Pages

Selasa, 01 Juli 2014

KONSEP ISLAM TENTANG MANUSIA DAN ALAM



MAKALAH
KONSEP ISLAM TENTANG MANUSIA DAN ALAM
Disusun Guna Memenuhi: Tugas
Mata Kuliah: Pengantar Studi Islam
Dosen Pengampu: Dr. Musthofa, M. Ag



DisusunOleh:
Ma’rifatun                 (133311009)
Rizqi Amalia              (133311011)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI WALISONGO
SEMARANG
2014


       I.PENDAHULUAN
      Membicarakan tentang manusia selalu saja menarik dan tidak pernah ada habisnya. Karena pertanyaan dan keheranan manusia terhadap dirinya sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, saling melengkapi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung. Manusia sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karena persoalan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu  ataupun latar belakang historis kultural tertentu.
      Persoalan itu menyangkut tata hubungan antar dirinya sebagai makhluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia juga merupakan manusia yang bersifat dependen. Persoalan lain yang menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan mahkluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan, minum, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya. Tetapi juga  sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, menstrandensikan kebutuhan jasmaniah, yaitu rasa aman, kasih sayang, perhatian, yang semuanya mengisyaratkan adanya kebutuhan rohaniah. Dan terakhir manusia menghadapi problema yang menyangkut kepentingan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi, kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangka bahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider”, hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagi manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat yaitu ”Abdul Allah” (hamba Allah), satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).

    II. RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Konsep Islam Tentang Manusia?
B.     Bagaimana Konsep Islam Tentang Alam?
C.     Bagaimana Hubungan Manusia Dengan Alam?

