsung menangkapnya. Sang guru tentu akan
menjelaskan dengan contoh-contoh, tetapi mendengar tak seefektif melihat. Levie
dan Levie (1975) dalam Arsyad (2005) yang membaca kembali hasil-hasil
penelitian tentang belajar melalui stimulus kata, visual dan verbal
menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik
untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan
menghubung-hubungkan fakta dengan konsep.
Perubahan Corak Pendidikan
Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk
berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau
tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk
melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemen, UU Sisdiknas,
dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah
membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi
desentralistis. Sekolah-sekolah atau satuan pendidikan berhak mengatur
kurikulumnya sendiri yang dianggap sesuai dengan karakteristik sekolahnya.
Kemudahan Dalam Mengakses Informasi Dalam dunia pendidikan, teknologi hasil
dari melambungnya globalisasi seperti internet dapat membantu siswa untuk
mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan serta sharing riset antarsiswa
terutama dengan mereka yang berjuauhan tempat tinggalnya.
Pembelajaran Berorientasikan Kepada Siswa Dulu, kurikulum terutama
didasarkan pada tingkat kemajuan sang guru. Tetapi sekarang, kurikulum
didasarkan pada tingkat kemajuan siswa. KBK yang dicanangkan pemerintah tahun
2004 merupakan langkah awal pemerintah dalam mengikutsertakan secara aktif
siswa terhadap pelajaran di kelas yang kemudian disusul dengan KTSP yang
didasarkan pada tingkat satuan pendidikan. Di dalam kelas, siswa dituntut untuk
aktif dalam proses belajar-mengajar. Dulu, hanya guru yang memegang otoritas
kelas. Berpidato di depan kelas. Sedangkan siswa hanya mendngarkan dan
mencatat. Tetapi sekarang siswa berhak mengungkapkan ide-idenya melalui
presentasi. Disamping itu, siswa tidak hanya bisa menghafal tetapi juga mampu
menemukan konsep-konsep, dan fakta sendiri.
2. Dampak Negatif
Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan
sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait
menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia
pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan
pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan. Salah satu ciri utamanya
ialah semangat menguji murid ala Victoria yang bisa menyenangkan Mr. Gradgrind
dalam karya Dickens. Perusahaan-perusahaan ini harus membuktikan bahwa mereka
memberikan hasil, bukan hanya bagi murid, tapi juga pemegang saham.(John
Micklethwait, 2007:166). .
Bahaya Dunia Maya
Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah
juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam
materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi,
kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat
pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa
pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak
ditawarkan melalui internet. Contohnya, 6 Oktober 2009 lalu diberitakan salah
seorang siswi SMA di Jawa Timur pergi meninggalkan sekolah demi menemui seorang
lelaki yang dia kenal melalui situs pertemanan “facebook”. Hal ini sangat
berbahaya pada proses belajar mengajar.
Ketergantungan
Mesin-mesin penggerak globalisasi seperti computer dan internet dapat
menyebabkan kecanduan pada diri siswa ataupun guru. Sehingga guru ataupun siswa
terkesan tak bersemangat dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan alat-alat
tersebut.
2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia
2.2.1
Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik
Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini
adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat
antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis
pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi,
kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan,
yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam
ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian
sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan
teknologi.
Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama
melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen
Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah,
kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan
Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu
kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak
berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian
terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama
ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan
menjadi landasan seluruh aspek.
Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang
menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi,
pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan
penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan
rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan
agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya pun bagus, tetapi buta
dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor modern diisi orang-orang
awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu
terjun ke sektor modern.
2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di
kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyam
pendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK)
sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali
tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari
kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), dimana
di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena
itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur
pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas.
Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada
wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namun dalam penggunaan dana, tidak
transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum
Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk
Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan
perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempar tanggung jawabnya
atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas.
Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan
publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran
utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap
tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector
yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana
pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar
(Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti
Pemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan
tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya
sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan
pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk
meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu
untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin
terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya
siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin
setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk
mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin
berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan
alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.
Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan.
Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade).
Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan.
2.2.2
Kualitas SDM yang Rendah
Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitas
kepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlian
pun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan dengan
India, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi,
pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh
tertinggal. India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika
Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak
terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi
bergengsi di pasar Internasional.
Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah di
Indonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1.
berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP dan SMU
maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkan sekitar
218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembaga pendidikan
keguruan.
Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya
manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga
diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non
formal.
2.3 Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era Globalisasi
Dari beberapa takaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap
menghadapi globalisasi. Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu
saja dalam arus global tersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih
dalam masa transisi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan
peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional. Inilah salah satu
tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan
tangguh. Kedua, dunia pendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan.
Namun dari uraian di atas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian dari pendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuat kita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan),
repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu
semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus
berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan
komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun
2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa
yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam globalisasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak
mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari
gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain
yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman
bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Dampak Positif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Pengajaran Interaktif Multimedia
Pengajaran Interaktif Multimedia
Kemajuan teknologi akibat pesatnya arus globalisasi, merubah pola
pengajaran pada dunia pendidikan. Pengajaran yang bersifat klasikal berubah
menjadi pengajaran yang berbasis teknologi baru seperti internet dan computer.
