SAYA DAN PERJALANAN
HIDUP SAYA
Nama saya Ma’rifatun, beberapa orang memanggil saya dengan
panggilan “Ma’”, panggilan yang cukup unik dan menggelitik, dan beberapa orang
yang lain memanggil saya Ma’rifah. Saya lahir di Tegal pada 7 juli 19 tahun
kurang 2 bulan yang lalu, tepatnya hari Jum’at pukul 11:00 WIB, dari pasangan
Suhari dan Sukini. Saya merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, saya
sangat bahagia berada di tengah-tengah mereka saudara yang selalu membuat saya
merasa menjadi orang yang paling beruntung. Kakak pertama saya laki-laki, kakak
kedua dan tiga perempuan, ketiga adik di bawah saya laki-laki, dan bungsu serta
kakaknya, keduanya perempuan. Saya memiliki saudara perempuan yang benar-benar
mirip dengan saya, dia kakak saya yang kedua. Hampir
semua orang menganggap kami kembar, padahal usia kami terpaut cukup jauh yakni
empat tahun lebih.
Karena saya terlahir di daerah pedesaan, masa kecil saya begitu
akrab dengan alam hijau, sungai yang mengalir, ombak laut yang
menggulung-gulung, hamparan sawah dari hijau yang kian menguning. Hobi saya adalah
renang. Saya sangat suka berenang karena hampir setiap minggu saya pergi ke pantai
bersama teman sebaya untuk berenang meski di laut. Selain itu, saya juga
mempunyai hobi bermain badminton, saya merasa mempunyai potensi dalam hal ini.
Beberapa kali saya berhasil mengalahkan lawan main saya.
Saya tinggal di daerah pantai sehingga matapencaharian mayoritas di
desa saya adalah nelayan, tidak terkecuali ayah saya, beliau juga bekerja
sebagai nelayan. Pertama kali ayah merantau jauh adalah ke Bali dan keluarga
kami sempat tinggal di Bali selama beberapa tahun, sekitar tahun 1993-1998 M.
Karena tuntutan kebutuhan yang terus
bertambah, sekarang ayah bekerja sebagai nelayan di luar negeri. Keinginan saya
dari dahulu hingga sekarang adalah menjemput ayah agar ayah tidak bekerja jauh
lagi dari kami. Ayah merupakan pahlawan terbaik dan terhebat kami. Ibu saya seorang
ibu rumah tangga dan terkadang ibu pergi ka sawah untuk mengurus sawah kami. Wanita
yang paling saya sayangi di dunia ini adalah ibu, wanita yang begitu sabar
dalam mengurus kami.
Pendidikan
pertama saya adalah MI Salafiyah 02 Suradadi, yang sekarang namanya MI NU 02
Suradadi. Saya masuk MI sekitar usia 6 tahun, dan sebumnya saya belum pernah
mengenyam pendidikan formal seperti TK atau Play grup, cukup kakak dan ibu yang
mengajari saya. Di MI saya mendapat julukan kecil-kecil cabe rawit, baik guru
maupun teman-teman memanggil saya dengan sebutan itu, dengan alasan saya yang
memilki badan kecil, hiperaktif, terutama di dalam kelas, dan prestasi saya yang
cukup baik, akademik maupun non-akademik.
Di MI saya
diajari bermain rebana, yang awalnya hanya untuk pentas seni saat perpisahan
sekolah. Saat itu saya masih
duduk di bangku kelas lima. Rebana kelompok saya pernah mewakili sekolah untuk
mengikuti lomba rebana tingkat kecamatan. Kelihaian saya dalam memainkan rebana
semakin baik karena jadi sering digunakan dalam acara-acara sekolah. Dan saya
merasa punya potensi dalam hal ini. Selain rebana, saya juga merasa memiliki
potensi dalam bidang seni tilawatil Qur’an. Saya sering mewakili sekolah maupun
mewakili desa untuk mengikuti musabaqoh tilawatil Qur’an baik tingkat kecamatan
maupun kabupaten. Meskipun sering gagal, saya tidak pernah menyerah.
Setelah lulus dari MI, saya melanjutkan sekolah saya ke MTs
Al-Fatah Suradadi Tegal, yang tidak terlalu jauh dengan rumah. Selama di MTs,
saya merasa prestasi saya semakin membaik, terutama di bidang akademik. Dari
kelas tujuh sampai kelas sembilan saya selalu peringkat 2 atau 1 dan minimal
peringkat ke-3 di kelas. Saya aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah, selama 2
tahun. Kegiatan OSIS antara lain
membantu tugas BP/BK dalam menertibkan peraturan di sekolah, baik masalah
seragam maupun penertiban bagi siswa yang membawa hp. Selain aktif organisasi
intra saya juga aktif di pramuka, pengalaman yang cukup berarti saya dapatkan
dari sini. Setiap awal penerimaan siswa baru, kami mengadakan Perkemahan Sabtu Minggu
(PERSAMI), dan selaku pengurus pramuka saya
dan pengurus lain bertugas menghandle semua acara yang di bimbing oleh
guru pembimbing pramuka. Saya juga aktif di ekstra komputer, setiap hari jum’at
saya berangkat. Di sini saya mulai benar-benar memahami komputer meski belum
begitu lihai karena saya tidak memiliki komputer di rumah, jadi saya hanya
mengandalkan komputer sekolah.
