Pages

Selasa, 20 Mei 2014

About Me



SAYA DAN PERJALANAN HIDUP SAYA
Nama saya Ma’rifatun, beberapa orang memanggil saya dengan panggilan “Ma’”, panggilan yang cukup unik dan menggelitik, dan beberapa orang yang lain memanggil saya Ma’rifah. Saya lahir di Tegal pada 7 juli 19 tahun kurang 2 bulan yang lalu, tepatnya hari Jum’at pukul 11:00 WIB, dari pasangan Suhari dan Sukini. Saya merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, saya sangat bahagia berada di tengah-tengah mereka saudara yang selalu membuat saya merasa menjadi orang yang paling beruntung. Kakak pertama saya laki-laki, kakak kedua dan tiga perempuan, ketiga adik di bawah saya laki-laki, dan bungsu serta kakaknya, keduanya perempuan. Saya memiliki saudara perempuan yang benar-benar mirip dengan saya, dia kakak saya yang kedua. Hampir semua orang menganggap kami kembar, padahal usia kami terpaut cukup jauh yakni empat tahun lebih.
Karena saya terlahir di daerah pedesaan, masa kecil saya begitu akrab dengan alam hijau, sungai yang mengalir, ombak laut yang menggulung-gulung, hamparan sawah dari hijau yang kian menguning. Hobi saya adalah renang. Saya sangat suka berenang karena  hampir setiap minggu saya pergi ke pantai bersama teman sebaya untuk berenang meski di laut. Selain itu, saya juga mempunyai hobi bermain badminton, saya merasa mempunyai potensi dalam hal ini. Beberapa kali saya berhasil mengalahkan lawan main saya.
Saya tinggal di daerah pantai sehingga matapencaharian mayoritas di desa saya adalah nelayan, tidak terkecuali ayah saya, beliau juga bekerja sebagai nelayan. Pertama kali ayah merantau jauh adalah ke Bali dan keluarga kami sempat tinggal di Bali selama beberapa tahun, sekitar tahun 1993-1998 M. Karena tuntutan kebutuhan  yang terus bertambah, sekarang ayah bekerja sebagai nelayan di luar negeri. Keinginan saya dari dahulu hingga sekarang adalah menjemput ayah agar ayah tidak bekerja jauh lagi dari kami. Ayah merupakan pahlawan terbaik dan terhebat kami. Ibu saya seorang ibu rumah tangga dan terkadang ibu pergi ka sawah untuk mengurus sawah kami. Wanita yang paling saya sayangi di dunia ini adalah ibu, wanita yang begitu sabar dalam mengurus kami.
Pendidikan pertama saya adalah MI Salafiyah 02 Suradadi, yang sekarang namanya MI NU 02 Suradadi. Saya masuk MI sekitar usia 6 tahun, dan sebumnya saya belum pernah mengenyam pendidikan formal seperti TK atau Play grup, cukup kakak dan ibu yang mengajari saya. Di MI saya mendapat julukan kecil-kecil cabe rawit, baik guru maupun teman-teman memanggil saya dengan sebutan itu, dengan alasan saya yang memilki badan kecil, hiperaktif, terutama di dalam kelas, dan prestasi saya yang cukup baik, akademik maupun non-akademik.
Di MI saya diajari bermain rebana, yang awalnya hanya untuk pentas seni saat perpisahan sekolah. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas lima. Rebana kelompok saya pernah mewakili sekolah untuk mengikuti lomba rebana tingkat kecamatan. Kelihaian saya dalam memainkan rebana semakin baik karena jadi sering digunakan dalam acara-acara sekolah. Dan saya merasa punya potensi dalam hal ini. Selain rebana, saya juga merasa memiliki potensi dalam bidang seni tilawatil Qur’an. Saya sering mewakili sekolah maupun mewakili desa untuk mengikuti musabaqoh tilawatil Qur’an baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Meskipun sering gagal, saya tidak pernah menyerah.
Setelah lulus dari MI, saya melanjutkan sekolah saya ke MTs Al-Fatah Suradadi Tegal, yang tidak terlalu jauh dengan rumah. Selama di MTs, saya merasa prestasi saya semakin membaik, terutama di bidang akademik. Dari kelas tujuh sampai kelas sembilan saya selalu peringkat 2 atau 1 dan minimal peringkat ke-3 di kelas. Saya aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah, selama 2 tahun.  Kegiatan OSIS antara lain membantu tugas BP/BK dalam menertibkan peraturan di sekolah, baik masalah seragam maupun penertiban bagi siswa yang membawa hp. Selain aktif organisasi intra saya juga aktif di pramuka, pengalaman yang cukup berarti saya dapatkan dari sini. Setiap awal penerimaan siswa baru, kami mengadakan Perkemahan Sabtu Minggu (PERSAMI), dan selaku pengurus  pramuka saya dan pengurus lain bertugas menghandle semua acara yang di bimbing oleh guru pembimbing pramuka. Saya juga aktif di ekstra komputer, setiap hari jum’at saya berangkat. Di sini saya mulai benar-benar memahami komputer meski belum begitu lihai karena saya tidak memiliki komputer di rumah, jadi saya hanya mengandalkan komputer sekolah.