Perubahan Corak Pendidikan, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan
oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti
IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan
harus berkompromi untuk melakukan perubahan.
Dampak Negatif Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia.
Komersialisasi Pendidikan
Era globalisasi mengancam kemurnian dalam pendidikan. Banyak didirikan
sekolah-sekolah dengan tujuan utama sebagai media bisnis. John Micklethwait
menggambarkan sebuah kisah tentang pesaingan bisnis yang mulai merambah dunia
pendidikan dalam bukunya “Masa Depan Sempurna” bahwa tibanya perusahaan
pendidikan menandai pendekatan kembali ke masa depan.
Bahaya Dunia Maya
Dunia maya selain sebagai sarana untuk mengakses informasi dengan mudah
juga dapat memberikan dampak negative bagi siswa. Terdapat pula, Aneka macam
materi yang berpengaruh negative bertebaran di internet. Misalnya: pornografi,
kebencian, rasisme, kejahatan, kekerasan, dan sejenisnya. Berita yang bersifat
pelecehan seperti pedafolia, dan pelecehan seksual pun mudah diakses oleh siapa
pun, termasuk siswa. Barang-barang seperti viagra, alkhol, narkoba banyak
ditawarkan melalui internet.
Penyebab buruknya pendidikan di era globalisasi di indonesia adalah
Mahalnya Biaya Pendidikan, Kualitas SDM yang Rendah dan fasilitas pendidikan
ang kurang, itu yang mengakibatkan pendidikan tidak berjalan dengan lanca.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning (pandangan),
repositioning strategy (strategi) , dan leadership (kepemimpinan). Tanpa itu
semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus
berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan
komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu
DAFTAR PUSTAKA
Asri B. 2008. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Faizah, F. 2009. Dampak Globalisasi Terhadap Dunia Pendidikan,
(Online), (http://www.blogger.com/profile/14458280955885383127), diakses 18 Oktober
2011.
Munir. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan
Maqdani, Anggota IKPI.
Surya, M. 2002. Dasar-dasar Kependidikan di SD. Pusat penerbitan
Universitas Terbuka. Suryabrata, S. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta:
Rajawali Pers.
Januar, I. 2006. Globalisasi pendidikan dI indonesia,
(Online),
(www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=mygroup&gid=340151), diakses
18 Oktober 2011.
Wardoyo, C. 2007. Urgensi Pendidikan Moral (Online), (http://www.nu.or.i) diakses
18 oktober 2011.
BIODATA KELOMPOK
1. Nama : ALFINA ZULFA
Nim :
133311012
Jurusan :
Kependidikan Islam
TTL :
Pekalongan, 15 April 1995
Riwayat Pendidikan :-SDN
Paweden-Buaran-Pekalongan
-MTs. MANAHIJUL HUDA Ngagel Dukuhseti Pati
-MAS.
SIMBANGKULON Buaran Pekalongan
Alamat : Paweden Rt: 09/Rw: 03 Buaran
Pekalongan
NO. HP :085642696645
Email : fina_alfina@ymail.com
Facebook :
Alfina Zulfa
Twitter :
@finafizu
Blog :
alfinazulfa77.blogspot.com
2. Nama : MA’RIFATUN
Nim : 133311009
Jurusan : Kependidikan Islam
Ttl :
Tegal, 7 Juli 1995
Riwayat Pendidikan : -MI Salafiyah
02 suradadiTegal
-MTs Al-Fatah Suradadi Tegal
-MAN Babakan Lebaksiu Tegal
Alamat :
Jl. Jangkar Rt/Rw 02/03 Suradadi Tegal
No. Hp :
089650321102
Email : marifahqolbie@yahoo.com
Facebook : Ma’rifah Qurrotal
Qolbie
Twitter :
@ma’rifah_alma
Blog : marifahs-blog-create.blogspot.com
3. Nama : RIZQI AMALIA
NIM : 133311011
Jurusan : Kependidikan Islam
Ttl : Jepara, 3 September 1995
Riwayat pendidikan : -MI Matholi’ul
Huda Troso Pecangaan Jepara
-MTs Matholi’ul Huda Troso Pecangaan
Jepara
-MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan
Jepara
Alamat : Troso Rt 5 /Rw 2 Peacangaan Jepara
No. Hp : 08985519738
Email : amaliarizqi096@gmail.com
Facebook : Rizqi Amalia
Twitter :
@Rizqi Amalia
Blog : Amalia Rizqi.blogspot.com
4. Nama : SOYA ANGGISYA IQBI
NIM :
133311010
Jurusan : Kependidikan Islam
Ttl : Jepara, 23 januari 1995
Riwayat pendidikan :- SD 04 Troso
Pecangaan Jepara
-MTs Matholi’ul Huda Troso Pecangaan
Jepara
-MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan
Jepara
Alamat : Troso Rt 7/Rw 7 Pecangaan Jepara
No. Hp : 089367422352
Email : soyaiqbi@yahoo.co.id
Facebook : Anggisya Soby
Twitter : @anggisyasoby
Blog :
[5] Bisri, Mustofa, Tintisnawati. Teknik Menulis Karya Ilmiah dalam
Menghadapi sertifikasi. Semarang: CV. Ghyyas Putra.2009. hlm 34-39
0 komentar:
Posting Komentar