Selama sekolah di Madrasah Tsanawiyyah, untuk menambah kemampuan
saya di bidang bahasa, saya mengikuti les Bahasa Inggris. Nilai Bahasa
Inggris saya semakin membaik dan kemampuan berbahasa asing saya juga
cukup baik. Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah, saya melanjutkan sekolah
saya di Madrasah Aliyah Negeri Babakan dan saya tinggal di Pondok Pesantren Ma’hadut
Tholabah Babakan-Tegal, yang cukup jauh bagi saya yang baru pertama kali
merantau. Perjalanan dari rumah sampai pondok di tempuh sekitar dua jam.
Saat di MA sebenarnya
saya ingin mengikuti ekstra PKS (Polisi Keamanan Sekolah), karena dibatasi
peraturan yang ditetapkan oleh pondok, jadi saya tidak bisa mengikuti ekstra
PKS. Kemudian saya mengikuti ekstra keagamaan yang sering disebut dengan
istilah Rohis untuk sekolah lain. Di sini saya tidak begitu aktif karena dari
awal saya memang kurang tertarik dengan ekstra ini.
Di MA, saya
pernah dipilih mewakili sekolah untuk mengikuti Olympiade Fisika. Meski kurang
beruntung karena saya hanya bisa masuk 12 besar dari 72 peserta, saya sangat
senang bisa ikut berpartisipasi. Dari sini saya jadi punya Club Fisika, untuk
tujuan mempersipkan olympiade yang selanjutnya. Kegiatan kami hanya membahas
soal-soal Fisika dari tingkat mudah hingga rumit.
Ketrampilan
yang menjadi hobi, itulah sebutan untuk hobi saya dalam menjahit. Saya sangat antusias ketika ada mesin jahit di hadapan saya. Saya
cukup baik masalah mendesain dan menjahit. Saya mulai mengenal jahit menjahit
sekitar tiga tahun yang lalu saat saya masih kelas sepuluh di Madrasah aliyah,
karena menjahit merupakan salah satu program ketrampilan wajib di sekolah. Saya
sudah mendesain beberapa rok dan mukenah yang hasilnya cukup memuaskan.
Di Pondok
Pesantren tempat saya tinggal, saya diberi amanah untuk menjadi ketua Pondok.
Amanah yang cukup berat bagi saya, dan saya harus bisa menjalankannya sebagai
wujud ta’dzim saya terhadap pengasuh pondok. Saya selalu menganggap
pondok adalah miniatur dari gambaran masyarakat yang asli, jadi ini semua saya
anggap sebagai persiapan saya sebelum terjun secara langsung di masyarakat. Di
sini saya saya harus selalu siap dalam segala kondisi, ibarat orang tua yang
harus selalu tahu keadaan anak-anaknya.
Selain
sekolah formal, di pondok juga mewajibkan semua santri untuk mengikuti Madrsah
Diniyyah. Saya beruntung karena saya langsung masuk kelas empat. Sehingga, di MA saya lulus, Diniyyah pun
lulus juga. Pada saat pengumuman kelulusan dan perpisahan Diniyyah saya
lulus dengan predikat terbaik. Saya mendapat nilai terbaik untuk ujian
Madrasah. Yang sangat saya sayangkan, saya tidak bisa menghadiri perpisahan
karena saya harus mengurus regristrasi di IAIN Walisongo Semarang. Perjuangan tidak menutup Pengorbanan .
Untuk cita-cita, saat saya masih kecil, saya mempunyai cita-cita
ingin menjadi dokter karena dokter bisa menyembuhkan orang yang sakit. Saya
juga pernah mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang
pramugari, karena pramugari pakaiannya rapi dan cantik-cantik, benar-benar
alasan anak kecil. Dan cita-cita saya sekarang adalah ingin menjadi penulis, karena dengan
menulis sama halnya sedang mengamalkan ilmu kepada pembaca tanpa harus bertemu
secara langsung.
Kemudian
cita-cita yang sesuai dengan jurusan yang saya ambil sekarang adalah menjadi
supervisi pendidikan, saya ingin menjadi kepala sekolah di Yayasan yang saya
bangun sendiri, sehingga saya bisa membuat kurikulum dan sistem pendidikan yang
berbeda dan tentunya lebih baik, yang saya harapkan bisa memberi contoh untuk
sistem pendidikan di Indonesia. selain itu, saya juga ingin menjadi
wirausahawan yang bergerak di bidang kuliner ataupun butik.
Usaha yang
saya lakukan untuk cita-cita saya antara lain, sering membaca, berusaha menulis
apa yang saya baca, sering membaca tulisan atau artikel orang untuk menambah
kosakata untuk bahan menulis. Usaha lain
saya yaitu berusaha maksimal dalam kuliah, sering membaca
kabar-kabar tentang pendidikan Indonesia maupun luar negeri, dan tidak lupa selalu berdo’a.karena berdo’a
merupakan wujud kepasrahan seorang hamba kepada sang Pencipta setelah berusaha
maksimal. Dan saya penulis sekarang menjalani
study di IAIN Walisongo Semarang semester dua jurusan
Kependidikan Islam, dengan predikat sebagai mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi IAIN walisongo Semarang angkatan 2013/2014.
Semarang, 19 Mei 2014
MA’RIFATUN
0 komentar:
Posting Komentar