Selama sekolah di Madrasah Tsanawiyyah, untuk menambah kemampuan saya di bidang bahasa, saya mengikuti les Bahasa Inggris. Nilai Bahasa Inggris saya semakin membaik dan kemampuan berbahasa asing saya juga cukup baik. Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah, saya melanjutkan sekolah saya di Madrasah Aliyah Negeri Babakan dan saya tinggal di Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan-Tegal, yang cukup jauh bagi saya yang baru pertama kali merantau. Perjalanan dari rumah sampai pondok di tempuh sekitar dua jam.
Saat di MA sebenarnya saya ingin mengikuti ekstra PKS (Polisi Keamanan Sekolah), karena dibatasi peraturan yang ditetapkan oleh pondok, jadi saya tidak bisa mengikuti ekstra PKS. Kemudian saya mengikuti ekstra keagamaan yang sering disebut dengan istilah Rohis untuk sekolah lain. Di sini saya tidak begitu aktif karena dari awal saya memang kurang tertarik dengan ekstra ini.
Di MA, saya pernah dipilih mewakili sekolah untuk mengikuti Olympiade Fisika. Meski kurang beruntung karena saya hanya bisa masuk 12 besar dari 72 peserta, saya sangat senang bisa ikut berpartisipasi. Dari sini saya jadi punya Club Fisika, untuk tujuan mempersipkan olympiade yang selanjutnya. Kegiatan kami hanya membahas soal-soal Fisika dari tingkat mudah hingga rumit.
Ketrampilan yang menjadi hobi, itulah sebutan untuk hobi saya dalam menjahit. Saya sangat antusias ketika ada mesin jahit di hadapan saya. Saya cukup baik masalah mendesain dan menjahit. Saya mulai mengenal jahit menjahit sekitar tiga tahun yang lalu saat saya masih kelas sepuluh di Madrasah aliyah, karena menjahit merupakan salah satu program ketrampilan wajib di sekolah. Saya sudah mendesain beberapa rok dan mukenah yang hasilnya cukup memuaskan.
Di Pondok Pesantren tempat saya tinggal, saya diberi amanah untuk menjadi ketua Pondok. Amanah yang cukup berat bagi saya, dan saya harus bisa menjalankannya sebagai wujud ta’dzim saya terhadap pengasuh pondok. Saya selalu menganggap pondok adalah miniatur dari gambaran masyarakat yang asli, jadi ini semua saya anggap sebagai persiapan saya sebelum terjun secara langsung di masyarakat. Di sini saya saya harus selalu siap dalam segala kondisi, ibarat orang tua yang harus selalu tahu keadaan anak-anaknya.
Selain sekolah formal, di pondok juga mewajibkan semua santri untuk mengikuti Madrsah Diniyyah. Saya beruntung karena saya langsung masuk kelas empat. Sehingga, di MA saya lulus, Diniyyah pun lulus juga. Pada saat pengumuman kelulusan dan perpisahan Diniyyah saya lulus dengan predikat terbaik. Saya mendapat nilai terbaik untuk ujian Madrasah. Yang sangat saya sayangkan, saya tidak bisa menghadiri perpisahan karena saya harus mengurus regristrasi di IAIN Walisongo Semarang. Perjuangan tidak menutup Pengorbanan .
Untuk cita-cita, saat saya masih kecil, saya mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter karena dokter bisa menyembuhkan orang yang sakit. Saya juga pernah mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang pramugari, karena pramugari pakaiannya rapi dan cantik-cantik, benar-benar alasan anak kecil. Dan cita-cita saya sekarang adalah ingin menjadi penulis, karena dengan menulis sama halnya sedang mengamalkan ilmu kepada pembaca tanpa harus bertemu secara langsung.
Kemudian cita-cita yang sesuai dengan jurusan yang saya ambil sekarang adalah menjadi supervisi pendidikan, saya ingin menjadi kepala sekolah di Yayasan yang saya bangun sendiri, sehingga saya bisa membuat kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda dan tentunya lebih baik, yang saya harapkan bisa memberi contoh untuk sistem pendidikan di Indonesia. selain itu, saya juga ingin menjadi wirausahawan yang bergerak di bidang kuliner ataupun butik.
Usaha yang saya lakukan untuk cita-cita saya antara lain, sering membaca, berusaha menulis apa yang saya baca, sering membaca tulisan atau artikel orang untuk menambah kosakata untuk bahan menulis.  Usaha lain saya yaitu berusaha maksimal dalam kuliah, sering membaca kabar-kabar tentang pendidikan Indonesia maupun luar negeri, dan tidak lupa selalu berdo’a.karena berdo’a merupakan wujud kepasrahan seorang hamba kepada sang Pencipta setelah berusaha maksimal. Dan saya penulis sekarang menjalani study di IAIN Walisongo Semarang semester dua jurusan Kependidikan Islam, dengan predikat sebagai mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi IAIN walisongo Semarang angkatan 2013/2014.
Semarang, 19 Mei 2014

                                                                                     MA’RIFATUN















0 komentar:

Posting Komentar