 III. PEMBAHASAN
A.    Konsep Islam Tentang Manusia
1.      Pengertian Manusia
            Dalam al-Qur’an istilah manusia menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan an-nas. Kata basyar dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 27 kali. Kata basyar menunjukkan pengertian manusia sebagai makhluk biologis, firman Allah Swt:
قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُوْنُوْا لِى وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ
“Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." (QS. Ali ‘Imron: 47)
Ayat di atas  memberi pengertian kepada sifat biologis manusia, seperti makan, minum, Hubungan seksual dan lain-lain.
            Kata al-insan dituturkan sebanyak 65 kali dalam al-Qur’an yang dapat dikelompokkan menjadi 3 kaategori:
a)      Al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS. Al-Ahzab: 72)
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233][1] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.”
b)      Al-insan dihubungkan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS. Al-Ma’arij: 19-21)
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”
c)      Al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS. Al-Hijr: 28-29). Semua konteks al-insan menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud
            Kata an-nas dalam Qur’an disebut sebanyak 240 kali mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial.
            Eksistensi manusia dapat diwujudkan melalui kiprahnya dalam melakukan tanggung jawab terhadap amanah yang dipikulkan Tuhan di atas pundaknya, sebagai khalifah dibumi, sebagaimana terdeskripsi pada surat al-Baqarah: 30). Posisi manusia sebagai khalifah di dunia ini sangat mulia melebihi pandangan yang mana pun, tidak terkecuali pandangan humanisme Eropa pasca Renaissance.
            Dalam ilmu Mantiq (ilmu logika) manusia dikatakan sebagai hewan yang berkata-kata, mengeluarkan pendapat berdasarkan pemikirannya. Jadi manusia adalah hewan yang berpikir. Berpikir adalah mencari jawaban, mencari jawaban berarti mencari kebenaran.
2.      Penciptaan dan Reproduksi Manusia
Penciptaan manusia dan reproduksi manusia dimaksudkan adalah manusia pertama kali yaitu penciptaan Adam dan Hawa serta penciptaan keturunannya yang dikenal dengan reproduksi.
a)      Penciptaan Adam
            Adam sebagai manusia pertama atau prototif manusia, tercipta dari unsur-unsur:
1)    Tanah, diterangkan dalam Al-Qur’an  digunakan istilah “turab
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآانْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS Al-Rum: 20)
2)      Saripati yang tersaring dari tanah
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْانْسَانَ مِنْسُلَالَةٍ مِنْ طِيْنٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minun: 12)
3)    Tanah kering seperti tanah tembikar yang terbakar
خَلَقَ الْانْسَان مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar"(QS. Al-Rahman: 14)
4)      Tanah kering yang berobah baunya 
خَلَقَ الْانْسَان مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَاٍ مَسْنُوْنٍ 
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr: 26)
5)      Air yang merupakan asal usul seluruh kehidupan
 وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا  وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا
"Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[2] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa." )QS. Al-Furqon:54)
6)      Roh,
فَاأِذَاسَّيْتُهُ وَنَفَخْتَ فِيْهِ مِنْ رُوْحِى فَقَعُوْالَهُ سَاجِدِيْنَ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud[3](QS. al-Hijr: 29)
            Dari ayat-ayat di atas menginformasikan bahwa komponen biologis  manusia itu terbentuk dari komponen-komponen yang terkandung dalam tanah dan air serta satu lagi komponen terpenting yang dimiliki manusia yaitu roh. Setelah proses-proses fisik berlangsung, pemasukan roh menjadi unsur penentu yang membedakan manusia dengan dunia makhluk lain.
b)      Penciptaan Hawa
            Dalam penciptaan Hawa sebagai istri Adam, Al-Qur’an membicarakannya dengan singkat melalui surah An-Nisa:1
يَاآيُّهَالنَّاسُ التَّقُوْارَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَارِجَالاًكَثِيْرًاوَنِسَاءً
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[4] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak."
            Dalam surah Al-Mu’minun: 12-14 diterangkan proses reproduksi manusia mula-mula disebut nutfah (conceptus/zygote) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim), “fii Qororin makiin”. Kemudian menjadi ‘alaqah (blastocyst), peoses bersarangnya blastocyst pada dinding rahim disebut “nidatio/implatio”. Dari alaqah kemudian menjadi “mudlghah” yatu “embrio” selanjutnya ditiupkan ruh, di ayat lain disebutkan “wanafakhtu fiihi min ruhihi” kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Ayat  itu ditutup dengan “fatabaarokallahu ahsanul kholiqiin” maha suci Allah pencipta yang paling baik.
            Selanjutnya soal masa hamil dijelaskan dalam surah dan ayat lain yaitu masa/usia minimal hamil seseorang yaitu 6 bulan, hal ini disimpulkan dari (QS. Al-Ahqof: 15) yang intinya menyebutkan bahwa masa menyusui dan hamil selama 30 bulan dan dari QS. Luqman : 14 yang intinya masa menyusui adalah 2 tahun atau 24 bulan. Dengan demikian, masa hamil minimal adalah 30 bulan dikurangi 24 bulan yaitu 6 bulan.
3.      Tujuan Penciptaan Manusia
            Sebuah pertanyaan yang harus kita tanamkan betul-betul ke dalam lubuk hati kita masing-masing “untuk apa diciptakan manusia?”. Semua sudah tahu jawabannya, bahwa manusia ini datang dari Allah yang menciptakan dan yang mengatur serta mengurus kehidupan ini. Dialah yang mengetahui segala rahasia apa yang di balik penciptaan-Nya itu. Dialah yang lebih pandai dan lebih tahu dari pada apa yang diciptakan-Nya. Allah Swt berfirman dalam Al-qur’anul Karim:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْانس الْاَّلِيَعْبُدُوْنَ
"  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi pada-Ku”(QS. Adz-Dzariyat: 56)
            Kata “Abdi” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya memperhambakan diri, ibadah (mengabdi/memperhambakan diri). Manusia diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian ibadah disini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat pada umumnya, yakni kalimat syahadat,shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba (budak) Allah. Berbuat sesuai dengan kehendak dan kesukaan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
4.      Fungsi dan Kedudukan Manusia
            Dalam kitab suci Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia agar ia menjadi khalifah (pemimpin) di atas bumi ini dan kedudukan in sudah jelas pada diri Adam, seperti firman Allah:
وَهُوَ الَّذِى جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الْاَرْضِوَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآآتَاكُمْ
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-An’am: 16
            Di sisi lain Allah menganugerahkan kepada manusia segala yang ada di bumi. Maka sebagai tanggung jawab kekhalifahan dan tugas utama umat manusia sebagai makhluk Allah, ia harus selalu menghambakan diri kepada Allah Swt.
