Pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang
dirintis oleh para Walisongo. Pada awal pembentukannya, fokus dari lembaga
pendidikan Peasntren hanya pada pendidikan agama saja tanpa sedikit pun
menyentuh ilmu umum. Pada masa itu, pesantren menjadi center pendidikan yang
cukup berpegaruh karena mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam.
Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan pesantren dipandang secara
sebelah mata karena pelaksanaannya yang begitu tradisional dan sangat tertutup
terhadap budaya baru yang masuk khususnya budaya Barat. Kolonial Belanda
menganggap pendidikan pesantren tidak penting. Disisi lain pendidikan pesantren
yang didalangi oleh para Ulama menjadi ketakutan tersendiri bagi kolonial
Belanda yang datang untuk misi Kristenisasi. Belanda takut pendidikan Pesantren
akan semakin berkembang karena mayoritas Indonesia yang Islam tersebut, dan
mememungkinan kebangkitan pribumi akibat terjadinya peperangan antara Jepang
melawan Rusia yang dimenangkan oleh Jepang.
Pendidikan Islam mengalami perubahan kebijakan secara terus menerus
yang merupakan salah satu upaya Belanda dalam menghambat perkembangan
pendidikan Islam di Indonesia, yang disini sebenarnya lebih condong pada
pendidikan Pesantren. Salah satu kebijakan yang paling jelas bahwa Belanda
tidak ingin pendidikan Pesantren berkembang, yaitu kebijakan pada Tahun 1932
dikeluarkan peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah
yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh
pemerintah, yang disebut dengan Undang-undang sekolah liar (wild school ordonantie) (Haidar Putra Daulay:
2009). Namun semua usaha itu terlihat sis-sia karena pendidikan Pesantren masih
tetap berjalan meski memang tidak selancar sebelum datangnya Belanda, semua
berkat usaha Ulama yang sangat keras untuk tetap mengoperasikan pendidikan
Pesantren meski tanpa izin dari pemerintah Belanda.
Pendidikan Pesantren dari masa ke masa terus mengalami kemajuan
dalam segala bidang. Dapat kita lihat pesantren sekarang yang sudah begitu
modern, banyak pesantren yang menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab sebagai
bahasa keseharian. Dan pengajarannya juga tidak hanya fokus pada ilmu agama
saja, tapi juga memasukan pendidikan umum sebagai materi pengajaran di
Pesantren.
0 komentar:
Posting Komentar