            Untuk mempertahankan posisi manusia tersebut, Tuhan menjadikan alam ini lebih rendah martabatnya daripada manusia. Oleh karena itu, manusia di arahkan agar tudak tunduk pada alam atau gejala alam (QS. Al-Jatsiah: 13) melainkan hanya tunduk pada-Nya semata sebagai hamba Allah. Manusia harus membebaskan diri dari mensakralkan atau menhankan alam.[5]
B.     Pandangan Islam tentang Alam
1.      Pengertian Alam Semesta
Berbicara tentang alam, pandangan manusia terbelah menjadi dua yang saling kontradiktif.  Pertama, mengatakan  bahwa alam yang terorganisasi dan berfungsi sebagai adanya ini, hanya terjadi secara kebetulan. Jadi ala mini ada tanpa ada yang menciptakan. Kedua, mengatakan bahwa alam ini  mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan, pasti ada yang menciptakannya  kalau tidak pasti alam yang kita saksikan ini tidak teratur secara baik. Selanjutnya  bagaimana pandangan Islam terhadap alam itu?
Ketentuan dasar dalam ajaran Islam bahwa segala sesuatu yang selain Tuhan adalah  alam.  Kata-kata kunci yang digunakan  antara lain al’alam, al-alamin, kullu syai’in, khalqun/makhluqun  seperti dalam  Al-Qur’an surah Al-Fatihah [1]:2 yang artinya  :”Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” dan dalam surah Al-An’am (6) ayat 102 yang artinya: “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu  ialah  Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia , dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”.   Kadang-kadang alam juga disebut langit dan bumi serta segala isinya, sebagaimana dalam  Al-Qur’an surah  Ali-Imran [3] ayat 190 yang artinya: “sesungguhnya  dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.
Jika kita cermati dengan seksama surah-surah  dan ayat-ayat Al-Qur’an seperti berikut ini (Al-Hajj [22]:18) ;Al-Nahl [16]:49;Al-Ra’ad [13]: 15) akan kita jumpai kata-kata yasjudu, yaitu  sujud, patuh atau tunduk pada ketentuan/hukum Allah atau tunduk pada sunnatullah.
Manusia sebagai salah satu unsur alam seharusnya selalu tunduk terhadap aturan/ketentuan yang ada dalam ekosistem tersebut. Akan tetapi, manusia yang memiliki fungsi sebagai khalifah Allah di bumi ini dilengkapi kebebasan berkehendak (free will) maka ia bebas untuk tunduk dan atau tidak tunduk sama sekali. Dari sini mulai tampak  perbedaan antara manusia (sebagai salah satu unsur alam) dengan alam lainnya, yakni manusia bebas menentukan sedangkan alam tidak. Dengan demikian, alam memiliki kelebihan sekaligus kelemahan. Kelebihannya terletak pada selalu tunduk atas aturan/ketentuan Allah, maka alam selalu berada pada posisi yang selalu harmonis. Sedangkan kelemahannya terletak pada tidak berdayanya menentukan sikap-sikap bila umpamanya manusia dengan seleranya mencoba merusak ekosistemnya.
Alam sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dan kekurangan seperti diterangkan tadi tidak boleh dipandang berlebih-lebihan atau bahkan disakralkan, tetapi harus dipandang secara wajar, objektif, seperti apa adanya (Rusdy Zakaria, dkk, 1991). Yang penting bahwa  dengan keteraturan  dan keharmonisan alam semesta ini tadi menunjukkan betapa Maha Kuasa Allah.
Konsep tauhid  dalam Islam menutup pintu rapat terhadap pandangan yang mensyakralkan alam atau bahkan mentuhankan alam. Oleh karena itu, syirik (mensyarikatkan Tuhan) dalam Islam merupakan dosa besar dan aniaya yang besar (QS Al-Nisa [4]: 48; Luqman [31]: 13).
Islam adalah agama tauhid yakni agama yang meng-Esa-kan Allah secara mutlak. Formulasi dasar ajaran Islam itu tertuang dalam syahadat/persaksian “la ilaha illa allah”  artinya “tidak ada Tuhan kecuali Allah” . Dalam  kalimat yang pendek ini  tersirat dua pemahaman. Pertama, peniadaan/negasi artinya dengan kata-kata “la ilaha” tidak ada Tuhan itu maksudnya adalah meniadakan sama sekali (nayfun lil jinsi) Tuhan /ilah. Kedua, kecuali Allah sebagai pengecualian, maksudnya bahwa tidak semua Tuhan itu tidak ada, kecuali satu, yaitu Allah (Tuhan itu sendiri).[6]
2.      Hukum yang Terkait dengan Alam Semesta
Seorang yang memiliki keyakinan religius akan bertanggung jawab atas keterbelakangan dirinya dan tak akan menyalahkan Negara dan pemerintahannya atas keterbelakangannya tersebut. Dia percaya bahwa jika ada yang tidak beres. Hal itu karena dirinya dan warga lain seperti dirinya tidak dapat menunaikan tugas dengan baik. Tentu saja perasaan seperti ini akan membangkitkan rasa harga dirinya, dan mendorong dirinya melangkah ke depan dengan penuh optimism.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan religius adalah seperti orang yang tinggal di sebuah  negara yang sistem, hukum, dan formasinya dia yakini zalim, dan orang tersebut terpaksa menerima, meski tidak sesuai dengan kata hatinya, system, hukum, dan formasi Negara tersebut. Hati orang seperti itu akan selalu dipenuhi rasa benci dan dendam. Sedikit pun  dia tak akan pernah berencana meningkatkan kualitas dirinya. Menurutnya, kalau segalanya sudah tidak beres , kejujuran dan ketulusan dirinya tak aka ada gunanya. Orang seperti itu tak akan pernah menikmati dunia ini.
Pada dasarnya, manusia berusaha untuk sukses, dan rencana untuk meraih kesuksesan  tersebut membuat hatinya berbunga-bunga. Ketakutan akan masa depan yang gelap membuat dirinya merasa ngeri dan mengusik ketenangannya. Ada dua hal yang membuat orang bahagia dan puas, yaitu : (1) upaya; (2) kepuasan terhadap kondisi-kondisi yang lazim di lingkungannya.
Kesuksesan seseorang ditentukan oleh dua hal : Pertama, upayanya sendiri. Kedua, kondusif atau tidak atmosfer di lingkungan dan dorongan dari masyarakat. Jika seseorang yang pekerja keras tidak percaya dengan atmosfer lingkungannya dan masyarakatnya, sepanjang tahun dia akan khawatir akan adanya perlakuan yang tidak adil dan akan dicekam rasa cemas.
3.      Hukum Takwa
  Seperti sebagian binatang lainnya, manusia suka hidup berkelompok. Tak seorang manu sia pun yang seorang diri dapat memenuhi semua kebutuhannya. Dalam hidup ini mutlak diperlukan kerjasama. Kehidupan social dapat dikatakan baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak masing-masing, memperlihatkan rasa bersahabat satu sama lain, dan menganggap suci keadilan, dalam masyarakat yang sehat, setiap orang menghendaki untuk orang lain apa yang dikehendaki untuk dirinya dan tidak menghendaki untuk orang lain apa yang tidak dikehendaki untuk dirinya. Semua individunya saling percaya, dan dasar dari saling percaya ini adalah kualitas spiritual mereka. Setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap masyarakatnya, juga memperlihatkan kualitas ketakwaan dan kebajiakn ketika sendirian maupun ketika berada di tengah masyarakat, dan berbuat baik kepada orang lain dengan tulus.
Keyakinan religius sajalah yang terutama sekali menghargai kebenaran, menghormati keadialan, mendorong kebajikan dan saling percaya, menanamkan semangat ketakwaan, mengakui nilai-nilai moral, menyemangati individu untuk mempersatukan individu menjadi satu tubuh yang kokoh. Kebanyakan tokoh yang cemerlang dan termasyhur di dunia dan dalam sejarah mendapat ilham dari perasaan religius.
Jadi dengan manusia mengabdikan diri kepada Allah Swt secara penuh melakukan segala yang diperintahkan dan meninggalkan seluruh yang dilarangNya dengan sepenuh hati sesuai dengan kehendakNya maka manusia akan mencapai derajat takwa.[7]

C.     Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa tanpa memiliki ideal dan agama, manusia  tak dapat hidup sehat, juga tak dapat memberikan pengabdiannya yang bermanfaat kepada umat manusia dan budaya manusia. Bila seseorang tidak memiliki ideal dan agama, maka dia akan asyik  memikirkan kesejahteraan hidupnya sendiri, atau akan berubah menjadi robot tak bernyawa yang meraba-raba dalam gelap dan tak tahu tugasnya berkenaan dengan masalah moral dan sosial dalam hidup ini.
Kecendrungan religius mendorong  manusia melakukan berbagai upaya, sekalipun harus mengorbankan perasaan individualitas dan naluriahnya. Terkadang manusia mengorbankan jiwanya dan kedudukan sosialnya untuk kepentingan agamanya. Hal ini dapat terjadi hanya bila idealnya sudah mencapai tingkat kesucian dan sepenuhnya mengendalikan eksistensinya. Hanya kekuatan religiuslah yang dapat membuat suatu ideal menjadi suci, dan membuat ideal tersebut memiliki otoritas terhadap manusia.
Memang sering manusia mengorbankan jiwa, harta, dan semua yang  dicintainya bukan untuk kepentingan ideal atau keyakinan religius apa pun, melainkan  karena ditekan oleh rasa benci, dengki, dendam, atau karena reaksi keras terhadap rasa tertindas. Kasus-kasus seperti ini lumrah terjadi di seluruh penjuru dunia.
Namun, antara ideal religius dan ideal non religius ada bedanya. Karena keyakinan religius dapat membuat suatu ideal menjadi suci maka untuk kepentingan keyakinan tersebut dilakukan berbagai pengorbanan secara ikhlas dan naluriah. Tugas yang ditunaikan dengan ikhlas memperlihatkan suatu pilihan, namun tugas yang ditunaikan karena pengaruh tekanan jiwa yang mengusik, berarti suatu ledakan. Jadi jelaslah, anatar keduanya ada perbedaan yang besar.
Al-Qur’an suci juga menyebutkan bahwa keyakinan religius merupakan bagian dari fitrah manusia.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْن حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللَّه الَتِي فَطَرَ النَاسَ عَلَيْهَا

 “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus. Yaitu fitrah di mana Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS Ar-Rum [30]:30).[8]
 IV. KESIMPULAN
      Hakikat manusia adalah makhluk biologis, psikologis, dan sosial yang memilki dua predikat statusnya dihadapan Allah, pertama sebagai Hamba Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56) dan kedua fungsinya di dunia ini sebagai khalifah Allah (QS. Al-Baqarah: 30), mengatur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh terhadap sunnatullah.
      Hakikat alam adalah termasuk masalah yang prinsip (ultimate problems). Islam sebagai agama tauhid memberikan petunjuk yang konkret  bahwa alam harus dipandang apa adanya secara objektif dan tidak ada peluang sama sekali untuk mensakralkan alam, karena mensyakralkan alam akan berakibat fatal yaitu tersungkur di lembah syirik.
      Manusia memilki ideal dan agama dalam mengarungi hidup, ideal sikap seimbang bertindak sesuai dengan kodrati tanpa merusak alam. Hubungan manusia dengan alam haruslah balance, satu sama lain saling memberi manfaat dan melestarikan. Dan di sini kedudukan manusia lebih tinggi dibanding alam.
    V. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan.Kami sadar bahwa karya tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan. Oleh karena itu kami sangat berharap akan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin.














DAFTAR PUSTAKA
Supadie, Didiek Ahmad, dkk. Pengantar Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Departemen Agama RI. Al- Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta:PT. Bumi Restu,1997.



[1] [1233]. Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
[2] Mushaharah artinya hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya.
[3] Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.
[4] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[5]Didiek Ahmad Supadie, dkk. Pengantar Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers, 2012. Hlm 137-144
[6] Didiek Ahmad Supadie, dkk. Pengantar Studi Islam.Hlm 144-147

[7] Didiek Ahmad Supadie, dkk. Pengantar Studi Islam.Hlm 152-156

[8] Didiek Ahmad Supadie, dkk. Pengantar Studi Islam.Hlm 147-152

0 komentar:

Posting Komentar